Metro Pekalongan

Senantiasa Menjaga Kondisi Jalan Mantap di Sepanjang Pantura

Senantiasa Menjaga Kondisi Jalan Mantap di Sepanjang Pantura

KONDISI MANTAP – Kondisi jalan di Jalur Pantura dituntut selalu memiliki kondisi yang baik dan layak agar tetap berfungsi secara optimal melayani arus lalu lintas.
M. AINUL ATHO’

PEKALONGAN – Sebagai salah satu ruas jalan dengan lalu lintas paling aktif di Jawa Tengah, ruas Jalur Pantura dari Pemalang hingga Batang menjadi penopang utama lalu lintas masyarakat maupun jalur distribusi barang dari dan menuju kota-kota tujuan, baik di wilayah timur maupun barat Pulau Jawa. Ruas Jalur Pantura sepanjang 96,69 kilometer dituntut memiliki kondisi yang baik dan layak agar tetap berfungsi secara optimal melayani lalu lintas, juga agar umur rencana yang ditetapkan dapat tercapai.

Guna mewujudkannya, Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) senantiasa melakukan pemeliharaan dan perawatan jalan dengan berbagai metode sesuai dengan tingkat kondisi jalan. Namun tingginya beban Jalur Pantura, menjadikan tugas untuk terus menjamin kondisi terbaik di ruas jalan tersebut menjadi tugas yang tak mudah.

Untuk itu sejak 2016 lalu, Kementrian PUPR menerapkan program Long Segment dalam melakukan preservasi jalan dengan membagi pemelirahaan dan perawatan jalan dalam batasan satu panjang segmen yang menerus (bisa lebih dari satu ruas). Metode tersebut dilaksanakan dengan tujuan untuk mendapatkan kondisi jalan yang seragam yaitu jalan mantap dan standar sepanjang segmen. Ruang lingkup pekerjaan Long Segment terdiri dari pelebaran jalan (menuju standar), rekonstruksi jalan, rehabilitasi jalan, pemeliharaan preventif jalan, pemeliharaan rutin jalan, dan pemeliharaan rutin jembatan.

Kepala TU PPK Pemalang-Pekalongan-Batang-Plelen Satker PJN1 Jateng, Ditjen Bina Marga Kementrian PUPR, Januar F Rinaldhi menjelaskan, dalam dua tahun terakhir Kementrian PUPR sudah mampu mewujudkan dan menjaga kondisi jalan di Jalur Pantura yang mantap atau dalam kondisi baik dan sedang. “Kondisi mantap saat ini mencapai 95 persen,” ungkapnya kepada Radar Pekalongan.

Saat ini yang masih menjadi fokus untuk dilakukan perbaikan dan pemeliharaan adalah ruas jalan di wilayah Subah, Kabupaten Batang. Jalan di titik tersebut saat ini dalam kondisi bergelombang dan tidak rata. Januar menyatakan, pihaknya masih melakukan pemeliharaan rutin transisi dengan tambal sulam untuk mengembalikan kondisi jalan agar kembali optimal.

Demi menjaga keberlangsungan kondisi jalan yang mantap, preservasi memang harus terus menerus yang dilakukan. Langkah tersebut merupakan bagian dari pemeliharaan tiap tahun demi mempertahankan umur rencana jalan. “Kami terus melakukan pemeliharaan tiap tahun. Karena jalan kalo tidak dipelihara lama kelamaan akan fatique atau mencapai lelah dan akibatnya umur rencana akan berkurang,” jelas Januar.

Apalagi menurut Januar, beban Jalur Pantura begitu berat karena banyaknya kendaraan dengan tonase luar biasa yang melintas. “Bisa dibayangkan, dengan beban Jalur Pantura yang begitu berat, tonase kendaraan yang luar biasa, akan sangat tidak mungkin jalan itu tidak kami pelihara atau kami rawat. Ibarat kendaraaan apabila tidak dirawat rutin seperti servis atau ganti oli pasti akan cepat rusak,” katanya.

Kondisi beban berat di Jalur Pantura, dikatakan Januar memang menjadi salah satu kendala yang dihadapi dalam rangka menjaga kondisi jalan yang mantap. Berdasarkan pantauan yang dilakukan, Januar menyatakan bahwa sebanyak 70 persen truk yang melintas di jalur Pantura membawa muatan yang berlebih atau overload.

Sehingga ia menilai, mewujudkan jalan dalam kondisi mantap tak bisa dilakukan secara parsial oleh satu pihak saja melainkan harus dijaga bersama. Keberadaan jembatan timbang di jalur Pantura dinilainya menjadi solusi lain untuk mendukung perwujudan kondisi jalan yang baik. Keberadaan jembatan timbang dapat turut memastikan bahwa beban truk yang melintas harus sesuai kapasitas. “Solusinya dengan diberlakukannya atau diaktifkannya jembatan timbang yang dilengkapi dengan gudang yang besar untuk penampungan barang bagi kendaraan yang melebihi batas muatan. Namun penerapannya juga harus disertai dengan sanksi dan punishment agar efektif menjaga tonase truk sesuai dengan kapasitasnya. (adv)

Penulis: M Dhia Thufail | Radar Pekalongan
Redaktur: Akhmad Saefudin

Facebook Comments