Radar Batang

Gara-gara Dolar, Perajin Tahu Pilih Perkecil Ukuran Tahu

Dolar Naik, Perajin Tahu Pilih Perkecil Ukuran Tahu

TAHU – Seorang pekerja tengah membuat tahu. Akibat kenaikan dolar, harga bahan baku tahu, yaitu kedelai ikut naik.
M DHIA THUFAIL

BATANG – Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus melemah. Tercatat, Rabu (5/9) kemarin nilai tukar Rupiah tembus di angka Rp 15.002 per US dollar. Fluktuasi itu berdampak pada harga kedelai di sejumlah daerah di tanah air yang saat ini terus merangkak seiring melemahnya kurs rupiah terhadap dollar.

Akibatnya, banyak pengrajin tempe dan tahu yang menggunakan kedelai sebagai bahan pokok mulai kelimpungan. Tren kenaikan terus mengikuti pergerakan nilai tukar rupiah, hingga bisa setiap jam berubah harganya. Ini tak lepas dari komoditas kedelai yang sejauh ini masih sangat bergantung pada impor.

Seperti yang terjadi di Kabupaten Batang, harga kedelai terus bergerak naik. Terlihat di Pasar Tradisional Limpung, jika awal bulan Agustus lalu harganya masih di kisaran Rp 7.200 hingga Rp7.300 per kilogram, saat ini sudah mencapai Rp7.500 sampai Rp 7600 per kilogramnya.

Hal itu membuat para pengrajin tahu dan tempe kebingungan. Mereka tidak bisa serta merta menaikkan harga jual produknya seiring kenaikan harga kedelai import, lantaran daya beli masyarakat juga tidak ikut naik.

“Kenaikan harga tersebut membuat resah para perajin di Batang. Sebagai jalan tengahnya kita mengurangi ukuran tempe dan tahu yang dijual,” ungkap Karjo, pengrajin tempe Desa Kalibalik, Kecamatan Limpung.

Sementara itu, Triyono, satu diantara pedagang kedelai impor dari Amerika Serikat saat ditemui di Pasar Tradisional Limpung mengaku, bahwa saat ini penjualan makin lesu. Penjualan menurun antara 40 sampai 50 persen.

“Semisal biasanya bisa menghabiskan 1 ton perhariny, maka saat ini hanya bisa terjual 5 kwintal saja, dan terkadang juga kalau pas lagi ramai ya bisa mencapai 7 kwintal. Tren tersebut disebabkan lantaran semakin terpuruknya nilai tukar rupaih terhadap mata uang jenis dolar Amerika.

Senada dirasakan Gerjito (70), pemilik industri tahu di Kebonan Rt 2 Rw 4 Kelurahan Proyonanggan Utara, Kecamatan Batang. Ia mengatakan, harga bahan baku kedelai merangkak naik, dari sebelumnya Rp 6.800 dan kini menjadi Rp 7.400 perkilogramnya.

“Memang kenaikan tidak signifikan, namun kami memerlukan 2 kwintal kedelai perhari untuk membuat tahu, kalau dihitung kami harus mengeluarkan uang lebih sekitar Rp 120 ribu setiap harinya untuk proses produksi,” katanya.

Gerjito mengaku, tak menurunkan harga jual tahu ataupun memperkecil ukuran produknya. Pasalnya, jika ia melakukan hal tersebut, para pembeli akan mengeluh. “Mau bagaimana lagi, kalau saya naikan harga pasti pembeli mengeluh. Jadi ya tetap saya jual dengan harga normal diangka Rp54 ribu perkotak besar,” paparnya.

Dengan melakukan hal tersebut, usaha yang dirintis oleh pria 70 tahun tersebut tak mendapat untung alias stagnan. “Hampir enam bulan terakhir industri tahu di wilayah kami tak memperoleh untung, karena harga kedelai selalu meningkat. Hanya bisa membayar ongkos pekerja dan biaya produksi setiap harinya,” tuturnya.

Garjito berharap, perekonomian segera pulih dan nilai tukar Rupiah stabil agar roda-roda usahanya bisa dijalankan kembali.

Adapun Yuni (50) satu di antara penjual kedelai besar yang ada di Kabupaten Batang menambahkan, setiap hari harga kedelai naik di angka Rp100 perkilogramnya. “Harga kedelai tak pernah turun dan tak pernah stabil, harga terakhir tiga bulan lalu di tingkat pengecer mencapai Rp6.400 dan kini terus mengalami kenaikan,” tambahnya.

Para pelaku usaha tahu dikatakan Yuni kerap mengambil kedelai di tokonya yang terlatak di Jalan Jendral Sudirman. “Dulu ramai ada yang membeli 2 kwintal ada juga 50 kilogram setiap harinya, namun karena dolar naik sekarang jadi sepi pembeli,” timpalnya.

Sementara Sekda Batang yang juga Ketua Tim Pengendalai Inflasi Daerah (TPID), Drs H Nasikhin MH, mengatakan, Pemkab Batang kini tengah melakukan pendataan bersama Badan Pusat Statistik (BPS) di sektor mana saja yang terdampak menguatnya US Dolar terhadap nilai tukar Rupiah.

“Pendataan tersebut dirasa penting untuk melakukan langkah penanganan jika terjadi inflasi yang disebabkan melemahnya nilai tukar Rupiah” beber Nasikhin, yang juga menjabat sebagai Sekda Kabupaten Batang.

Selain itu, sektor-sektor usaha pengelohan dan industri yang masih mengandalkan bahan baku dari luar negeri dirasa rentan terdampak menguatnya nilai tukar Dolar AS. “Melemahnya Rupiah merupakan fenomena nasional dan terkait dengan kondisi perekonomian global, sehingga berdampak pada usaha yang masih mengandalkan bahan baku impor akan sangat berpengaruh. Seperti pengrajin tahu, tempe, tekstil, dan produsen obat-obatan yang tersebar di beberapa wilayah Kabupaten Batang, karena bahan baku masih mengandalkan kedelai impor,” jelas Nasikhin.

Ia juga menyarankan pada pengrajin tahu untuk memperkecil ukuran produk seperti tempe dan tahu, serta inovasi terkait pengganti bahan baku impor yang kini masih menjadi ketergantungan. “Memang kedelai lokal belum bisa mencukupi untuk produksi produk olahan dalam negeri. Namun jika ada inovasi terkait pengganti bahan baku kami yakin, para pelaku usaha tidak akan terpengaruh adanya penguatan nilai tukar Dolar terhadap Rupiah,” Kata Nasikhin.

“Meskipun Dolar naik yang membuat bahan baku impor meroket, namun kami akan memastikan bahwa pasokan bahan tersebut lancar dan tidak terhambat,” katanya.

Ke depan, pihaknya berencana akan mengurangi bahan-bahan impor dan mengganti dengan bahan dasar seperti kedelai yang bisa didapatkan di daerah melalui sosialisai kepada para pelaku usaha. “Fundamental perekonomian memang harus ditingkatkan dari skala terkecil, agar saat terjadi penguatan Dolar masyarakat tidak terdampak terlalu parah, karena sudah bisa mandiri dalam hal ekonomi. Kami berharap penguatan nilai tukar Dolar hanya sesaat,” tandasnya. (fel)

Penulis: M Dhia Thufail | Radar Pekalongan
Redaktur: Akhmad Saefudin

Facebook Comments