Nasional

Nilai Tukar Rupiah Ambruk, Harga Kedelai Naik, Mendag Mengaku Tidak Tahu

Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita. (Fin)

JAKARTA, – Anjloknya nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), terus memberikan tekanan kepada produk-produk impor yang masuk kedalam negeri. Salah satunya adalah kedelai, dimana komoditas tersebut menjadi bahan baku pembuatan tempe.

Dengan melonjaknya harga kedelai dipasaran, memberi dampak pada produksi tempe di dalam negeri semakin menipis. Bahkan, para pelaku industri terpaksa mengecilkan ukuran guna menahan kenaikan harga tempe.

Menanggapi hal itu, Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita berjanji menindaklanjuti isu tersebut dan akan menanyakan langsung kepada importir.

“Saya belum update apakah benar kenaikan seperti itu, saya akan telepon mereka (Importir), naikkan berapa, dan apa dasarnya,” kata Enggar Mendag di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, seperti dikutip dari laman Fin.co.id.

Enggar mengaku kaget terkait munculnya isu kenaikan harga tempe. Sebab dirinya belum mengetahui sama sekali atas informasi tersebut. Disisi lain, dia akan memanggil para distributor dan importir untuk menanyakan kebenaran isu kenaikan harga ini.

“Para distributor dan importir mereka sudah berjanji untuk tidak seenaknya menaikkan dengan pendekatan nilai kurs. Karena dia tahu marketnya dia adalah pedagang tahu tempe,” ungkapnya

Enggar menjelaskan bahwa, pemerintah sendiri sebenarnya telah melakukan kerja sama dengan Amerika Serikat untuk menetapkan harga kedelai pada range tertentu meskipun Rupiah melemah.

“Di satu sisi karena kenaikan nilai tukar mengakibatkan jatuhnya Rupiah. Tetapi, di sisi lain, harga kedelainya karena dia terbatas marketnya dia (harga tahu tempe) turun,” pungkasnya. (ds/fin)

Facebook Comments