Radar Kajen

Gimana Ini, Anak Muda Jaman Now Enggan Jadi Petani

Gimana Ini, Anak Muda Jaman Now Enggan Jadi Petani

PERTANIAN – Minim regenerasi petani membuat perlu adanya gebrakan modernisasi pertanian.
MUHAMMAD HADIYAN

KAJEN – Minimnya regenerasi petani, dimana jumlah petani muda semakin sedikit, menjadi salah satu problem besar bagi dunia pertanian di Indonesia, termasuk di Kabupaten Pekalongan. Di kabupaten ini, jumlah petani muda tak sebanding dengan kebutuhan regenerasi tani. Bahkan tak sedikit anak petani yang enggan meneruskan provesi orangtuanya sebagai petani.

Kabid Tanaman Pangan dan Holtikultura Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Pekalongan, Endang sulitiyaningsih membenarkan hal tersebut. Menurutnya, jumlah petani muda lebih sedikit dibanding petani tua. “Ini persoalan terjadi di seluruh Indonesia. Dan saya rasa kita tak bisa menghindari regenarasi petani yang minim ini,” ungkap Endang.

Meski demikian, pihaknya telah menyiasati masalah tersebut dengan gebrakan modernisasi pertanian, menyesuaikan kondisi alam dan kondisi SDM yang ada.

“Kita sudah memanfaatkan kemajuan teknologi untuk menghadapi masalah tersebut. Seperti penggunaan mesin transplanter untuk penanaman, sehingga secara mutlak tidak memakai terlalu banyak tenaga manusia. Ada juga yang sudah menggunakan mesin combine harvester untuk panen. Kalau untuk pengolahan tanah, sebagian besar sudah menggunakan traktor,” terangnya.

Pihaknya juga menawarkan para petani muda untuk magang dan mengikuti pelatihan di luar negeri. “Ada program pengiriman petani muda ke luar negeri, untuk dilatih dan magang. Tujuannya, untuk mengembangkan pertanian di daerah,” tambahnya.

Seperti diketahui, produksi pertanian di Kabupaten Pekalongan sendiri cukup besar bila dibanding daerah-daerah lain di Jawa Tengah. Maka tak heran kabupaten ini disebut sebagai lumbung padinya Jateng. Dari awal Januari hingga Juli 2018 saja, kabupaten berjargon Kota Santri ini mampu menghasilkan 137.038 ton gabah kering giling (GKG) dari total luar tanam 29.478 hektar dan luas panen 26.034 hektar.

Meski cukup besar produksi padi tahun ini, namun secara data dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Pekalongan, terjadi penurunan bila dibanding produksi padi per Juli 2017 lalu. Dari Januari 2017 hingga Juli 2017, total produksi mencapai 148.162 ton GKG dengan luas tanam 25.771 hekat dan luas panen 28.544 hektar.

Endang sulitiyaningsih mengatakan, per Juli 2018 ini produksi padi di Kabupaten Pekalongan mencapai 137.038 ton GKG atau 59,30 persen dari target RPJMD sebanyak 231.079 ton GKG.

Dikatakan, meski mengalami penurunan, namun secara produktivitas padi tahun ini, lebih baik dibanding tahun sebelumnya. Per Juli tahun ini produktivitas mencapai 52,64 kwintal per hektar. Lebih banyak dibanding per Juli 2017 dengan produktivitas 51,91 kwintal per hektar.

“Memasuki musim kemarau yang cukup panjang ini, memang ada pengaruh terhadap hasil produksi padi di Kabupaten Pekalongan. Namun, hal itu belum terlalu signifikan. Sebab, tidak semua fase pertumbuhan padi membutuhkan banyak air. Kalau kekeringannya berkepanjangan, baru akan berdampak,” kata Endang, kemarin. (yan)

Penulis: Muhammad Hadiyan | Radar Pekalongan
Redaktur: Widodo Lukito

Facebook Comments