Radar Jateng

Embun Membeku, Petani Kentang di Dieng Rugi Ratusan Juta Rupiah

Embun Membeku, Petani Kentang di Dieng Rugi Ratusan Juta Rupiah

Terkena bun upas, tanaman kentang di kawasan dataran tertinggi mati

WONOSOBO – Membekunya embun, atau di kawasan dataran tinggi Dieng atau sering disebut bun upas kembali terjadi pada Rabu (25/7) memukul puluhan petani kentang. Kerugian yang muncul akibat matinya tanaman kentang di kawasan dataran tertinggi di pulau Jawa itu pun diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah.

“Saya jelas rugi tak kurang dari 25 Juta Rupiah karena lahan yang saya tanami kentang mencapai lebih dari tiga perempat hektar di tiga lokasi,” tutur Muslimin (46), salah satu petani kentang dari Dieng Wetan saat ditemui tengah memeriksa tanaman kentangnya yang layu akibat bun upas

Sejumlah petani lain yang ditemui mengalami hal yang sama mengakui suhu di kawasan Dieng pada Rabu pagi dinihari sempat menyentuh angka 0 derajat celcius, yang berarti dapat dipastikan membuat embun membeku.

Seperti halnya waktu-waktu sebelumnya, para petani sebenarnya sudah mahfum dengan kondisi tersebut, namun setiap terjadi tetap merasa sangat terpukul. Sugiyono (52), petani asal Dieng Wetan mengakui pihaknya tidak terlalu banyak mengalami kerugian, karena sebelumnya sudah menyadari potensi bahaya apabila menanam kentang di bulan Juli-Agustus.

“Kalau saya berdasarkan pengalaman saja, sehingga untuk melalui Bulan Juli-Agustus memilih banyak menanam tanaman lain seperti kobis, daun bawang dan wortel,” bebernya.

Tanaman tersebut, menurut Sugiyono lebih tahan terhadap munculnya bun upas sehingga dampak kerugian yang ditimbulkan pun tidak terlalu besar. Selain itu, menurut Sugiyono harga komoditas kentang di bulan-bulan pertengahan tahun tidak terlalu tinggi, yaitu di kisaran 6 ribu sampai 8 ribu rupiah, tergantung jenis dan kualitasnya.

Kepada para rekan-rekan seprofesi petani yang mengalami pukulan akibat bun upas, Sugiyono juga mengaku sudah berkomunikasi perihal tersebut dan turut merasa keprihatinan yang sama.

Aktivis sosial kemasyarakatan asal Wonosobo, Agus Purnomo yang turut memantau situasi di Dieng mengaku merasakan pula keprihatinan terhadap kondisi petani kentang. “Memang semestinya karena sudah sering terjadi para petani dapat memetik pengalaman, agar di tahun-tahun mendatang tidak mengalami kejadian serupa ini,” tutur Agus.

Rata-rata petani yang ditemuinya, diakui Agus bahkan sempat berurai air mata tatkala menyaksikan tanaman kentang di lahan mereka mati karena serangan bun upas. Seperti halnya Sugiyono, Agus berharap agar para petani di kawasan Dieng tak hanya bergantung pada komoditas kentang, dan berupaya untuk menanam jenis tanaman lain yang lebih mampu bertahan ketika menghadapi pembekuan udara. (gus)

Facebook Comments