Radar Kendal

Begini Meriahnya Saat Para ASN Ikuti Lomba Dolanan Rakyat

NUR KHOLID MS
BERSEMANGAT – Masing-masing kelompok bersemangat untuk memukul mundur lawannya dalam lomba dagongan yang digelar Pemkab Kendal di Alun-alun Kendal, kemarin.

KENDAL – Ada pemandangan menarik dari even perlombaan yang digelar di Alun-alun Kendal pada Jumat (24/8) pagi kemarin. Bukan lomba biasa, para pegawai Pemkab Kendal adu kekompakan memainkan dolanan rakyat yang mungkin sudah tak populer bagi generasi kekinian, yakni dagongan dan egrang.

Lomba permainan tradisional itu diikuti seluruh perwakilan Aparatur Sipil Negara (ASN) di 19 organisasi perangkat daerah (OPD) yang ada. Panas terik matahari tak menyurutkan semangat dari peserta lomba. Mereka justru asyik masyuk menikmati permainan masa kecil tersebut.

Lomba dagongan berbeda dengan permainan tarik tambang. Media yang digunakan adalah bambu berukuran panjang. Sistem permainanya pun tidak sama. Kalau pada tarik tambak dua kelompok beradu kuat menarik lawannya di seberang, lomba dagongan justru peserta saling dorong. Pemenangnya tidak lain adalah kelompok yang sukses memukul mundur atau mendorong bambu peserta lawanya hingga jatuh di area atau kadangnya sendiri.

Edi Malesiantono, pseserta lomba dari tim Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah, mengatakan, lomba itu lebih sulit dibandingkan lomba tarik tambang. Dengan menggunakan media bambu, beban yang ditahan jauh lebih besar dibandingkan lomba tarik tambang.

“Kalau tarik tambang menarik lawan, tapi kalau lomba ini gunakan bambu. Ini lebih susah karena harus juga menahan beban dari beratnya juga menahan dorongan dari tim lawan,” tuturnya.

Edi yang berhasil mengalahkan tim dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kendal mengatakan, soal teknik mengalahkannya tidak beda jauh dengan tarik tambang. “Yang dibutuhkan kompak kalau mau menang. Perhatikan aba-aba. Yang penting dorong sekuat-kuatnya bambu sampai lawan terjungkal di daerahnya sendiri,” ungkapnya.

Sementara itu, Panitia lomba, Sukamto, mengatakan, dua permainan yang dilombakan sama-sama menggunakan media bambu. Tujuan perlombaan itu adalah untuk menggairahkan kembali permainan tradisional yang sudah lama tidak dimainkan oleh masyarakat saat ini. Dia juga berharap, perlombaan tersebut bisa mengobati rasa rindu terhadap permainan-permainan lawas lainnya. ” Ini permainan yang jarang kita lihat dimainkan. Maka kita munculkan lagi,” katanya.

Ditambahkan Sukamto, permainan dagongan memang mempunyai resiko cidera lebih tinggi dibandingkan tali tambang. Pasalnya, beban yang dibawa oleh peserta lebih berat. “Kami siapkan tim medis untuk antisipasi terjadinya cidera di lomba dagongan dan engran ini,” pungkasnya. (nur)

Facebook Comments