Radar Kajen

Begini Kisah Pilu Bocah yang Kemaluanya Terpotong Mantri Sunat

Bocah Kemaluan Terpotong

DIRAWAT – Bocah berinisial MII (9), asal Kecamatan Karangdadap, Kabupaten Pekalongan, saat dirawat di RSI Pekajangan, beberapa hari lalu.
MUHAMMAD HADIYAN

Kisah tragis yang menimpa, anak berinisial MII, seorang bocah berusia 9 tahun di Kabupaten Pekalongan yang terpotong kemaluannya oleh mantri sunat, menyisakan pilu di pihak keluarga. Seperti apa? M Hadiyan, Karangdadap

Kemaluan MII, bocah asal desa di Kecamatan Karangdadap itu terpotong saat dikhitan oleh mantri sunat dengan menggunakan alat potong laser. Meskipun dilarikan ke rumah sakit, bagian dari alat kemaluan korban ini tidak bisa disambung lagi.

Pihak keluarga menyesalkan kondisi tersebut. Mereka khawatir, kejadian ini dapat mempengaruhi psikologis MII di kemudian hari. Pihak keluarga pun melaporkan kejadian dugaan malpraktik tersebut kepada pihak kepolisian.

RZ (50), salah satu paman MII, saat ditemui di rumah korban, menceritakan, saat ini MII sudah dipulangkan dari rumah sakit. Meski demikian rawat jalan harus rutin dilakukan pasca kejadian Kamis malam (30/8) lalu.

Ia menceritakan, pada malam itu, korban tengah dikhitan oleh mantri asal Doro, berinisial B (60). Awalnya, mantri meminta MII untuk berbaring di atas ranjang yang berada di dalam kamar dengan mengenakan sarung. Kemudian, mantri itu menghubungkan alat bantu khitasn (laser) yang dihubungkan ke listrik.

“Setelah alat siap, mantri membuka kulit ujung kemaluan MII ke atas dan menjepitnya menggunakan gunting penjepit dengan tangan kiri. Sedangkan tangan kanannya memegang alat potong laser,” kata dia.

Pada saat proses khitan itu, korban menangis dan merangkul ayahnya TH (61). Sang ayah pun memberitahu mantri itu bahwa MII masih merasa kesakitan, tetapi mantri hanya diam dan meneruskan proses khitan tersebut. “Setelah ujung kemaluan terpotong, tersangka atau mantri itu mencari bagian kepala kemaluan untuk dilakukan penjahitan. Namun, potongan itu tidak kunjung ditemukan,” kata RZ.

Sang ayah pun merasa curiga waktu itu, jika kepala kemaluan ikut terpotong. Hingga akhirnya TH sendiri yang menemukan potongan tersebut.

“Akhirnya MII dilarikan ke RSI. Kini sudah pulang dan tinggal di rumah neneknya. Namun tetap harus kontrol,” lanjut RZ yang didampingi kepala dusun setempat.

RZ mengaku, pihak keluarga sangat terpukul dengan kondisi ini. Keluarga khawatir, kejadian ini mengganggu kondisi psikologis MII di kemudian hari. “Saat ini, anak itu belum tahu. Kalau tahu, kami takutnya MII depresi. Kami berharap, upaya medis yang dilakukan dapat membuat kondisi MII normal kembali,” tandasnya.

Sementara, H, seorang kepala dusun setempat, mengatakan, MII merupakan anak yang mudah bergaul dan ceria. “MII itu anaknya ceria, mudah bergaul. Bahkan tergolong aktif. Semoga kejadian ini, tidak membuat menurunkan semangat MII, khususnya untuk sekolah,” ungkap H. (*)

Facebook Comments