Radar Pendidikan

Supaya Jumlah Siswa Tak Timpang, SD Negeri Harus Bisa Bersinergi

Supaya Jumlah Siswa Tak Timpang, SD Negeri Harus Bisa Bersinergi

BELAJAR – Siswa-siswi SDN 01 Podo tengah belajar bersama.
FAKHRUN NISA

KEDUNGWUNI – Pada tahun ajaran 2018/2019, SDN 01 Podo menerima siswa baru sejumlah 13 anak. Jumlah tersebut lebih kecil dibanding tahun-tahun sebelumnya. Pada 2016 jumlah siswa baru mencapai 24 anak dan meningkat pada tahun 2017 yang mencapai angka 28 anak. Namun, pada tahun 2018 ini jumlah siswa baru yang mendaftar di SDN 01 Podo mengalami penurunan.

Menanggapi hal itu, Kepala SDN 01 Podo sekaligus Ketua Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) Kedungwuni, Rodhi SPd, berharap ada sinergi antar SD negeri agar tidak terjadi ketimpangan. Menurutnya, jumlah siswa akan mempengaruhi perkembangan dan kemajuan sekolah. Sekolah dengan jumlah murid di atas 200 lebih mudah untuk maju dan berkembang dibanding sekolah dengan jumlah murid 100 ke bawah.

“Jika salah satu SD negeri sudah melebihi kuota per kelas yakni 28 siswa, maka harusnya pendaftar yang belum masuk bisa diarahkan ke SD negeri terdekat lainnya. Kalau tidak begitu, bisa jadi SD negeri yang ini gemuk-gemuk yang satunya lagi malah kurus-kurus,” ujar Rodhi.

Selaku Ketua K3S, Rodhi bertekad untuk membangun sinergi dan sinkronisasi antar SD negeri terkait dengan penerimaan siswa baru. Pada tahun ajaran 2018/2019 ini, jumlah siswa SDN 01 Podo berada pada angkat 104 anak. Pihak sekolah telah melakukan upaya untuk meningkatkan jumlah siswa baru dengan melakukan kunjungan ke masyarakat.

“Ketika kami melaksanakan kunjungan-kunjungan ke masyarakat, mereka merasa kurang tertarik karena SDN 01 Podo tidak mempunyai ekskul drumband, padahal itu menjadi daya tarik utama bagi anak-anak dan orang tua. Itu adalah salah satu kelemahan kami. Oleh karena itu, sedikit demi sedikit kami tengah menyisihkan dana untuk bisa membeli peralatan drumband suatu hari nanti, karena kami harus menerima tuntutan dari masyarakat,” jelasnya.

Rodhi mengaku tidak bisa meminta kerja sama dari orang tua untuk pengembangan kegiatan ekstrakurikuler di SDN 01 Podo. Hal itu dikarenakan rata-rata siswa SDN 01 Podo berasal dari keluarga dibawah garis sejahtera.

“Kalau dapat PIP dan semacamnya, sudah kami tekankan bahwa dana tersebut harus dipergunakan untuk membayar kebutuhan sekolah. Tapi kenyataannya, malah digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, sehingga orang tua sering kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sekolah, diantaranya membeli seragam. Jadi tidak mungkin kami meminta bantuan kepada orang tua untuk turut mengembangkan kegiatan ekskul sekolah,” tandas Rodhi. (run)

Penulis: Fakhrun Nisa | Radar Pekalongan
Redaktur: Dalal Muslimin

Facebook Comments