Metro Pekalongan

Tiada BB, Polisi Tak Bisa Menindaklanjuti Dugaan Warga Jual Pil

Terkait Penggerebekan Warga ke Rumah yang Diduga Jual Pil Koplo

Berkaitan dengan penggerebekan oleh warga Jenggot, Pekalongan Selatan, terhadap seorang warga setempat bernama Rohmat yang diduga sebagai pengedar obat-obatan terlarang pada Senin (27/8) malam, pihak kepolisian belum bisa menindaklanjutinya karena alat bukti tidak cukup.

“Tidak ada barang buktinya. Masih belum maksimal, saksi pembeli belum, BB (barang bukti, red) belum, jadi belum bisa disidik,” ungkap Kapolsek Pekalongan Selatan Kompol Junaedi saat dikonfirmasi Radar Pekalongan, Rabu (29/8).

Meski demikian, Junaedi terus mengimbau kepada masyarakat untuk tidak melakukan pelanggaran hukum. Termasuk memperjualbelikan obat-obatan terlarang dan narkotika karena melanggar UU Kesehatan, juga UU tentang narkotika maupun psikotropika.

Lebih lanjut, pihaknya mengimbau kepada warga masyarakat untuk senantiasa membantu tugas kepolisian dalam menjaga keamanan dan menciptakan situasi kamtibmas tetap kondusif.

“Warga tidak main hakim sendiri. Info sekecil apapun disampaikan pada kita dan lebih teliti, jeli, agar suatu kasus bisa ditindaklanjuti, utamanya dikuatkan dengan saksi dan barang bukti.

Sebagaimana telah diberitakan, puluhan warga Jenggot, Kelurahan Jenggot Kradenan, Kecamatan Pekalongan Selatan, Kota Pekalongan, pada Senin (27/8) malam menggerebek sebuah rumah milik warga setempat yang bernama Rahmat, di Jalan Pelita III, Jenggot Gang 4 RT 04 RW 02.

Penggerebekan itu dilakukan karena warga sudah resah dengan aktivitas pemilik rumah yang diduga sering menjual obat-obatan terlarang atau pil koplo. Warga juga menempelkan sejumlah kertas bertuliskan imbauan agar si pemilik rumah bertobat, tidak lagi menjual pil koplo.

Selain itu warga menyisir sejumlah sudut rumah untuk mencari barang bukti obat-obatan dimaksud. Namun, warga tidak menemukan barang bukti.

Warga bersama lurah dan tokoh masyarakat setempat kemudian meminta Rahmat menandatangani surat pernyataan bermaterai. Isinya bahwa yang bersangkutan tidak akan menjual pil koplo atau barang haram lainnya, dan apabila menjual bersedia diproses secara hukum.

Sementara, Rahmat, usai menandatangani surat pernyataan, mengakui dirinya pernah menjual obat-obatan jenis DMP (Dextrometorphan). Biasanya ia jual seharga Rp20 ribu per paket. Tapi dia mengelak kalau pembelinya kebanyakan para remaja. “Kebanyakan orang dewasa,” katanya. Diapun berjanji tidak akan menjualnya lagi. “Saya berjanji besok tidak akan jualan lagi,” ujarnya. (way)

Facebook Comments