Metro Pekalongan

Masih Endemis Kaki Gajah, Sejumlah Kelurahan Diberi Tindakan Khusus

Masih Endemis Kaki Gajah, Sejumlah Kelurahan Diberi Tindakan Khusus

RAKOR – Dinkes menggelar rapat koordinasi dalam rangka menggelar POMP Filariasis pengulangan tahun kedua, Senin (16/7).
M. AINUL ATHO’

KOTA PEKALONGAN – Dinas Kesehatan Kota Pekalongan, akan lebih serius dalam menggelar program Pemberian Obat Massal Pencegahan (POMP) Filariasis tahun ini. Beberapa kelurahan yang masuk kategori endemis filaria, akan diberi program khusus berupa dibandingkan wilayah lainnya. Dinkes menyiapkan ‘shock therapy’ bagi kelurahan-kelurahan tersebut yang akan mulai dilaksanakan Agustus mendatang.

Kepala Dinas Kesehatan, Slamet Budiyanto, menjelaskan shock therapy yang disiapkan yakni penanganan khusus bagi kelurahan endemis. Jika wilayah non endemis lain hanya akan diberikan obat filariasis, kelurahan endemis akan diperlakukan berbeda. Dinkes, akan memberikan fogging berlapis yakni sekali sebelum minum obat bersama dan sekali lagi usai masyarakat sekitar minum obat filariasis.

“Jadi nanti kami akan berikan fogging dulu. Tujuannya agar seluruh nyamuk diberantas. Setelah itu seluruh warga akan minum obat bersama dan demi memastikan semuanya minum, kami akan terjunkan seluruh petugas termasuk dari Dinkes sendiri untuk mengawasi minum obat. Jika disini ada 80 pegawai, 60 sampai 70 akan kami minta turun ke kelurahan sasaran untuk memastikan seluruh warga meminum obat yang sudah diberikan. Setelah minum obat bersama, fogging akan kembali dilakukan untuk memberantas nyamuk yang masih tersisa,” jelasnya, Kamis (26/7).

Untuk tahap pertama, Dinkes sudah menjadwalkan program tersebut untuk dua kelurahan endemis yakni Jenggot dan Kuripan Kertoharjo. Selain dua kelurahan itu, ada tujuh kelurahan endemis lain yang juga akan diberikan tindakan khusus. Namun pelaksanaannya akan dilakukan secara bertahap.

Slamet Budiyanto mengatakan, tujuan dilakukannya tindakan khusus tersebut adalah untuk memberikan pemahaman dan kesadaran kepada masyarakat bahwa lingkungan mereka endemis filariasis. Sehingga mereka juga sadar untuk bersedia minum obat filariasis yang diberikan Dinkes.

Selama ini, kepatuhan minum obat filariasis masih menjadi kendala di Kota Pekalongan. Meski cakupan distribusi obat termasuk tinggi, namun tingkat kepatuhan minum obat masih rendah. Dari hasil evaluasi tahun 2011 hanya 63,01 persen warga minum obat dan tahun 2012 kepatuhannya turun 60,89. Kemudian tahun 2013 kembali turun menjadi 55,8 persen. Tahun 2017 lalu, cakupan pemberian obat mencapai 90 persen namun tingkat kepatuhan minum obat baru mencapai 65 persen.

Dampaknya, hasil evaluasi tahun 2014 angka mikrofilarirate masih 9,7 persen. Pada tahun 2015, kembali dilakukan evaluasi dan masih ada positif mikrofilariarate di angka 1 persen di Jenggot dan Kertoharjo. Padahal, jika angka mikrofilariarate masih diatas 1 persen maka POMP filariasis dianggap belum berhasil. Selain itu dari sisi nyamuk sebagai penyebar cacing filaria, hasil penelitian Undip menunjukkan dari 49 nyamuk yang ditangkap delapan diantaranya positif mengandung cacing mikro filaria.

Akibat hasil evaluasi tersebut, Kota Pekalongan juga diminta kembali mengulang program POMP filariasis selama dua tahun karena pelaksanaan selama lima tahun sebelumnya yakni pada 2011-2015, belum memenuhi target. Pengulangan program POMP filariasi dimulai tahun lalu dan hasilnya belum maksimal sehingga kembali dilaksanakan tahun ini.

Slamet Budiyanto menyatakan, kesadaran masyarakat yang menganggap bahwa penyakit filaria atau kaki gajah bukan merupakan penyakit serius, menjadi kendala utama. Mereka masih menganggap filariasis bukan penyakit yang mudah menjangkiti dan dampaknya tidak serta merta terlihat.

“Memang ada kurun waktu mulai satu tahun hingga beberapa tahun, penyakit kaki gajah ini mulai terlihat. Perbedaan itu terjadi sesuai kondisi masing-masing tubuh. Namun jika tidak dihilangkan melalui obat, maka gejala-gejala akan segera muncul. Memang tidak ada gejala spesifik namun langsung akan terjadi pembengkakan kelenjar yang membuat bagian tubuh membesar dan ini permanen. Jika sudah membesar, itu akan sulit diobati dan bisa jadi cacat seumur hidup. Ini tentu berpengaruh pada estetika dan produktifitas seseorang,” tambahnya.

Ia menyatakan, penyakit kaki gajah merupakan penyakit menular yang ditularkan lewat gigitan nyamuk. Jika ada satu orang terjangkit cacing filaria dan tidak diobati, kemudian ada nyamuk yang menggigit orang tersebut yang selanjutnya menggigit orang lain, maka cacing akan menular.

“Untuk yang tidak terjangkiti, tidak masalah tidak minum. Tapi untuk mendeteksi siapa yang terjangkit dan yang tidak, tentu sulit dan butuh biaya ekstra besar. Solusinya, semua warga kami berikan obat agar bagi warga yang terjangkit cacing filaria bisa dihilangkan. Ketika lingkungan dan semua warga sudah bersih dari cacing filaria maka potensi penularannya bisa dikurangi,” tandasnya. (nul)

Penulis: M Ainul Atho | Radar Pekalongan
Redaktur: Abdurrahman

Facebook Comments