Radar Batang

Timur Bahari Sebut Pembuangan Sisa Material Sesuai Amdal

DHIA THUFAIL
CEK RAMBU LAUT – Pihak Timur Bahari bersama perwakilan nelayan melakukan pengecekan rambu laut untuk menandai kawasan yang tidak boleh dilewati kapal, Minggu (29/7).

 

BATANG – Aksi protes masyarakat nelayan tradisional Roban Barat dan Roban Timur ke kantor Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batang, Senin (30/7) lalu, mendapat tanggapan dari PT Timur Bahari selaku terduga penyebab rusaknya jaring kapal nelayan Roban.

Dalam konfrensi pers-nya, Arlin selaku Project Leader PT. Timur Bahari menjelaskan, bahwa PT. Timur Bahari selaku subcon PT. Mitsui yang melakukan pekerjaan pengerukan dan pemasangan pipa pendingin tersebut mengakui adanya kegiatan pembuangan material hasil pengerukan ke laut.

“Material yang kami buang berbentuk lumpur, tanah liat, pasir, batu dan karang. Material kami buang di lokasi koordinat yang telah ditentukan dalam Amdal (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) atau 10,8 mil dari bibir pantai”, katanya.

Dijelaskan Arlin, lokasi tersebut juga telah diketahui oleh para pihak, termasuk perwakilan nelayan dan HNSI, serta aparat terkait. Sehingga, diyakini para nelayan sudah mengetahui lokasi pembuangan material untuk menghindari lokasi tersebut.

“Selama ini kami bekerja sesuai SOP dan ketentuan yang berlaku. Dilokasi yang telah ditentukan tersebut, kami juga memasang tanda atau pelampung sebagai rambu untuk para nelayan agar tidak mendekat atau melintas di lokasi,” jelasnya.

Namun diakuinya, empat rambu yang seharusnya berada di lokasi dumping area tersebut sempat hilang. Oleh karenanya, Minggu (29/7) kemarin pihaknya bersama perwakilan nelayan Roban dan HNSI Kabupaten Batang melakukan pemasangan kembali rambu rambu yang sempat hilang tersebut.

Lebih jauh Arlin menjelaskan proses pengerukan itu dilakukan untuk proses pemasangan pipa pendingin turbin PLTU Batang. Pipa tersebut nantinya berfungsi untuk menyalurkan dan mengeluarkan air pendingin ke turbin-turbin PLTU. Dan pengerjaannya sudah mencapai 30 persen.

“Nantinya, pipa pendingin akan dipasang di kedalaman 8 meter sampai 12 meter. Padahal kedalaman pantai hanya 5 meter, sehingga butuh pengerukan. Proses pengerukan sudah dimulai sejak akhir 2016 dengan target pengerjaan selesai akhir tahun ini. Sementara ini terpasang pipa sepanjang 500 meter dari total panjang pipa 1,6 kilo meter dan diameter pipa selebar 4 meter,” katanya.

Dalam pemasangan pipa dilakukan setiap harinya selama 24 jam nonstop. Setiap harinya dua kapal tongkang berkapasitas 700 gros tone mengeruk material, rata-rata perharinya 2 ribu kubik material berhasil dikeruk . Oleh karena itu, dari proyek tersebut bakal menghasilkan 1,5 juta kubik material.

“Material sudah dibuang di lokasi koordinat yang telah ditentukan dalam Amdal. Jadi material yang diambil dari dasar laut dan dikembalikan ke dasar laut,” tutupnya.

Ketua HNSI Kabupaten Batang Teguh Tarmujo mengatakan pihak HNSI hanya sebatas menjembatai permasalahan yang dihadapi para nelayan terkait adanya dugaan pembuangan sisa limbah pembangunan PLTU itu.

“Kami berharap adanya titik temu yang saling menguntungkan kedua belah pihak. Saya tegaskan, kami tidak akan menghalangi terhadap proses proyek pembangunan PLTU tetapi pada hal ini, nelayan jangan dirugikan,” katanya. (fel)

 

Facebook Comments