Lain-lain

Pembohong Patologis Seidentik Kompor Publik

Kelas dan kualitas politik seorang politisi, agaknya saat ini mulai bisa dinilai. Indikatornya bisa mulai dari cara ia bicara, memberikan komentar, memilih kata, bahasa tubuh, atau tekanan pernyataan. Mereka yang sebenarnya punya kualitas ecek-ecek dalam berkomentar, materi bahasannya biasanya tentang sesuatu yang tidak relevan dengan pertanyaan jurnalis. Mereka kebingungan harus menjawab pertanyaan padahal tidak menguasai materi. Akhirnya yang disampaikan adalah kekelirun. Sampai-sampai ia pun melotot kepada jurnalis yang mewawancari untuk menunjukkan bahwa ia memiliki ketegaran, kegarangannya, atau wibawa terhadap subjek yang dikomentari. Dan ia merasa paling paham dalam menilai siapa pun.

Andai mereka memahami teori Aldert Vrij, seorang ahli psikologi sosial, mereka pun seharusnya mengerti bahwa pembohong patologis justru mereka yang terlibat lebih besar dalam sebuah kontak mata. Yang memberikan penegasan dengan cara memelototkan mata, justru dia sedang berbohong. Ditambah lagi jika narasumber tadi memegang, menggosok, atau menggaruk hidungnya. Pasti makin lengkap tipuannya.

Di ranah publik yang terjadi malah seperti ini. Sebenarnya masyarakat sih cuek saja dengan yang terjadi. Benar-benar cuek. Pertarungan komentar dan saling lempar penilaian, tak akan menggoyahkan keputusan publik saat pemilu nanti. Kata teman saya, yang goyah dengan tarung komentar adalah mereka yang butuh gentong untuk tambahan kesibukan atau mereka yang berharap dapat sesuatu – jika yang ia dukung menang. Kalau saya ikut yang cuek tadi, sebab saya juga kurang paham dengan yang akan saya pilih. Semuanya bagus, semuanya punya niat baik.

Akan tetapi, yang saya pribadi kurang suka adalah celometannya pihak-pihak yang ingin didengar dan diperhatikan omongannya. Ini bikin risih. Tadinya, di awal-awal komentarnya, ia termasuk yang bagus dalam menilai pihak lain. Anggap saja mereka sebagai oposisi pemerintah, gitulah, biar gampang. Makin ke sini, makin sering terpublish komentarnya, makin nggak karuan maksudnya. Eee….ternyata ambisi juga jadi pemimpin. Alasannya, pemimpin negara tetangga juga lebih tua darinya. Toh, rakyatnya juga suka.

Tapi ya nggak bisa begitulah. Lihat dulu masa lalunya. Masa yang sudah benar-benar lalu, dan sudah menikmati jabatan bagus di waktunya. Dugaan saya, ada kemungkinan ia belum puas terhadap yang diperolehnya dulu. Atau, mungkin saja ia tak puas dengan capaian yang sekarang. Tinggal dibandingkan saja, sekarang dengan beberapa tahun lalu, ada hal-hal yang bagus atau tidak. Asal sportif ya. Jika memang ada yang bagus, ya sampaikan dan akui saja. Akan tetapi, jika ada yang tidak bagus, juga disampaikan dengan cara santun tanpa menggunakan pilihan kata atau diksi yang ambigu. Yang ngompor-ngompori masyarakat agar memilih ia sebagai ‘sang mantan yang merasa pernah sukses’. Sukses di apanya, saya juga belum menemukan jenis kesuksesan yang perlu diakui.

Kompor macam inilah, yang oleh pemerintah sekarang tidak akan dimatikan apinya. Mereka dibiarkan menyala, asal tidak menjadi-jadi. Padahal sebenarnya sudah menjadi-jadi. Buktinya? Banyaklah. Kebebasan menyampaikan pendapat menjadi kerudung bagi siapa pun untuk berbicara dan menilai siapa pun. Padahal sebenarnya konteks kebebasan dalam pemahaman umum, ada batas-batasnya. Dan mereka paham sekali tentang itu. Tapi sengaja menyiramkan minyak di atas kompor yang sudah menyala. Teknik merangkul oposisi yang diterapkan oleh penguasa pun, sudah boleh dinilai santun. Meskipun ada pihak lain yang meminta agar disebutkan nama-nama pihak yang dianggap sebagai kompor tadi. Sebaliknya, jika oposisi menyebutkan ada kawan balik kanan atau pindah jalurlah, pemerintah tidak memintanya untuk menyebutkan siapa saja mereka itu. Adil nggak ya, yang seperti ini? Anda yang bisa menilai, dan kapasitas saya di sini hanya sebagai pengamat. Bukan pemberat pihak mana pun.

Jujur saja, sebenarnya saya lelah dengn tontonan televisi dan bacaan berita di gadget. Sangat-sangat lelah. Clebang-clebungnya itu lho yang nggak nguatin. Masih mending jika disampaikan dengan cara elegan tanpa tunjuk hidung. Itu masih saya baca isinya. Masih saya saksikan tayangannya. Di tempat kerja pun masih dibahas. Tapi kalau yang jadi narasumber yang itu dan itu lagi dengan pilihan kata nggak jelas, maaf saja ya. Di tempat kerja pun, orang semacam ini tidak ada sedikit pun bahasan. Yang jelas, dia sudah kehilangan suara politiknya di satu tempat kerja ini, tanpa ada yang saling mempengaruhi. Mereka sudah dewasa dan mampu menilai opinion leader yang memang negarawan.

Kembali ke kompor tadi. Masih bisa atau tidak mereka diubah cara bertuturnya, sepertinya susah juga. Meskipun mereka menempatkan diri sebagai oposisi, lantas apa iya harus sekasar itu, tanpa lagi mengedepankan unggah-ungguh yang mereka junjung tinggi karena ketimuran mereka. Padahal justru sebaliknya bahwa oposisi yang santun, jika ingin caper dan mendulang suara, biasa menembakkan peluru komentarnya dengan cara woles. Yang irit bicara malah ditunggu-tunggu komentarnya. Yang sedikit tampil di media, justru diburu media ekslusif dengan prime time menggiurkan.

Catatan buat saya saja, buat para komedian politik yang hobi mengumbar dagelan komentar pedas – apalagi tak bermutu –, biasanya diburu oleh media publik yang tak punya rating. Atau mungkin saja tirasnya di bawah rata-rata. Mau didongkrak atau dimuat beberapa kali pun, tetap saja tak bermutu jika alasannya masih sama: gembar-gembor tak mendidik. Untuk itu, sebaiknya para oposan punya sikap dan tata statemen yang mendekati baik. Tak perlu belajar tertib bahasa, yang penting adalah kesantunan. Lemah lembut bertutur kata, akan memberikan nilai positif bagi kesegaran jiwa publik.

Hascaryo Pramudibyanto
Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi pada Fakultas Hukum, Ilmu Sosial, dan Ilmu Politik Universitas Terbuka

Facebook Comments