Radar Batang

Lawan Radikalisme, Masyarakat Tak Boleh Pasif

Agung Wisnu Barata S Sos MM

Agung Wisnu Barata S Sos MM

BATANG – Menggejalanya paham dan gerakan radikalisme di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini menjadi tantangan tersendiri, baik bagi pemerintah maupun kalangan agama. Mengingat persebaran pahamnya yang cepat dan menyasar segala lini, masyarakat karenanya tidak bisa hanya merespon secara pasif.

“Kalau yang jahat saja sedemikian proaktif, masa yang baik-baik malah pasif. Maka seperti ungkapan populer Martin Luther King, bahwa tragedi terbesar dari periode transisi sosial bukanlah karena suara keras orang-orang jahat, melainkan heningnya orang-orang baik atau dalam bahasa Imam Ali, diamnya orang-orang baik,” kata Kepala Kesbangpol Batang, Dr Agung Wisnu Barata S Sos MM, Kamis (26/7).

Menurut dia, ada kecenderungan tak sehat dalam kaitannya dengan kasus radikalisme dan terorisme di tanah air, yakni orang baru ramai membincang dan mengutuk setelah ada peristiwa. Sebaliknya, saat situasi kondusif, sedikit yang mau berpikir dan bergerak untuk menghambat laju pergerakan paham radikal.

“Kalau memang kita bersepakat untuk tidak takut dengan pelaku terorisme, bersepaham untuk memerangi, maka pemikiran dan gerakannya juga harus terus ada dan didengungkan terus menerus. Orang-orang baik yang tidak rela anak-anaknya diracuni paham radikal sudah semestinya tak bersikap pasif, harus proaktif juga,” terang Agung.

Karena itu, Agung berharap kalangan tokoh agama dan lainnya mau bersatu padu dengan pemerintah serta aparat Polri dan TNI untuk terus menggelorakan semangat memerangi paham dan gerakan radikalisme di wilayahnya.

“Sebagai wujud dari sikap proaktif itu, masing-masing bisa mempersempit ruang gerak paham dan gerakan radikal di lingkungannya masing-masing. Seperti pemutaran film 22 menit, itu bagus untuk mengingatkan kita untuk terus waspada dan tak boleh takut terhadap pelaku terorisme,” pungkasnya. (sef)

Penulis: Akhmad Saefudin | Radar Pekalongan
Redaktur: Doni Widyo

Facebook Comments