Radar Kendal

Siswa SD Diajari Mengolah Barang Bekas dan Menanam Mangrove

Siswa SD Diajari Mengolah Barang Bekas

MENANAM – Siswa-siswi SDN 3 Bleder, Desa Kartikajaya, peduli lingkungan menanam mangrove di lahan tambak tak jauh dari lingkungan sekolahnya.
NUR KHOLID MS

KENDAL – Siswa-siswi SDN 3 Bleder, Desa Kartikajaya, mendapatkan pengetahuan dari PT PLN Area Semarang melalui programnya “PLN Mengajar” bagaimana caranya menciptakan lingkungan sehat dan Reduce, Reuse dan Recycle (3R), di sekolahan setempat, Kamis (9/8).

Edukasi itu dilakukan dengan mengolah dan memanfaatkan barang bekas menjadi komoditas bernilai guna. Selain itu, mereka diajak untuk ikut peduli lingkungan melalui aksi menanam 5.000 mangrove di lahan tambak yang tak jauh dari Pantai Kartikajaya dan lingkungan sekolah. Terlebih, selama ini SDN 3 Bleder kerap terdampak air laut pasang.

Manajer PT PLN Area Semarang, Donny Ardiansyah, mengatakan, kegiatan itu merupakan bentuk kepedulian PLN di dunia pendidikan, terutama memberdayakan anak sekolah untuk peduli dengan lingkungan. Menurutnya, pohon bakau tidak hanya menahan abrasi dan air pasang, namun juga berdampak ke perekeonomian warga sekitar.

Tidak hanya memanfaatkan barang bekas, siswa-siswi juga diajak menaman pohon mangrove agar abrasi dan air pasang bisa terhalang, mengingat sekolah ini dekat sekali dengan pantai. “Program ini terus galakkan tidak hanya di sini, namun juga di sekolah lainnya, seperti di Semarang. Dengan melihat ketebatasan dari sekolah ini, PLN melalui program CSR siap memberikan bantuan,” katanya.

Kepala SDN 3 Bleder, HM Tumonjo, mengaku senang dengan kegiatan PLN Mengajar atau mengedukasi yang diadakan PLN Area Semarang. Karena kegiatan tersebut mampu membuat para siswa bisa mengikuti kegiatan outing class dengan penuh keseruan.

Menurutnya, dahulunya di area sekitar sekolah dikelilingi hamparan tumbuhan nan hijau. Namun saat ini sudah berubah dikelilingi oleh daratan tandus serta tambak udang dan ikan. Apabila air laut naik maka halaman sekolah sering tergenang air laut.

Hal itu mengakibatkan bangunan dinding dan perabotan lainnya mudah rusak. Sementara untuk perbaikan, pihaknya mengalami keterbatasan dana. “Usaha kami, membuat kolam penampungan air sendiri agar air laut tidak langsung menggenangi ruang kelas maupun lapangan,” tandasnya.

Sementara itu, Kades Kartikajaya, Budi Hartono, mengatakan, abrasi laut yang semakin tahun semakin membesar mengubah kehidupan warga Desa Kartikajaya. Dulu, desanya sempat menjadi sentra penghasil buah mangga di Kabupaten Kendal, namun kini banyak dipenuhi hamparan tambak. Tanah di desa itu sering digenangi oleh air laut membuat tanah itu tak sesubur pada sedia kala. “Hanya pohon bakau dan pohon pantai yang dapat bertahan di tanah dengan kadar garam yang tinggi itu,” katanya.

Lambat laun produksi mangga menjadi turun karena diterjang air laut yang semakin sering dan akhirnya membuat tanaman menjadi mati. Meski saat ini masih banyak pohon mangga yang masih berdiri tegak namun hal itu tidak dapat membuat Desa Kartikajaya menjadi sentra mangga.

“Ar laut yang naik kepemukiman dipandang warga hal biasa. Kami kewalahan menangani air laut itu, mulai dari upaya penanaman bakau hingga membangunan talut untuk menghalau air telah kami lakukan,” tukasnya. (nur)

Penulis: Nur Kholid Ms | Radar Pekalongan
Redaktur: Akhmad Saefudin

Facebook Comments