Radar Kendal

Dolar Naik, Penjual Tempe Belum Terdampak

NUR KHOLID MS
STOK AJEG – Harga komoditas tempe ternyata tidak naik, meski nilai dolar terus meroket. Karena itu, stok tempe di warung-warung pun masih ajeg.

KENDAL – Terus menguatnya nilai tukar dolar terhadap rupiah dalam beberapa waktu terakhir memunculkan kekhawatiran terhadap kenaikan harga sejumlah komoditas berbahan dasar impor. Salah satunya adalah makanan rakyat jenis tempe, mengingat pemerintah masih sangat bergantung pada impor kedelai untuk memenuhi kebutuhan.

Terlebih, perkembangan terakhir, nilai dolar telah melebihi angka Rp 15.000. Hal itu diprediksi bakal memicu kenaikan harga kedelai secara signifikan.

Namun dari pantauan Radar di lapangan, fluktuasi dolar ternyata belum terlalu berdampak terhadap harga tempe. Bahkan, sejumlah warung makan yang menjual mendoan pun masih menetapkan harga yang sama.

Di warung Rubiah misalnya, di mana menu gorengannya selalu laris diburu pembeli, harga mendoan tempe masih tak mengalami kenaikan. Sampai Rabu (5/9) kemarin, satu potong mendoan masih dihargai Rp 500.

Menurut Rubaiah, menguatnya dolar Amerika Serikat (AS) terhadap mata uang rupiah belum mempengaruhi harga bahan dasar untuk membuat mendoan tempe. Harga tempe dari perajin masih tetap Rp 2.000 per papannya. Karena itu, pemilik warung tidak ada alasan untuk menaikan harga mendoan tempe dan komoditas olahan lainnya yang dijual di warung makannya tersebut.

“Belum naik. Ini tempe baru datang dari perajin. Harganya masih tetap dan belum ada kenaikan. Per papan masih Rp 2.000. Cuman kualitasnya kurang bagus dan tidak bisa tahan lama. Perajinnya dari Desa Galih,” katanya.

Rubaiah menjelaskan, untuk bahan baku mendoan tempe itu setiap harinya warung miliknya membeli tempe sebanyak 20 papan. Selain itu, pihaknya juga membeli tempe gembus dari perajin tempe. Harga per papan tempe gembus dari perajin tempe sebesar Rp 1.000. Tidak jauh berbeda, untuk tempe gembus setiap hari Rubiah juga mengambil 20 papan.

“Secara kualitas, baik tempe dan tempe gembus ini sama saja, karena masih kalah dengan tempe dan tempe gembus produksi perajin tempe dari Ungaran. Kalau dari sana rasanya enak dan bisa tahan lama. Mungkin cara membuat tempe dan tempe gembus di sana ada yang direbus dan di kukus” ungkapnya.

Salah satu pembeli, Anton Munajat, mengaku sering datang ke warung makan milik Rubaiah. Selain olahan masakannya enak dan lezat, warung makan yang berada di tepi jalan raya kabupaten itu dekat dengan Kantor Kecamatan Gemuh. Ia datang ke warung makan milik Rubaiah itu tidak hanya untuk menikmati makan. Akan tetapi juga terkadang datang bersama beberapa pegawai kecamatan lainnya ke warung hanya sekedar minum kopi bersama.

“Ya, misal kalau pas lagi lapar langsung ke warung sini. Warungnya sederhana dan bersih. Banyak pegawai kantornya ada di wilayah Kecamatan Gemuh juga makan di sini. Masakanya enak mungkin itu yang jadi alasan mereka ke sini untuk makan. Tadi makan mendoan tempe juga. Harganya murah dan masih tetap Rp 500,- per satunya. Belum ada kenaikan harga atau penguarangan ukuran mendoan tempenya,” katanya. (nur)

Penulis: Nur Kholid Ms | Radar Pekalongan
Redaktur: Akhmad Saefudin

Facebook Comments