Radar Batang

Mengenang dan Mewarisi Semangat M Sarengat, Manusia Tercepat se Asia

Mengenang dan Mewarisi Semangat M Sarengat, Manusia Tercepat se Asia

DIABADIKAN – Karena jasanya, sosok M Sarengat diabadikan menjadi nama stadion di Batang.
NOVIA ROCHMAWATI

EUFORIA Asian Games 2018 terus digelorakan pemerintah di berbagai lini dan kalangan. Tak terkecuali di Kabupaten Batang, yang tahun ini patut berbangga. Pasalnya, salah satu atletnya, yakni Kiromal Katibin, mampu mewakili Indonesia dalam pentas olahraga bergengsi se Asia di cabor Panjat Tebing.

Namun, dilihat dari sejarahnya, bukan kali pertama atlet Batang mampu menembus pesta olah raga empat tahunan ini. Batang bahkan pernah menorehkan prestasi membanggakan saat Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games tahun 1962 silam. Adalah M Sarengat, atlet legendaris yang namanya kini terpatri sebagai nama stadion kebanggan masyarakat Batang.

Kala itu, Sarengat mampu menyumbangkan dua medali emas dari cabang atletik nomor lari 100 meter dan 110 meter lari gawang putra. Ia sekaligus mencetak rekor Asia untuk lari 100 meter dengan catatan 10.5 detik, rekor yang sangat apik kala itu. Bahkan, lewat pembuktiannya tersebut ia pun menyandang predikat Manusia Tercepat di Asia.

Pegiat sejarah Batang, Prasetyo Widhi Saputro menerangkan, Sarengat awalnya belum memiliki passion di bidang lari. Sarengat justru memulai kiprah olahraganya di bidang sepak bola. Sarengat yang dulu pernah berdomisili di daerah Kertonegaran Batang itu mulai menjadi penjaga gawang di klub sepak bola sekolahnya.

Sempat menimba ilmu di SMPN 1 Pekalongan, Sarengat memutuskan hijrah untuk melanjutkan pendidikan di SMA Wijayakusuma II Surabaya. Hingga akhirnya, anak sulung dari pasangan R Prapto Prawiro S dan RA Moeryati Moetojo D itu bergabung ke klub Indonesia Muda Surabaya. Namun sayang, karena sering dibangkucadangkan, Sarengat pun memutuskan untuk berpindah haluan dan akhirnya menekuni bidang atletik.

“Jadi, awalnya Sarengat memang bukan terjun di bidang atletik. Sarengat sebelumnya pernah menjajal dunia sepakbola. Namun akhirnya beliau memilih untuk menekuni atletik. Berkat kerja kerasnya, beliau pernah menjuarai lomba lari setingkat Surabaya dan akhirnya diboyong ke Jakarta oleh Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI),” terang Prasetyo yang menulis biografi M Sarengat dalam Ensiklopedia Tokoh Kota Pekalongan.

Semenjak diboyong ke Jakarta, Sarengat menjadi tekun berlatih. Meski sempat tak lulus SMA pada tahun 1959 karena kesibukannya sebagai atlet, dengan niat dan kerja keras Sarengat berhasil lulus SMA di tahun 1961. Usai menamatkan pendidikan di bangku menengah atas, Sarengat masuk dinas TNI AD karena terkendala biaya untuk melanjutkan ke bangku kuliah.

Meski begitu, lelaki yang lahir 23 Oktober 1939 itu kemudian mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Kendati sempat tersendat, Sarengat berhasil menyelesaikan kuliahnya di tahun 1971 sembari tetap berkiprah di dunia atlet.

Baru setelah gelaran Games of The New Emerging Forces (Ganefo) 1963, Sarengat memutuskan untuk gantung sepatu. Walau begitu, Sarengat tetap mendedikasikan hidupnya dalam bidang olahraga. Ia sempat menjadi Ketua Bidang Pembinaan Prestasi PB PASI dan Sekjen KONI.

Pemerhati Sejarah dan Sastrawan Batang, Sugito Hadisasto menyebutkan, usai pensiun dari gelanggang atletik, Sarengat meneruskan jejak sang ayah, menjadi dokter di bidang ketentaraan (Angkatan Darat) hingga pensiun dengan pangkat kolonel. Sarengat akhirnya menikahi Nani Supatmiani dan dikarunia tiga anak.

“Beliau (Sarengat) dan istri, Nanik Sarengat, serta anak-anaknya Meidy, Sari, dan Andung, menghabiskan masa tuanya di daerah Kemang, Jakarta Selatan. Setahun sekali atau waktu-waktu khusus beliau dan keluarganya kembali ke Batang untuk melihat tanah leluhurnya. Sarengat sendiri mulai mengalami stroke sekitar tahun 2009. Hingga akhirnya tutup usia 13 Oktober 2014,” terangnya.

Sementara itu, ketua KONI Kabupaten Batang, Suharyanto berharap semangat juang Sarengat ini senantiasa diteladani oleh para atlet Batang. Karena tidak ada kata menyerah sebelum mencoba. Selain itu ia juga mengimbau agar atlet Batang tetap menyeimbangkan dunia atletik dengan dunia akademik. Karena keduanya merupakan hal yang penting untuk masa depan para atlet sendiri.

KONI Batang sendiri berharap, ke depannya bakal muncul kembali, Sarengat-sarengat muda yang mampu berprestasi. Tak hanya mengharumkan nama Batang, tapi juga dapat mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional. Pihaknya juga berharap, Kiromal Katibin atau yang kerap disapa Kiki dapat memberikan medali bagi Indonesia.

“Kami menaruh harapan besar bagi Kiki khususnya agar dapat mengukir prestasi laiknya M Sarengat. Yang mampu mempersembahkan prestasi untuk Batang. Dan kami harap para atlet Batang untuk terus bersemangat, belajar seperti M Sarengat yang tak pernah pantang menyerah. Kami harap ke depan makin banyak muncul Sarengat-sarengat muda Batang,” tandasnya. (nov)

Penulis: Novia Rochmawati | Radar Pekalongan
Redaktur: Akhmad Saefudin

Facebook Comments