Radar Kajen

Waduh, MCK Sekolah Ternyata Belum Ideal

Waduh, MCK Sekolah Ternyata Belum Ideal

NYAMAN – Lingkungan sekolah di SMPN 3 Tirto kini lebih nyaman setelah halaman sekolah ditinggikan.
Istimewa

Standar kamar kecil di sekolah dasar dan SMP di Kabupaten Pekalongan masih banyak yang belum ideal. Idealnya, satu kamar kecil untuk 20 anak (1: 20). Namun kenyataan di lapangan, satu kamar kecil masih digunakan untuk puluhan anak. Bahkan, di beberapa sekolah dasar ada yang hanya memiliki dua hingga tiga kamar kecil yang digunakan oleh ratusan pelajar.

Oleh karena itu, dalam rangka mewujudkan sekolah ramah anak, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Pekalongan bertekad akan membangun MCK di sekolah-sekolah yang belum memenuhi standar.

Kabid Sarpras Dindikbud Kabupaten Pekalongan, Soemarsono, menyatakan bahwa akibat keterbatasan anggaran, program ini baru menyentuh sedikit sekolah di Kabupaten Pekalongan. Dindikbud bertekad program sanitasi sekolah ini akan terus dilaksanakan tiap tahunnya dengan menyesuaikan anggaran yang ada.

“Selain untuk meningkatkan kebersihan sekolah, program MCK ini untuk mendukung sekolah ramah anak. Idealnya 1 banding 20. Namun, masih ada sekolah yang hanya memiliki dua hingga tiga MCK saja,” terangnya.

Disinggung soal bangunan sekolah yang rusak berat, Soemarsono menyatakan, masih ada sekitar 15 persen ruang kelas yang rusak berat. Untuk ruang kelas rusak menengah sekitar 25 persen. Menurutnya, ruang kelas yang rusak berat itu lebih dikarenakan faktor umur bangunan tersebut, atau bangunan sudah tua.

“Kategori rusak berat ini lebih karena faktor umur bangunan yang sudah tua,” terang dia.

Faktor penyebab lainnya adalah sekolah terendam banjir rob. Menurutnya, ada 13 SD dan dua SMP yang selama ini menjadi langganan banjir rob. Untuk mengantisipasi banjir rob di lingkungan sekolah, Dindikbud memberikan bantuan peninggian halaman sekolah. Sehingga, di beberapa sekolah seperti SMPN 3 Tirto lingkungan sekolah sudah mulai terbebas dari banjir rob.

“Untuk ruang kelas bagi sekolah di daerah rob juga perlu ditinggikan bangunannya. Sebab dengan peninggian halaman sekolah itu, maka ruang kelas jadi lebih pendek. Jadi atap perlu dibongkar dan ditinggikan agar lebih nyaman untuk proses belajar mengajar,” terang dia.

Dindikbud, lanjut dia, bertekad hingga empat tahun kedepan, seluruh ruang kelas yang rusak bisa direhab. Pada tahun 2018 ini, kata dia, ada sekitar 200 sekolah mulai dari PAUD hingga SMP yang akan direhab.

“Ada juga sebagian yang membuat ruang kegiatan belajar (RKB) karena rombongan belajarnya (rombel) gemuk. Standar rombel untuk SD satu kelas 28 anak dan untuk SMP 32 anak.” (yon)

Penulis: Triyono

Facebook Comments