Politik

Andi Arief 4 Kali Dipanggil, Tapi Tak Datang ke Bawaslu

RMOL.co

Kasus mahar politik Rp1 triliun makin nggak jelas juntrungannya. Politisi Demokrat Andi Arief yang mencuit soal ini juga nggak jelas rimbanya. Dipanggil Bawaslu 4 kali untuk bersaksi, aktivis 98 ini nggak pernah datang. Andi pun dituding bernyali tempe.

Kemarin merupakan panggilan keempat alias hari terakhir bagi Andi untuk memenuhi panggilan Bawaslu. Tiga kali pemanggilan sebelumnya, Andi mangkir. Pertama, pada Senin (20/8), selanjutnya Selasa (21/8), kemudian pada Jumat (24/8).

Mangkirnya Andi dibenarkan Komisioner Bawaslu, Fritz Edward Siregar. “Kami coba telepon enggak diangkat. Kami coba Whatsapp cuma centang dua, tapi tidak dibalas. Kami coba konfirmasi juga tidak ada kabar dari Andi Arief,” kata Fritz di kantor Bawaslu, kemarin.

Fritz menegaskan, kemarin adalah panggilan terakhir yang bisa dilayangkan Bawaslu. Artinya, Bawaslu akan melakukan rapat pleno atas tudingan mahar terhadap cawapres Sandiaga Uno. Hasil pleno, akan disampaikan besok, Rabu (29/8).

“Bawaslu harus melihat apakah ada kesaksian, petunjuk, ada keterangan ahli atau pengakuan, dokumen yang dapat mengatakan pelanggaran sudah terjadi atau belum,” jelasnya.

Tidak hadirnya Andi dipastikan Fritz menyulitkan pembuktian atas tudingan yang dilempar Andi. Tanpa kesaksian Andi Arief, Bawaslu sama sekali tak punya bukti soal ini. Bawaslu juga belum berencana memanggil saksi lain. Apalagi, memanggil Sandiaga Uno.

“Apa dasar kami memanggil pihak lain, sedangkan orang yang mengetahui dugaan pelanggaran juga tidak menyampaikan kepada kami,” katanya. “Itulah kenapa kesaksian Andi Arief menjadi sangat signifikan dalam menuntaskan dugaan pelanggaran ini,” tambahnya.

Fritz lalu mengatakan sejauh ini Bawaslu baru mendapat kesaksian dari pelapor, yakni pengurus Federasi Indonesia Bersatu. Bawaslu juga hanya memiliki bukti berupa cuplikan foto kicauan twitter Andi Arief dan berita media online.

Tidak hanya Sandiaga, Fritz mengatakan Bawaslu juga tidak berniat mengundang pihak terkait lainnya, seperti PKS dan PAN yang diduga menerima mahar politik. Alasannya sama, yakni Bawaslu membutuhkan bukti dan kesaksian yang meyakinkan bahwa ada dugaan mahar politik.

Sebelumnya, Andi Arief membuat cuitan di Twitter yang bikin heboh publik, Rabu (8/8). Saat itu, ia menyebut Prabowo Subianto “jenderal kardus”. Sebutan itu dilontarkan Andi setelah ia menuding Prabowo akan menjadikan Sandiaga Uno sebagai cawapres karena eks wagub DKI itu memberi Rp 500 miliar masing-masing untuk dua partai koalisi Gerindra: PAN dan PKS.

Ke mana Andi Arief? Saat dihubungi Rakyat Merdeka, ponselnya tidak bisa dihubungi. Sementara, koleganya di Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaeanenggan mengomentari soal mangkirnya Andi Arief. “No komen bang, langsung Andi Arief saja,” ujar Ferdinand kepada Rakyat Merdeka.

Sebelumnya, Andi Arief sempat menjelaskan kenapa dirinya tidak hadir di panggilan ketiga Bawaslu. Ia mengaku masih menemani orang tuanya yang tengah sakit. Sementara, cara melapor alternatif ditolak oleh Bawaslu.

“Kemarin, saya sudah menghubungi Bawaslu tentang ada kemungkinan saya masih belum bisa kembali ke Jakarta karena saya masih harus bersama orang tua saya yang belum sehat sepenuhnya,” ujar dia, melalui pesan tertulisnya, Jumat (24/8).

Andi sempat meminta tiga opsi alternatif untuk melaporkan kasus itu ke Bawaslu. Pertama, panggilan video atau video call, klarifikasi secara tertulis yang ditandatangani, dan klarifikasi lewat Bawaslu Lampung.

“Ketiga usulan saya itu tampaknya tidak dipilih oleh Bawaslu, dan hari ini hampir dipastikan saya belum bisa kembali ke Jakarta untuk hadir langsung secara fisik di Bawaslu,” ujar Andi. “Saya tidak menghindar dan tidak juga mencabut dua twit saya yang kemudian menjadi alasan pelapor yang saya tidak kenal untuk membawa problem ini ke Bawaslu,” pungkasnya.

Pegamat politik UIN, Adi Prayitno menyayangkan Andi Arief mangkir di panggilan terakhir Bawaslu. Menurutnya, wajar jika publik berpendapat jika Andi bermental tempe. “Ya wajar (dianggap mental tempe). Sesulit apa sih untuk datang,” ujar Adi kepada Rakyat Merdeka.

Adi menduga tidak akan ada kejutan dari hasil Pleno Bawaslu. Hasilnya mudah ditebak, tidak terbukti mahar politik Sandiaga Uno, dan kasus ditutup. Justru, ini bisa mencoreng nama Andi Arief sebagai penyebar kampanye hitam sekaligus menciderai Partai Demokrat selaku pengusung Prabowo.

“Ya yang jelas ngga datang case closed. Karena tidak ada saksi kasus ini akan ditutup,” katanya.

Publik, kata Adi, berharap Andi datang dan menunjukkan sejumlah bukti kepada Bawaslu. Minimal. Ada foto-foto yang membuktikan adanya tudingan mahar untuk PKS dan PAN untuk tiket Pilpres 2019. Kalau hanya sebatas omongan, bisa menjadi fitnah.

Seperti diketahui, publik geram terhadap mangkirnya Andi Arief. Aktivis 98 ini disebut bernyali tempe karena tidak menghadiri panggilan Bawaslu. “Ente dipanggil Bawaslu aja ngak datang bro. Mentalnya tempe,” cuit @giatarigan. “Nyalimu nyali tempe ternyata andi arief!!! Nyalimu tidak sebesar congormu,” timpal @ dedstopaz.

Netizen mengganggap kasus ini sudah tamat. “Jangan mengharapkan kasus yang dibuat oleh politikus bisa terang benderang, semua hanya sandiwara dan tipu daya saja, hai @AndiArief__ katanya aktivis tapi mental tempe bongkrek,” cuit @TrahButhex. (rmol/rakyatmerdeka)

Facebook Comments