Radar Kajen

Ini yang Dilakukan Para Pemuda Saat Berkumpul di Alun-alun

Anti Radikal Jamming

EKSPRESI SENI – Beberapa kalangan pemuda yang tergabung dalam komunitas seni menggelar kegiatan gerakan para pemuda “Aku Indonesia Aku Pancasila NKRI Harga Mati, Raktar Melawan Intoleransi Radikalisme Terorisme”.

Sejumlah pemuda dari berbagai kalangan kumpul di Alun-Alun Kajen untuk menyampaikan aspirasi. Apa itu? Widodo, Kajen

Satukan persepsi. Itulah yang dilakukan sejumlah pemuda dari berbagai kalangan untuk menyampaikan aspirasi. Mereka dari kalangan pecinta seni, LSM, aktivitas, dan yang lainnya.

Adapun lokasi yang dipilih untuk melakukan ekspresi yakni di Alun-alun Kajen. Persiapan dilakukan sangat sederhana namun diharapkan aspirasi tersampaikan oleh masyarakat Indonesia khususnya Kabupaten Pekalongan. Ya, kalangan pemuda itu hanya membutuhkan tempat sekitar 5 X 5 meter. Di lokasi itu, mereka membentangkan spanduk yang bertuliskan: “Aku Indonesia Aku Pancasila NKRI Harga Mati, Raktar Melawan Intoleransi Radikalisme Terorisme”.

Kemudian, di depan spanduk berwarna hitam tersebut, dibuat set untuk bermain musik. Sebagai penguat penyampaian aspirasi, mereka pun memasang papan panjang berwarna hitam bertulis “Anti Radikal Jamming”.

Setelah lokasi tertata, waktu penyampaian apirasi pun ditentukan, yakni hari Minggu tanggal 5 Agustus 2018, sekira pukul 07.00. Waktu itu dipilih, karena pada saat itu masyarakat Kabupaten Pekalongan dan sekitar tengah berkumpul untuk olahraga pagi dan week end.

Setelah waktu yang telah ditentukan tiba, para pemuda pun menyampaikan aspirasi dengan menyanyikan lagu-lagu sambil diselingi orasi. Hal itu ternyata sangat ampuh, karena masyarakat pun sangat mendukung gerakan para pemuda “Aku Indonesia Aku Pancasila NKRI Harga Mati, Raktar Melawan Intoleransi Radikalisme Terorisme”.

Koordinator kegiatan, Rian Surian, menegaskan bahwa kegiatan tersebut dilakukan sebagai bentuk kepedulian generasi muda dan rakyat Pekalongan terhadap munculnya perilaku intoleransi, faham radikalisme dan terorisme.

“Kita sepakat bahwa ketiga hal ini, perilaku intoleransi, faham radikalisme dan terorisme merupakan ancaman keutuhan NKRI. Dan kami sepakat untuk menolak serta melawannya,” tegasnya.

Selain itu, lanjut pria yang juga menjadi Ketua Gabungan Angkutan Pekalongan (GAP), pihaknya juga prihatin terhadap munculnya konsep khilafah dan kelompok tertentu yang bertentangan dengan Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika.

“Kami sebagai anak bangsa tidak rela Pancasila diganggu gugat oleh siapapun, dan kami siap melawannya,” tandasnya

Sebab, imbuh mantan Ketua Koni ini, bela Negara untuk Bangsa dan Negara Indoneia bukan saja tanggung TNI atau Polri saja, tapi menjadi tanggungjawab seluruh masyarakat Indonesia.

“Kalau bukan kita Rakyat Indonesia, siapa lagi yang akan menjaga kehormatan Pancasila dan keutuhan NKRI,” paparnya.

Diungkapkan Rian, komunitas seni akan terus bergerak. Bahkan, tanggal 18 Agustus 2018, rencananya pihaknya akan melaksanakan apel akbar seluruh perguruan bela diri, peguruan pencak silat, taekwondo, karate, yang siap setiap membela Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika dari faham baru yang ingin mengganggung keutuhannya.

“Kegiatan ini akan terus kami lakukan di seluruh wlayah dengan bentuk berbeda-beda,” ungapnya sambil meneriakkan “Aku Indonesia Aku Pancasila NKRI Harga Mati, Raktar Melawan Intoleransi Radikalisme Terorisme”. (*)

Facebook Comments