Radar Tegal

Harga Kedelai Tak Terkendali, Perajin Tahu Meradang

Harga Kedelai Tak Terkendali, Perajin Tahu Meradang

TAHU – Seorang pekerja tengah membuat tahu
ILUSTRASI

SLAWI – Kegelisahan perajin tahu yang terpusat di sentra perajin Desa Pesalakan, Kecamatan Adiwerna makin memuncak. Hal ini seiring dengan kian tak terkendalinya harga dasar kedelai di pasaran dampak dari anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar.

Perajin yang banyak mengandalkan kedelai impor harus kembali dihadapkan dengan harga yang kian merangkak naik dari semula Rp 7.300 per kilogramnya kini menjadi Rp 7.500 perkilogramnya.

Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) Berkah Lestari yang merupakan paguyuban perajin tahu Pedukuhan Pesalakan, Adiwerna Samiun tak menampik kegusaran perajin tahu yang dipimpinnya.

“Harga kedelai setiap hari cenderung naik dari standar Rp 6.700 perkilo gram, menjadi Rp 7.300 perkilogram dan detik ini sudah di angka Rp 7.500 perkilogram. Banyak perajin yang tak berdaya dengan kenaikan harga bahan dasar tahu tersebut,” ujarnya, kemarin.

Menurutnya, sebagian besar perajin kini hanya bisa pasrah atas kenaikan harga kedelai tersebut. Mereka bingung hendak mengadu kepada siapa.

Samiun mengakui, upaya untuk mencari solusi menekan harga kedelai belum terpecahkan. Makin tak terkendalinya harga kedelai yang menjadi bahan dasar pembuatan tahu, membuat sebagian besar perajin di sentra Desa Pesalakan, Adiwerna mulai berburu kedelai kawak atau kedelai tua.

Namun harga kedelai tersebut juga masih tergolong tinggi.
“Pembeli tidak mau bila harga dinaikkan dan ukuran tahu diperkecil. Sebagian perajin saat ini memilih bertahan untuk memenuhi permintaan pelanggan saja,”terangnya.

Keluhan yang sama juga dialami perajin yang bergantung dari sektor usaha tahu rumahan. Tak sedikit dari perajin yang harus berhenti sementara dari kegiatan produksi. Dan yang memilih bertahan dipaksa harus mengurangi jumlah produksi.

Salah satu perajin tahu, Wiryanti,38, warga Pedukuhan Pesalakan RT 25,RW 04 mengaku setiap harinya, untuk memproduksi tahu dirinya menghabiskan kedelai sebanyak 60 kilogram.

“Harga kedelai impor sekarang sudah cukup tinggi. Saya harus mengurangi pembelian kedelai, dan memperkecil produksi tahu per satuannya. Cetakan per satuan untuk harga Rp 300 dan Rp 200 saya perbanyak agar produk bisa tetap laku di pasaran,”tambah dia.

Dengan terus merangkaknya harga kedelai, kian tak terkejar oleh sedikitnya 260 perajin yang bergantung hidupnya dari usaha pembuatan tahu. (her/ima)

Facebook Comments