Radar Kajen

Waduh, Gara-gara Ini Omset Pedagang Ayam Turun

Waduh, Gara-gara Ini Omset Pedagang Ayam Turun

OMSET TURUN – Akibat naiknya harga daging ayam, para penjualnya pun merasakan dampaknya, yakni turunnya omset.
MALEKHA

KEDUNGWUNI – Mendakati lebaran haji, sejumlah komoditas dapur mengalami kenaikan harga yang signifikan. Salah satu yang mencolok adalah harga daging ayam ras yang trennya masih terus naik dalam beberapa hari terakhir.

Peningkatan harga diketahui sudah berlangsung sejak sepekan terakhir. Namun puncaknya diduga terjadi saat ini, sehingga masyarakat terpaksa harus merogoh kocek lebih dalam untuk bisa menikmati menu ayam di meja makan.

Daging ayam nonkampung itu kini harganya telah menembus Rp 40.000 perkilogram. Padahal, baru-baru ini masih Rp 38 ribu/kg. Pertengahan Juli lalu juga masih sempat di angka Rp 36 ribu/kg.

Kenaikan harga tersebut tidak hanya memberatkan konsumen, tetapi juga para penjualnya. Pasalnya, karena harga yang meninggi, jumlah penjualan pun otomatis mengalami penurunan. Seperti dituturkan Zawawi (40), salah seorang penjual ayam di Pasar Kedungwuni.

Kata dia, akibat kenaikan harga yang terus melonjak membuat tingkat permintaan terus menurun sehingga mengurangi keuntungan dari penjual.

“Turun terus mbak, ibaratnya biasanya habis 5 ayam, sekarang cuma bisa habis 2 ayam. Jadi pendapatan tentu turun drastis,” ungkap Zawawi.

Ada berbagai alasan yang menurutnya menjadi penyebab kenaikan harga daging ayam. Pertama, produksi ayam broiler dikabarkan menurun. Kedua, lonjakan harga juga ikut dipengaruhi momentum jelang Hari Raya Qurban plus masih banyak warga yang melaksanakan hajatan, sehingga permintaan konsumen naik.

“Karena terus naik, jadinya meskipun makanan pokok ikut sepi. Masyarakat lebih mementingkan untuk mencukupi kebutuhan awal anak masuk sekolah dibandingkan harus membeli ayam yang susah dijangkau,” imbuhnya.

Tak hanya ayam, ada berbagai kebutuhan pokok yang juga mengalami kenaikan pada 2 pekan terakhir, seperti timun, tomat serta kobis.

Dikatakan Nisma (40), salah satu penjual sembako dan sayuran di pasar Kedungwuni. Dia mengungkapkan, ada beberpa bahan pokok yang mengalami kenaikan namun tidak signifikan berkisar antara Rp 2000-Rp 3000 perkilonya. Namun, ada juga komoditas sayuran yang justru turun dibandingkan harga sebelumnya.

“Saat ini sih yang naik seperti timun lalap yang awalnya Rp 6000 menjadi Rp 8000, tomat Rp 8000 menjadi Rp 10000, kobis Rp 5000 menjadi Rp 6000. Sedangkan yang mengalami penurunan ada telur, cabe, bawang merah dan putih serta kentang,” terang Nisma.

Saat ditanya tentang alasan kenaikan harga, Nisma mengaku tidak mengerti secara pasti tentang alasan kenapa barang tersebut naik. Namun karena harga dari pemasoknya sudah naik, maka ia pun harus menaikkan harga jualnya.(mal)

Penulis: Malekha | Radar Pekalongan
Redaktur: Dalal Muslimin

Facebook Comments