Radar Batang

Sidang Gugatan Proyek RSUD Batang Terus Berlanjut

Sidang Gugatan Proyek RSUD Batang Terus Berlanjut

KETERANGAN SAKSI – Sidang gugatan terkait proyek RSUD Batang tahun 2017 kemarin digelar dengan agenda mendengarkan keterangan saksi dari PT Tangga Batu Jaya Abadi selaku pihak penggugat.
M DHIA THUFAIL

*Masuk Agenda Keterangan Saksi dari Penggugat

BATANG – Sidang gugatan PT Tangga Batu Jaya Abadi terhadap RSUD Kalisari Kabupaten Batang terus berlanjut. Rabu (15/8) kemarin, Pengadilan Negeri (PN) Kabupaten Batang melanjutkan proses persidangan untuk memeriksa keterangan para saksi dari pihak penggugat.

Humas PN Batang, Moch Isa Nazarudin, mengatakan bahwa perkara Wanprestasi ini telah masuk di PN Batang sejak 16 Januari 2018. Prosesnya saat ini sedang dalam tahap persidangan, yang akan berjalan selama 115 hari.

“Proses persidangan masih terus berjalan. Hari ini, kita lakukan pemanggilan dari kedua belah pihak untuk mendengarkan kesaksian dari pihak penggugat,” jelas Nazarudin.

Dia menjelaskan, dalam kasus tersebut pihak tergugat yakni pejabat pembuat komitmen (PPK) proyek pembangunan RSUD Batang, Direktur RSUD Batang, CV Mitra Pratama Mulia selaku konsultan pengawas proyek, Bupati Batang, dan Ketua DPRD Batang cq Ketua Banggar DPRD Batang.

Perwakilan PT Tangga Batu Jaya Abadi,Trisno, didampingi Kuasa Hukum Aris Affandi Lubis SH mengatakan,pihaknya menginginkan ada tanggungjawab dari Pemkabh Batang untuk melakukan ganti rugi terhadap dana yang telah dikeluarkan pihaknya untuk membangun dua gedung RSUD Kalisari Batang.

“Kita sudah mengeluarkan uang hingga belasan miliar untuk membangun dua gedung tersebut. Namun di tengah perjalanan malah diputus kontrak secara sepihak. Mereka beralasan bahwa spek bangunan yang kita kerjakan tidak memenuhi kriteria,” ungkapnya.

Ia menyebutkan, PT Tangga Batu Jaya Abadi selaku pemenang lelang mengerjakan proyek pembangunan dua gedung RSUD Kalisari Batang. Dua bangunan gedung itu yakni gedung radiologi dengan nilai Rp 9 miliar dan gedung rawat gabung dengan nilai Rp 3,8 miliar.

“Pada sekitar tanggal 5 Oktober sampai 7 November 2017 lalu proyek diminta untuk dihentikan oleh konsultan. Padahal, pengerjaan sudah hampir selesai, sudah mencapai 92 persen untuk bangunan rawat gabung dan 87 persen untuk bangunan radiologi,” katanya.

Menurut Aris, Pemkab Batang dalam proses pembangunan gedung sama sekali belum memberikan anggaran dana untuk proses pengerjaan. Baik itu dalam bentuk uang DP sebesar 20 persen maupun uang yang seharusnya dikeluarkan setiap beberapa termin.

“Mereka tidak memberikan uang DP sama sekali, dengan alasan sudah banyak pengembang yang lari begitu saja setelah mendapatkan uang DP. Kita tidak apa apa, tetap melanjutkan pembangunan. Kemudian kita minta agar anggaran dana bisa dicairkan lewat beberapa termin. Namun sampai proyek ini dihentikan, kita sama sekali belum menerima uang dari Pemkab Batang. Kita merasa dirugikan,” terangnya.

Aris menyebutkan, spek bangunan yang telah dikerjakan sudah sesuai dengan aturan. Namun Uji lab dari Unnes menyatakan bahwa spek bangunan tidak sesuai dan harus dihentikan. Sedang berbeda dengan hasil uji lab dari Undip, yang menyatakan spek bangunan sudah sesuai dan bisa dilanjutkan. (fel)

Penulis: M Dhia Thufail

Facebook Comments