Nasional

Aliran Emas dan Selayang Babakan Sejarah dari Asian Games 1962

“I declare open the Asian Games of Djakarta, celebrating the fourth games of Asia,” seru Presiden Soekarno, Jumat, 24 Agustus 1962, pukul 16.00, di Stadion Utama, Jakarta.

Asian Games 1962 pun dimulai. “Upacara pembukaan AG IV dipenuhi oleh suasana yang membangkitkan semangat, kegembiraan dan gairah para penonton yang begitu antusias,” tulis Amin Rahayu dalam buku Indonesia Tuan Rumah Asian Games 1962.

Malam itu, pesta pembukaan disudahi pertandingan sepakbola antara Indonesia lawan Vietnam. Peluit kick off ditiup wasit pukul 21.00.

Hari-hari berikutnya, pertandingan demi pertandingan dari berbagai cabang olahraga diperlombakan.

Memasuki hari ketiga, tiga medali emas mengalir ke Indonesia. Seluruhnya dari cabang olahraga bulutangkis.

“Inilah pertama kali dalam sejarah Asian Games, regu bulutangkis Indonesia menang mutlak melawan regu Muangthai dengan skor 5-0,” tulis Amin.

Esok harinya, M. Sarengat dari cabang olahraga atletik mengalirkan dua medali emas untuk Indonesia.

Kecepatan Sarengat sekaligus memecahkan rekor Asian Games.

Di lari gawang 110 meter putra, dia mencetak waktu 14,3 detik. Nol koma satu detik lebih cepat dari rekor sebelumnya yang diraih pelari Pakistan, Gulam Razik dan pelari Jepang H. Yasuda.

Sarengat juga menciptakan rekor baru di lari 100 meter putra. Beroleh waktu 10,5 detik, dia mengungguli rekor Asian Games II pada 1954 di Manila yang diperoleh A. Khaliq pelari Pakistan.

Koran harian Merdeka, edisi Selasa, 28 Agustus 1962 menulis judul besar-besar di laman utama, “Mohd. Sarengat Merebut Lagi Medali Emas” dengan judul bawah “Suatu Prestasi Luarbiasa Atlit Indonesia”. (lihat foto)

Koran itu kini dipajang di Museum Nasional Jakarta. Bila Anda hendak beromantisme ke masa lampau, ke masa-masa semaraknya Asian Games 1962 bertandanglah ke museum itu. Sedang ada hajatan pameran Sejarah Asian Games 1962.

Menjelang penutupan Asian Games 1962, harian Merdeka menaikkan berita bertajuk, “Indonesia Merebut 11 Medali Emas.”

Emas paling banyak dialirkan dari bulutangkis. Yakni lima medali. Masing-masing sebuah dari nomor beregu putra, sebuah beregu putri, dan sebuah ganda putri. Dua buah lagi dari nomor tunggal putra (Tan Joe Hok) dan tunggal putri (Minarni).

Disusul tiga emas dari balap sepeda.

Sebuah dari nomor pertandingan 100 meter team trial atas nama Hendrik Brocks, Wahju Wahdini, Hasjim Roesli dan Aming Priatna.

Sebuah dari nomor open road race 180 kilometer atas nama Hendrik Brocks. Dan satu lagi dari nomor klasifikasi beregu.

Seperti sudah disebutkan di atas, dari cabang atletik Indonesia mendulang dua medali emas.

Nah, bila ditotal maka jumlahnya baru sepuluh. Dari mana satu lagi? Setelah memeriksa literatur semasa, rupanya satu emas lagi diraih Indonesia dari bang olahraga loncat indah putri.

Dengan demikian pada Asian Games 1962 di Jakarta, Indonesia menempati peringkat kedua di bawah Jepang yang berhasil mengumpulkan 73 medali emas.

Asian Games IV itu ditutup 4 September 1962. Puncak kemeriahaan disaksikan setidaknya 100 ribu penonton di Stadion Utama Gelora Bung Karno.

Pesta itu, mencuplik hasil penelitian Amin Rahayu, berlangsung mengharu biru. Sekaligus mengesankan.

Terutama karena semasa itulah Indonesia baru punya stadion megah.

Stadion yang, “…its construction is a feat unequelled in the annuals of sports history in Asia and perhaps in the world (konstruksinya merupakan prestasi yang tak tertandingi dalam sejarah olahraga di Asia, bahkan di dunia),” tulis edisi khusus mingguan The Asia Magazine, terbitan Hongkong memuji stadion Gelora Bung Karno. (wow/jpnn)

Facebook Comments