Radar Kajen

SPP Naik, Siswa Demo Tuntut Kepsek Mundur

Siswa Demo

AKSI – Puluhan siswa SMK Yapenda 2 Wiradesa, Kabupaten Pekalongan, menggelar aksi menuntut pencopotan kepala sekolah di halaman SMK setempat, kemarin.
MUHAMMAD HADIYAN

Kepsek: Aksi Siswa Terlihat By Design

Puluhan siswa SMK Yapenda 2 Wiradesa, Kabupaten Pekalongan, melakukan demo di halaman sekolah setempat, Selasa pagi (14/8). Mereka memprotes kenaikan biaya SPP dari Rp100ribu menjadi Rp225ribu per bulan. Selain itu siswa juga menuntut pencopotan kepala sekolah, karena dinilai minim kinerja. Meski tak anarkis, namun jajaran Polsek Wiradesa sempat turun tangan menenangkan para siswa.

Salah seorang siswa yang melakukan aksi, Andrian Farial, mengatakan, biaya SPP yang tinggi dianggap memberatkan siswa, khususnya wali murid. “Biaya SPP naik, dari Rp100ribu jadi Rp225ribu per bulan,” kata dia kepada wartawan, kemarin.
Selain itu, para siswa juga menuntut adanya pencopotan kepala sekolah, karena dinilai sering mangkir saat upacara dan kerap tidak masuk sekolah.

“Kita minta kepala sekolah diganti, karena tidak ada kerja nyata. Tidak ada pembenahan fasilitas sekolah, seperti tempat parkiran yang masih panas, dan lain-lain,” tegasnya.

Menanggapi hal itu, Kepala SMK Yapenda 2 Wiradesa, M Mukhtar mengungkapkan, bahwa aksi siswa bukan murni dari aspirasi anak-anak. Menurutnya, pernyataan-pernyataan yang disampaikan para siswa adalah by design dari orang dalam atau oknum dari sekolah setempat.

“Ada sumber yang menyatakan demikian. Sebab, pernyataan siswa tidak mendasar,” kata dia.

Jika tuntutannya adalah SPP yang naik, ia justru menegaskan bahwa tidak ada kenaikan biaya SPP. Mukhtar menyebutkan, besaran SPP sudah di angka Rp225ribu per bulan sejak mereka masih duduk di kelas X. “Yang aksi itu sebagian besar mereka yang kelas XI. Harusnya kalau keberatan dengan biaya SPP yang terlalu mahal, dia bisa ngomong sejak awal pas waktu kelas X. Silahkan mengajukan keringanan dengan melampirkan SKTM. Sekolah punya kebijakan untuk warga yang tidak mampu kok,” kata Mukhtar.

Kepala SMK juga membantah tuduhan sering tidak hadir ketika upacara hari Senin dan sering absen berangkat sekolah. “Setiap Senin saya datang upacara, cuma pembina upacara selalu dijadwal atau digilir. Agar guru lain mendapat porsi untuk menjadi pembina. Bukan berarti saya tidak hadir dalam upacara. Setiap hari saya berangkat sekolah, tapi apa siswa lihat, mereka kan fokus di kelas,” sambungnya.

Terkait persoalan tersebut, pihaknya akan menuruti tuntutan siswa untuk mengumpulkan pihak orangtua tentang kejelasan penggunaan SPP. “Kita akan panggil wali murid, dan akan kita paparkan data secara administratif penggunaan biaya SPP. Data itu kita punya, dan semua lengkap dan jelas,” pungkasnya. (yan)

Facebook Comments