Radar Batang

Cegah Dampak Negatif HP dan TV, Bupati Batang Wacanakan Gerakan Ini

Dok Istimewa
UCAPAN SELAMAT – Bupati dan Wakil Bupati memberi ucapan selamat kepada Pengurus Daerah Rifaiyah yang dilantik pada Sabtu (28/7) di pendopo kantor bupati.

BATANG – Bupati Batang, Wihaji kembali mengungkapkan kekhawatirannya atas dampak negatif yang disebabkan oleh gadget atau HP dan juga televisi bagi anak-anak dan keluarga. Karena itulah, bupati kembali melontarkan gagasanya untuk melakukan gerakan matikan Hand Phone dan TV pada waktu Mahgrib sampai dengan Pukul 20.00. WIB.

“Perkembangan informasi sekarang ini merubah pola hidup masyarakat, yang berakibat pada hilangnya karakter dan adab berbudaya. Untuk mencegah terpengaruhnya masyarakat oleh tayangan yang tidak mendidik, maka masih kita kaji dan wacanakan gerakan matikan Hand Phone dan TV pada waktu Mahgrib sampai dengan Pukul 20.00. WIB,” ujar Wihaji saat memberi sambutan pada acara pelantikan Pengurus Daerah Rifaiyah di Penodopo Kantor Bupati setempat Sabtu, (28/7).
Dalam kegiatan tersebut hadir pula Wakil Bupati Suyono, Ketua MUI KH Zainul Iroqi, Ketua PP Rifaiyah Mukhlisin Muzarie, Ketua Pengurus Wilayah Jawa Tengah Sudarji.

Wihaji menjelaskan, masyarakat sekarang baik orang tua dan anak lebih cenderung menghabiskan waktunya untuk memainkan ataupun berkomunikasi dengan HP. Meskipun di rumah, mereka lebih disibukan dengan HP dan TV. Karena itulah, wacana mematikan HP dan tv harus dikaji dengan serius dan nantinua untuk bisa diterapkan oleh lingkungan keluarga.

“Dan inilah mungkin merupakan bagian kecil dari dakwah KH Rifaiyah untuk tidak terpengaruh jauh dengan budaya yang tidak sejalan dengan ajaran Islam,” tegas Wihaji yang disambut tepuk tangan ribuan jamaah Rifaiyah.

Disampaikan juga bahwa sejarah perjuangan pendiri Rifaiyah, yaitu KH Syeh Rifai sebagai ulama besar yang melawan penjajahan Belanda dengan berdakwah yang membumi.

“Karya-karya beliau berupa kitab dan batik dijadikan sebuah media dakwah untuk melawan kolonial Belanda. Sehingga layak dan patut perjuanganya KH Syeh Rifaiyah ditetapkan menjadi Pahlawan Nasional di tahun 2004 atas usulan Bupati Batang Bambang Bintoro,” jelas Wihaji.

Untuk itu, guna mendukung karya dan perjuangan KH Syeh Rifaiyah, Pemkab akan menjadikan batik Rifaiyah sebagai salah satu seragam kerja, Selain itu, pemkab juga akan membantu pembangunan musium Rifaiyah yang ada di Limpung sebagai wisata religi.

Ketua Pengurus Pusata Rifaiyah Mukhlisin Muzarie mengatakan, karya kitab KH Syeh Rifaiyah yang dituangkan dalam bahasa Jawa untuk memudahkan masyarakat agar dapat menangkap tentang ajaran Islam dan penyebab utama kemunduran umat Islam.

“Dengan dakwah dan karyanya yang di sebarkan di nusantara khusus di Jawa, hasil perjuangan KH Rifaiyah turut mengantarkan Indonesia merdeka. Oleh karena itu kita harus ikut melanjutan perjuangannya melaui dakwah dan karya. Dan santri Rifaiyah banyak tersebar di pulau Jawa. Selain itu juga banyak yang berada di Sumatra, Papua, Kalimantan, Maluku yang sekarang sudah menyebar di kepulauan Indonesia di 24 Propinsi, tapi berada di pedalaman yang siap berdakwah,” tandas Mukhlisin Muzarie. (don)

Facebook Comments