Nasional

Terbentuk Kubah Baru, Merapi Kembali Mengancam

Konferensi pers di BPPTKG Jogjakarta mengenai update aktivitas Merapi, pada Sabtu (18/8). (Ridho Hidayat/JawaPos.com)

YOGYAKARTA – Kubah lava baru yang terbentuk pada Sabtu (11/8) lalu di kawah Gunung Merapi memiliki ancaman berupa awan panas. Keluar melalui letusan yang cenderung bersifat efusif.

“Bahayanya ya, adanya awan panas. Kalau terus terjadi pertumbuhan kubah lava nanti akan terjadi awan panas. Kami lihat nanti pertumbuhan seperti apa,” kata Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta, Hanik Humaida, dalam konferensi pers di kantornya, Sabtu (18/8) petang.

Kubah lava baru itu berukuran dengan panjang sekitar 55 meter dan lebar sekitar 25 meter. Setinggi 5 meter dari permukaan kubah lama, letusan 2010 silam. Kubh baru itu, sambungnya diperkirakan terbentuk mulai Sabtu (11/8), karena sehari sebelumnya petugas belum mengetahui hal tersebut.

Pihaknya berjanji akan memantau pertumbuhan kubah lava tersebut. Salah satunya melalui deteksi gempa yang ada di sekitar puncak. “Kalau terjadi kegempaan kan ada sesuatu (magma) yang bermigrasi ke permukaan. Ini akan terus kami pantau,” tuturnya.

Erupsi efusif ini, lanjutnya, akan terjadi seperti pada 2002 dan 2006 silam. Berbeda dengan 2010 yang cenderung eksplosif. “Sifatnya efusif karena terjadi pembentukan kubah lava. Kalau 2010 itu eksplosif, ada pembentukan kubah lava tapi cenderung cepat, karena langsung ditekan keluarnya magma,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Seksi Merapi BPPTKG Jogjakarta, Agus Budi Santoso menambahkan, munculnya fenomena kubah lava ini sekaligus menjawab pertanyaan mengenai aktivitas Merapi yang mengalami peningkatan sejak 1 Juni lalu.

Saat itu, Merapi mengalami letusan-letusan freatik. “Berarti laju pola magma sesuai. Polanya cenderung letusan efusif. Jadi erupsi ke depan efusif,” ucapnya.

Status Merapi pun saat ini masih di level II atau Waspada. Kenaikan ke tingkat selanjutnya masih belum dilakukan karena kegempaan tidak terlalu signifikan. Pihaknya hanya mengimbau agar masyarakat, terutama yang berada di Kawasan Rawan Bencana (KRB) III meningkatkan kewaspadaannya.(dho/JPC)

Facebook Comments