Radar Kajen

Waduh, Proyek UMKM tak Sesuai Target

proyek Pembangunan ruang pamer produk UMKM Kabupaten Pekalongan

DUDUK BERSAMA – PPKom lama Agus bersama PPKom baru Supari Fadli duduk bersama menjelaskan hasil laporan perkembangan mingguan proyek Pembangunan ruang pamer produk UMKM Kabupaten Pekalongan di Disperindagkop dan UKM, kemarin.
WIDODO LUKITO

Rekanan Ajukan CCO, PPkom Menolak

Pembangunan ruang pamer produk UMKM Kabupaten Pekalongan oleh PT Merial Anjangsana hingga kini tak sesuai dengan target. Berdasarkan hasil laporan perkembangan mingguan, proyek senilai Rp 6,8 miliar miliar ini baru terlaksanakan sekitar 3 persen lebih. Sementara target yang semestinya sudah dilaksanakan oleh penggarap 13 persen lebih.

Hal itu dibenarkan Pejabat Permbuat Komitmen (PPkom) Supri Fadli. “Ya memang berdasarkan hasil rekapitulasi mingguan perkembangan pembangunan UMKM tak sesuai dengan target yang disepakati,” katanya saat ditemui di ruang kerjanya, kemarin.

Tak terpenuhinya target pekerjaan sesuai pelaksanaan, diakui Supri yang menggantikan PPKom sebelumnya Kabid UKM Agus, banyak hal. “Yang jelas pelaksanaan pekerjaan ini terus kita evaluasi,” ungkapnya.

Sekadar untuk diketahui, pelaksanaan proyek pembangunan ruang pamer produk UMKM Kabupaten Pekalongan ini banyak isu terkait dengan lika likunya. Mulai adanya tekanan pejabat hingga pengawas.

Bahkan PPKom Agus yang juga menjabat sebagai Kabid UKM saat itu tak kuat dengan tekanan pada pelaksanaan proyek tersebut. Akhirnya, ia pun mengundurkan diri dan digantikan oleh anak buahnya, Supri Fadli yang menjabat sebagai Kasi.

Saat PPkom diganti risuh kegiatan tak berhenti. Sampai akhirnya, pelaksanaan mengajukan CCO (contract change order). Isi CCO pun sempat membuat pejabat kaget karena yang diajukan yakni pembayaran Jamsostek, IMB, dan beberapa point lagi.

Saat dikonfirmasi, PPkom, Supri Fadli, pun tak membantah adanya perdebatan dalam pelaksanaan proyek. Namun, semua itu sudah bisa teratasi.

“Ya kalau dibilang ada masalah gak ada, tapi memang saat itu ada hal yang memang perlu dikomunikasikan,” terangnya.

Terkait dengan CCO, Supri Fadoli pun tak menapik. Ia menilai, pengajuan CCO wajar dilakukan pelaksana. “Kalau soal CCO, wajar sih pelaksana mengajukan. Namun apakah CCO itu disetujii atau tidak, tergantung. Soal CCO proyek ini memang benar ada, tapi kami menolak karena memang adada beberapa point yang tak masuk akal dan bisa menjadi temuan BPK. Seperti pembayaran Jamsostek, IMB dan beberapa point lagi. Berdasarkan rapat bersama, diputuskan CCO ditolak,” tegasnya.

Menyinggung jabatan PPKom yang diembannya menggantikan atasannya, Supri Fadli mengaku memang semestinya apabila Kabid UKM mundur, diganti yang sejajarnya bukan Kasi. “Aku awalnya sudah tidak mau, tapi karena saya ditunjuk pimpinan dengan alasan saya memiliki sertifikasi, ya jabatan itu akhirnya saya terima,” ungkapnya.

Soal kenapa Kabid UKM mundur, Supri Fadoli tak mau menjawab. “Langsung aja tanya yang bersangkutan,” katanya sambil menelpon Agus yang kebetulan berada di luar ruangan.

Tak lama setelah itu, Agus datang. Kemudian dia menjelaskan bahwa mundurnya dari PPkom karena ia merasa tidak memiliki kemampuan untuk pekerjaan tersebut.

“Secara pengalaman saya tidak punya, makanya saya mundur dan kemudian jabatan diserahkan ke Supri Fadoli yang bersertifikat,” ungkapnya. (wid)

Facebook Comments