Renungan Jum'at

Tafsir Al-Fatihah

KH Anang Rikza Masyhadi MA, Pengasuh Pondok Modern Tazakka Batang Jawa Tengah

KH Anang Rikza Masyhadi MA, Pengasuh Pondok Modern Tazakka Batang Jawa Tengah

(Bagian 1 dari 5)

Dinamakan dengan Al-Fatihah karena ia merupakan pembuka surat-surat dalam Al-Quran (Faatihah = pembuka). Juga karena ia menjadi pembuka setiap rakaat shalat. Dan shalat tanpa Al-Fatihah tidak sah, sebagaimana Hadis Nabi: “Tidak sah shalat seseorang tanpa Al-Fatihah”. Memang, tidak ada satu pun shalat baik itu wajib maupun sunnah yang tidak terdapat Al-Fatihah di dalamnya.

Salah satu keutamaan surat Al-Fatihah adalah ia bisa menjadi wasilah dikabulkannya doa-doa kita. Maka, seringkali kita saksikan para ulama saat berdoa diawali atau ditutup dengan Al-Fatihah. Al-Fatihah artinya pembuka, sering pula dipahami sebagai pembuka pintu-pintu langit sehingga doa-doa kita dikabulkan Allah SWT.

Ada lima keadaan seorang hamba yang digambarkan dalam Al-Fatihah: Beribadah; memohon pertolongan; memohon petunjuk/ hidayah; memohon ketetapan hati/ istiqomah; dan memohon diberi nikmat.

Terkait dengan basmalah dalam Al-Fatihah: termasuk ayat atau bukan? Para ulama berbeda pendapat mengenai apakah ‘basmalah’ termasuk ayat dalam Al-Fatihah atau bukan. Imam Syafii berpendapat bahwa basmalah termasuk ayat dalam Al-Fatihah. Maka, berdasarkan pandangan ini shalat tidak sah jika tidak membaca basmalah dalam Al-Fatihah.

Sedangkan Imam Malik, Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad bin Hambal mengatakan basmalah bukan termasuk ayat. Maka, shalatnya tetap sah. Itulah pendapat para Imam Madzhab, yang sudah dibahas sejak kurang lebih 12 abad lalu. Sehingga kita tidak perlu lagi bersitegang memperdebatkannya hingga menimbulkan perselisihan.

Ada lagi pendapat ketiga yaitu membaca basmalah tapi dengan suara lirih (sirr), bukan dengan suara terang/ jelas (jahr). Jadi, tetap dibaca tetapi tidak mengeluarkan suara.

Mengapa Al-Fatihah diawali dengan Basmalah? Jika kita membuka Al-Quran, maka surat pertama yang kita temui adalah Al-Fatihah. Dan pada saat kita membuka Al-Fatihah, maka yang pertama kita jumpai adalah basmalah.

Melalui basmalah itu, Allah sedang memperkenalkan Diri-Nya kepada kita. Dan di situ, Allah Mengenalkan Diri-Nya sebagai ‘Ar-Rahman & Ar-Rahim’: Yang Maha Pengasih & Maha Penyayang.

Artinya, kesan pertama yang mestinya melekat pada diri kita tentang Allah adalah sisi Kasih Sayang-Nya. Meskipun Allah punya Nama dan Sifat-sifat yang lainnya.

Dengan kata lain, sebelum kita menjelajah semua isi Al-Quran sebagai kalamulLaah, maka mindset yang terbangun dalam pikiran dan hati kita adalah bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Maka, setelah membaca Al-Quran mestinya hati menjadi lembut. Jika ada orang membaca Al-Quran tetapi masih keras hatinya, maka kemungkinan besar ia termasuk yang gagal paham. Sebab, mestinya orang setelah membaca Al-Quran menjadi lembut hatinya.

Selanjutnya adalah perintah bersyukur. Al-Quran dibuka dengan surat Al-Fatihah. Dan surat Al-Fatihah dibuka dengan hamdalah, sebagai ungkapan tentang kesyukuran kepada Allah, Tuhan semesta alam.

Bersyukur adalah suatu perintah yang berlaku di dunia maupun di akhirat. Padahal, umumnya perintah-perintah Allah yang lain hanya berlaku di dunia saja: shalat, puasa, zakat, haji, nikah dan lain sebagainya.

Demikianlah pentingnya bersyukur. Dan karena itulah ia diletakkan di awal Al-Quran. Seolah, sebelum membahas macam-macam hal, Allah ingin kita terlebih dahulu membahas dan melakukan bersyukur kepada-Nya. Meskipun, oleh Allah disinyalir bahwa hamba-hamba Allah yang mau bersyukur jumlahnya sedikit.

Dalam sebuah Hadisnya, Rasulullah SAW mengatakan bahwa orang yang pertama kali akan dipanggil masuk ke surga adalah orang yang selalu memuji-Nya. Memuji-Nya hakekatnya adalah menyapa-Nya. Maka, seorang hamba yang sedang bertahmid seolah dia sedang menyapa Allah.

Dalam Hadis lain juga ditegaskan bahwa Allah senang jika dipuji atau disapa. Sebagai ilustrasi, bagaimana perasaan orang tua atau guru yang anak atau muridnya diam membisu tak pernah menyapanya? Tentu, tidak senang, karena bisa dianggap meremehkannya.

Di sisi lain, mengapa kita harus selalu memuji-Nya, karena kita hidup dalam curahan nikmat dan rahmat-Nya. Dan nikmat Allah atas kita tak bisa dihitung atau diukur. Maka, memuji-Nya atau bertahmid adalah salah satu ekspresi syukur kepada-Nya.

Dan karena itulah pujian sebagai ekspresi syukur yang tercermin dalam kalimat: “AlhamdulilLaahi Robbil ‘alamin” diletakkan di awal Al-Quran. (bersambung)

Facebook Comments