Radar Pendidikan

Siswa Asal Papua Ikut Belajar di Sekolah Ini

Siswa Asal Papua

IKUTI – Para siswa afirmasi dari Papua, terlihat mengikuti kegiatan MPLS go green yang diselenggarkan oleh sekolah.
MALEKHA

KOTA PEKALONGAN – SMAN 2 Pekalongan kembali menerima 2 siswa Papua, sebagai implementasi program afirmasi yang ditunjuk oleh Pemerintah sebagai sekolah yang diminta untuk membina para siswa yang berasal dari daerah tertinggal.

Demikian disampaikan Kepala SMAN 2 Pekalongan, Budi Hartati, kepada Radar Pekalongan di ruang kerjanya, Jumat (2/7).

“Jadi Afirmasi ini menghadirkan pendidikan di daerah-daerah tertinggal, nah salah satunya putra-putri Papua agar mereka punya kesempatan yang sama untuk belajar di Daerah yang lebih maju seperti Jawa Tengah khususnya Kota Pekalongan,” ungkap Budi sapaan akrabnya.

Sejauh ini, SMAN 2 Pekalongan sudah sejak lama mengikuti program Afirmasi. Program ini mendelegasikan anak-anak Papua sebanyak 2 siswa per tahun, untuk ikut belajar dan mengembangkan diri bersama siswa-siswa di daerah maju.
“Alhamdulillah semua lancar meskipun ada perbedaan ya, baik secara fisik dan kebudayaan, namun bisa menyesuaikan dengan anak-anak yang lainnya,” imbuhnya.

Pogram Afirmasi, merupakan program layanan khusus yang tidak hanya memberikan kesempatan belajar bagi siswa daerah tertinggal. Namun juga pembinaan secara intens pada siswa-siswa terpilih.

“Jadi memang kami tidak hanya berhenti pada taraf kehidupan sekolah saja dalam pembinaan mereka, namun kami memantau 24 jam kegiatan mereka bahkan kami bentuk tim khusus untuk memberikan pelayanan,” terang Budi.
Pihaknya pun mengaku, memiliki tanggung jawab penuh terhadap keberlangsungan kehidupan para siswa dari Papua selama belajar di SMAN 2 Pekalongan.

“Kami melakukan pembinaan secara menyeluruh, mulai dari aspek akademis, relegiutas pun kami ada tim guru yang beragama Kristen untuk mengajak mereka kebaktian. Dan kalau mereka sakit pun kami yang bertanggung jawab untuk menemani,” tuturnya.

Selain itu, pendampingan secara akademis pun tak kalah menantang bagi tim khusus yang disediakan SMAN 2 Pekalongan. Pasalnya siswa-siswa dari Papua lebih banyak memiliki potensi dibidang Psikomotorik.

“Karena mungkin memang standarisasi kompetensi SMP disana berbeda, jadi harus butuh sedikit tenaga ekstra untuk menyamakan dengan standar kompetensi disini,” ujar wanita yang hobi membaca ini.

Budi berharap, siswa-siswa dari Papua yang berkesempatan mengenyam pendidikan lebih baik di daerah lain. Suatu saat bisa kembai membangun Papua lebih baik dalam bingkai NKRI. (mal)

Facebook Comments