Radar Kendal

Awas, Puso Mengancam Tujuh Kecamatan

Awas, Puso Mengancam Tujuh Kecamatan

BERI PENJELASAN – Kepala Dinas Pertanian Pangan Kendal, Diah Aning Budiarti, didampingi stafnya saat menjelaskan dampak kekeringan pada produksi pertanian, kemarin.
NUR KHOLID MS

*Total Luasan Capai 571 Ha

KENDAL – Dampak kekeringan selama musim kemarau tahun ini ternyata meluas di sejumlah wilayah. Data Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kendal mencatat ada tujuh kecamatan yang terancam gagal panen dengan total luasan mencapai 571 hektar areal padi.

Ancaman terluas ada di Kecamatan Cepiring dengan 141 Ha, disusul Brangsong 123 Ha, Kendal kota 109 Ha, Patebon 109 Ha, Ngampel 23 Ha, Pegandon 12 Ha, dan Kecamatan Gemuh 2 Ha. “Ini sigatnya masih ancaman, resikonya pun masih dalam kategori ringan,” ungkap Kepala Dinas Pertanian Pangan Kendal, Diah Aning Budiarto, didampingi sejumlah stafnya, Kamis (30/8).

Dia mengatakan, dari ratusan hektar itu, pihaknya hingga kemarin belum menerima laporan adanya tanaman padi yang alami puso. Meski terdampak, namun ratusan hektar tanaman padi beresiko ringan itu masih bisa diupayakan penyelamatannya.

Lanjut Diah, berbagai upaya sudah dilakukan jajarannya untuk menyelamatkan areal padi dari ancaman puso. Misalnya, menurunkan petugas ke lapangan untuk membantu petani mengatur kebutuhan air bagi lahan pertanian. Pasalnya, kondisi debit air di sejumlah saluran mulai menipis, sehingga petani kesulitan mengairi sawah.

“Upaya lainnya, memfasilitasi petani dengan bantuan brigade alat dan mesin pertanian (Alsintan). Total ada 19 Alsintan, di mana 14 di antaranya sudah dimanfaatkan petani melalui Gapoktan. Alsintan itu sifatnya dipinjamkan kepada petani yang membutuhkan,” terangnya.

Diah berpesan, bagi petani yang tanaman padinya terdampak kekeringan tidak perlu kawatir terjadinya puso. Sebab, pemerintah sudah memberikan solusi berupa program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP). Fungsi asuransi itu memberikan perlindungan terhadap resiko ketidakpastian dengan menjamin petani mendapatkan modal kerja untuk berusaha tani dari klaim asuransi. “Alhamdulillah, di Kabupaten Kendal sudah banyak petani yang sudah ikut asuransi ini,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Diah Aning, tidak hanya kekeringan, AUTP juga memberikan perlindungan kepada petani yang gagal panen akibat bencana alam banjir, dan serangan oraganisme pengganggu tumbuhan (OPT). Premi AUTP nya 3 persen. Berdasarkan besaran biaya input usaha tani padi Rp 6 juta per hektar per musim tanam, yakni sebesar 180 ribu per hektar per musim tanam. Bantuan pemerintah sebesar 80% sebesar Rp 144 ribu per hektar per musim tanam. “Adapun petani harus membayar premi swadaya 20 persen proporsional, sebesar Rp 36 ribu per hektar per musim tanam,” terangnya.

Sementara itu, Kabid Tanaman Pangan dan Holtikultura pada Dinas Pertanian dan Pangan Kendal, Pandu Rapriat Rogojati menambahkan, tahun ini musim penghujan diperkirakan mengalami kemunduran. Kalau tahun lalu mulai September, 2018 ini diprediksi baru di minggu ketiga November. (nur)

Penulis: Nur Kholid Ms | Radar Pekalongan
Redaktur: Widodo Lukito

Facebook Comments