Metro Pekalongan

Piye Kiye, Kota Pekalongan Ternyata Masuk Zona Merah

Suroso MPd

WAWANCARA – Kepala Dindik Kota Pekalongan Suroso MPd saat diwawancarai wartawan Radar Pekalongan, kemarin.
MALEKHA

Penanganan Buta Aksara

Ssstttt, tahun 2018 ini ternyata Pemerintah Kota Pekalongan berada di zona merah. Artinya Pemkot sudah diingatkan untuk serius dan diberikan anggaran khusus untuk menuntaskan buta aksara agar tidak bertambah jumlah buta aksara.

Hal itu dibenarkan Kepala Dindik Kota Pekalongan Suroso MPd Jumat (7/9). “Sebelumnya kita biasa saja ya. Namun sekarang kita serius untuk menangani. Meskipun mungkin berjalannya agak kesulitan karena rata-rata yang buta aksara adalah usia 50 tahun ke atas, jadi mereka sudah memiliki kehidupan dan kesibukan sendiri, tidak seperti usia sekolah. Tapi kita akan berusaha jemput bola,” tuturnya.

Melihat kondisi di lapangan, pria yang akrab disapa Roso ini mengaku tak mempunyai target muluk tuntas dalam satu kali periode program. Karena standar program adalah membutuhkan waktu 6 bulan. Kota Pekalongan baru melaksanakan bulan depan, hanya mempunyai waktu 3 bulan.

“Tahun ini kita targetkan 80 orang dari 162 orang terbebas dari buta aksara,” tandas Roso.

Diakui, cukup sulit menuntaskan buta aksara hingga 0 persen. Karena angka fluktuatif dengan seiring berkembanganya penduduk. “Meski begitu kami tentu akan terus berupaya sebaik mungkin untuk mengurangi jumlah penyandang butane aksara, ” jelasnya.

Dijelaskan Roso, komitmen menuntaskan buta aksara di Kota Pekalongan, Pemerintah Kota Pekalongan melalui Dinas Pendidikan Kota Pekalongan mengupayakan dengan serius berbagai strategi untuk menuntaskan buta aksara. Salah satunya adalah menyiapkan relawan tutor untuk mengajar di rumah masing-masih warga jika dibutuhkan. Strategi tersebut digunakan jika memamg dibutuhkan. Setelah melalui evaluasi program utama yang belum mendapatkan hasil yang maksimal.

“Kita ada program melek aksara yang nantinya akan kita bagi menjadi 2 tempat yang berbeda,” jelas Roso sapaan akrabnya.

Diungkapkan, tahun 2018 ada 162 orang yang menjadi sasaran Dindik untuk melakukan program penuntasan buta akasar. Range usia ke 162 orang tersebut adalah antara usia 15-59 tahun dengan dominasi penyandang buta aksara yaitu di atas 50 tahun.

“Dari 162 orang nanti kita akan bagi menjadi 2 kelompok belajar. Yaitu di Tondano ada 15 orang yang diisi penyandang buta aksara berasal dari daerah Noyontaan, Setono, Poncol. Sedangkan 45 orang ditempatkan di TK Jetayu yang berasal dari daerah Degayu, Bandengan, Kandangpanjang Serta Panjangbaru,” ucapnya.

Jumlah ini sempat simpang siur, lantaran data yang berbeda yang bersumber dari BPS yaitu sebanyak 900 orang. Namun setelah ditelusuri ternyata yang potensial saat ini ada 162 orang.

“Nah itu, karena kita kan punya kriteria sendiri-sendiri ya. Begitu juga dengan BPS. Tapi kita coba telusuri lagi dapat angka 162 orang,” jelas Roso. (mal)

Facebook Comments