Radar Batang

Antisipasi Atasi Kebakaran Saat Kemarau, Damkar Siapkan 48 Hydrant

Antisipasi Atasi Kebakaran Saat Kemarau, Damkar Siapkan 48 Hydrant

KEBAKARAN – Kantor Induk Damkar Satpol PP Kabupaten Batang mengimbau masyarakat waspada akan kebakaran lahan khususnya di musim kemarau ini.
NOVIA ROCHMAWATI

BATANG – Menjelang datangnya musim kemarau, Kantor Induk Damkar Satpol PP Batang menyiapkan sebanyak 67 titik sumber air dan 48 hydrant. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi jika terjadi kebakaran ketika musim kemarau datang. Pihaknya sendiri memastikan jika 67 titik sumber air ini masih bisa diandalkan ketika kemarau selain tandon sumur bor yang ada di Kantor Induk Damkar.

“Sebenarnya kami bekerja sesuai dengan Standar operasional yang ada. Mau itu musim kemarau atau penghujan semuanya sama. Kami siap siaga dan apabila ada musibah kebakaran maksimal untuk dalam kota kami akan tiba 15 menit. Sedangkan untuk mengantisipasi kelangkaan air di musim kemarau sendiri kami sudah menginventaris data sumber air se Kabupaten Batang. Untuk memudahkan petugas kami jika pasokan air dari kantor induk tidak mencukupi,” terang Kabid Damkar Satpol PP Batang, Y Gandi W N saat diwawancarai, Senin (23/7).

Dijelaskan, saat ini sendiri sudah ada sekitar 51 hydrant yang tersebar di seluruh Kabupaten Batang, namun dari jumlah tersebut ada tiga hydrant yang rusak. Hanya saja ada beberapa kecamatan yang hingga saat ini belum memiliki hydrant. Seperti di Kandeman, Wonotunggal, Raban, Bawang, Pecalungan, dan Gringsing.

Pihaknya juga melakukan sosialisasi agar masyarakat lebih waspada ketika musim kemarau. Terutama jika melakukan aktivitas pembakaran sampah ataupun yang berhubungan dengan listrik maupun api. Jangan sampai meninggalkan proses pembakaran sebelum selesai. Apalagi di Batang sendiri musim kemarau lebih berpotensi untuk terjadi kebakaran lahan terbuka, contohnya seperti lahan perkebunan tebu.

“Kami mengimbau agar masyarakat lebih waspada ketika melakukan pembakaran di musim kemarau ini. Khususnya di lahan terbuka, seperti di Tragung itu kan banyak lahan tebu seperti itu. Karena memang agak rawan, apalagi jika proses pembakaran tidak diawasi hingga rampung,” tandas Gandi. (nov)

Penulis: Novia Rochmawati

Redaktur: Akhmad Saefudin

Facebook Comments