Metro Pekalongan

Ingat Ini, NKRI Berdiri Tak Lepas dari Peran Kiai, Habaib, dan Santri

Seminar Keaswajaan dan Kebangsaan

SEMINAR – PCNU Kota Pekalongan bersama DPC Rabithah Alawiyah Kota Pekalongan menggelar Seminar Keaswajaan dan Kebangsaan di Gedung Aswaja, Kota Pekalongan, Senin (30/7).
WAHYU HIDAYAT

KOTA PEKALONGAN – Terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tak bisa dilepaskan dari peran umat Islam, khususnya para ulama, kiai, habaib, serta para santri.

Organisasi Nahdlatul Ulama (NU) maupun Rabithah Alawiyah, bahkan telah berjuang mengusir penjajah dari bumi Nusantara sejak lama, merebut kemerdekaan bangsa Indonesia dari penjajah, dan mempertahankan serta mengawal keutuhan NKRI.

Hal itu antara lain yang terungkap dalam Seminar Keaswajaan dan Kebangsaan yang digelar PCNU Kota Pekalongan dan DPC Rabithah Alawiyah Kota Pekalongan, bersama TNI-Polri, bertempat di Gedung Aswaja, Kota Pekalongan, Senin (30/7).

Seminar ini menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain Kapolres Pekalongan Kota AKBP Ferry Sandy Sitepu, Dandim 0710 Pekalongan yang diwakili oleh Kasdim Mayor Inf Hufron, Dosen IAIN Pekalongan yang juga tokoh Lakpesdam NU dan Pengurus PCNU Kota Pekalongan KH Arif Chasanul Muna Lc MA, serta Habib Dr Taufiqurrohman bin Yahya dari DPC Rabithah Alawiyah Pekalongan. Hadir pula memberikan tausiah, Rais Aam Jamiyyah Ahlith Thariqah Al Mutabarah An Nahdliyyah (Jatman) Habib Muhammad Luthfi bin Yahya.

Acara seminar diikuti ratusan peserta, antara lain anggota dan pengurus Rabithah Alawiyah, PCNU, Badan Otonom dan Lembaga-lembaga di bawah PCNU Kota Pekalongan, perwakilan madrasah, para kiai, ulama, serta para Babinkamtibmas Polres Pekalongan Kota dan Babinsa Kodim 0710 Pekalongan.

“Dari tahun 1800 sampai 1900an ada kurang lebih 112 perlawanan terhadap Belanda, terhadap penjajah. Sebanyak 105 diantaranya dilakukan oleh habaib, kiai, dan santri. Salah satu yang fenomenal adalah Perang Diponegoro. Ini bukti nyata bahwa peran kiai, santri dan habaib sangat besar dalam mengusir penjajah. Sampai kemudian meraih kemerdekaan, mempertahankan kemerdekaan, dan mengisinya,” kata Ketua PCNU Kota Pekalongan H Muhtarom dalam sambutannya.

Dia menyampaikan, NU dan Rabithah Alawiyah juga sejak dulu belum pernah sekalipun terlibat dalam pemberontakan terhadap NKRI. Melainkan, NU-Rabithah bekomitmen akan terus menjaga keutuhan NKRI. Serta berupaya terus menjaga kondusivitas.

“Kita harus terus bersinergi, dengan TNI-Polri dan seluruh elemen masyarakat demi kesatuan persatuan NKRI. Kita dari NU dan Rabithah ini yang notabene ‘NKRI swasta’ ini akan terus mendukung dan membantu ‘NKRI Negeri’ yakni TNI Polri dalam menjaga keutuhan NKRI,” imbuh Muhtarom.

Muhtarom menambahkan bahwa kegiatan tersebut digelar dalam rangka menyambut HUT ke-73 Kemerdekaan RI. Sekaligus untuk lebih meningkatkan sinergitas di masyarakat, terutama NU-Rabithah Alawiyah, untuk bisa membantu TNI Polri dalam bela negara maupun kamtibmas.

KH Arif Chasanul Muna MA, dalam materinya memaparkan banyak hal tentang awal mula terbentuknya ‘nation state’ atau negara bangsa di dunia barat dan dunia timur. Selain itu dipaparkan pula tentang nasionalisme, kemudian adanya paham-paham radikal, serta peran besar ulama Nusantara dalam menggelorakan keagamaan, kebangsaan, dan cinta tanah air.

Kapolres Pekalongan AKBP Ferry Sandy Sitepu pada kesempatan tersebut menyampaikan kepada masyarakat untuk tidak terpengaruh berita-berita atau kabar hoax yang dewasa ini berseliweran di dunia maya.

Sedangkan Kasdim 0710/Pekalongan, Mayor Inf Hufron, memaparkan tentang Wawasan Kebangsaan. Dia menyampaikan tentang potensi Indonesia yang menjadi incaran bangsa-bangsa lain di dunia. Diapun mengingatkan kepada seluruh elemen bangsa untuk senantiasa waspada terhadap ancaman berupa proxy war.

Sementara, Habib Luthfi pada kesempatan tersebut kembali berpesan agar ulama, TNI, Polri untuk selalu bersatu. Apabila Ulama, TNI, Polri kuat dan bersatu, maka Indonesia tidak akan mudah dipecah belah. (way)

Facebook Comments