Radar Jateng

Perjuangan Nasib, Forum Guru Tidak Tetap Datangi DPR RI

TEMANGGUNG – Forum Guru Tidak Tetap (Forgutt) berencana akan mendatangi DPR RI untuk memperjuangkan ribuan nasib Forgutt yang selama ini masih terkatung-katung.

“Dalam waktu dekat ini kita ke Jakarta, ada rapat gabungan Komisi I, X, V, dan beberapa kementerian seperti Kementerian Pendidikan, Kemenag, dan lain-lain yang disitu ada honorernya. Harapannya di situ ada titik temu dengan sebuah regulasi yang dibutuhkan untuk proses pengangkatan GTT dan PTT,” kata Ketua Forum Guru Tidak Tetap (Forgutt), Kabupaten Temanggung, Riyadi.

Ia mengatakan, pihaknya akan terus memperjuangkan nasib ribuan guru dan pegawai tidak tetap yang belum diangkat menjadi CASN (Calon Aparatur sipil Negara). Selain itu saat ini mereka masih mengeluhkan soal kesejahteraan yang masih di bawah rata-rata.

Ia menyebutkan, setidaknya ada 3.000 guru tidak tetap  dan pegawai tidak tetap yang ada di Kabupaten Temanggung, dan sampai saat ini nasib dari ribuan GTT dan PTT tersebut sama sekali belum tersentuh.

“Harapan kami nanti bisa meningkatkan kesejahteraan dan kejelasan nasib sekitar 3.000 guru tidak tetap dan pegawai tidak tetap di Kabupaten Temanggung. Kita akan ke Jakarta memperjuangkan nasib kawan-kawan agar sesuai harapan dan semoga ada perbaikan nasib dan pengangkatan menjadi pegawai negeri (CASN),” ujarnya.

Menurutnya, meski selama ini dari pemerintah daerah sudah memberikan perhatian namun belum mencukupi. Dari pemerintah daerah GTT mendapatkan honor yang tidak sama ada yang mendapatkan Rp675 ribu- Rp775 ribu dan ditambah dari sekolah atau instansi masing-masing. Akan tetapi untuk bidang kesehatan mereka sama sekali malah belum tercover program jaminan kesehatan.

Ketua DPRD Jawa Tengah Rukma Setyabudi menuturkan, memang Forgutt sampai saat ini masih memperjuangkan GTT terutama sisa-sisa K2 yang belum selesai. Dewan pun sudah membantu menyuarakan aspirasi tersebut ke pemerintah pusat dan saat ini hanya tinggal menunggu waktu saja.

Diakuinya GTT di Jawa Tengah masih banyak, dan untuk memperjuangkan harus di cluster dulu atau urut mulai yang sudah lama mengabdi, setelah itu baru berikutnya. Hal itu juga disesuaikan dengan kemampuan anggaran negara yang terbatas, maka harus ada skala prioritas.

“Kami selalu menyuarakan agar masalah jangan sampai ini dilupakan dan harus tuntas sebab perjuangan pengabdian mereka sudah lama. Guru itu memang kadang-kadang tidak sepadan dengan hasilnya tapi toh mereka tetap melakukan (mendidik siswa_RED),” katanya.

Namun karena ada panggilan jiwa, maka dengan resiko yang diterima, hampir semua GTT dan PTT tetap menjalankan tugas dan tanggungjawab mereka sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.

“Mereka patut diperjuangkan, pengorbanan mereka sudah cukup banyak,” tandasnya.(Set/mageks)

Facebook Comments