Radar Kajen

Fasilitasi 53 Ribu UMKM, Pemkab Bangun Ruang Pemer Senilai Rp6,8 M

Pemkab Pekalongan memfasilitasi keberadaan usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang ada di Kota Santri. Seperti apa? M Hadiyan, Kedungwuni

Fasilitasi 53 Ribu UMKM, Pemkab Bangun Ruang Pemer Senilai Rp6,8 M

PEMBANGUNAN – Pembangunan pasar UMKM di Kedungwuni Pekalongan senilai Rp 6,8 miliar sudah mulai berjalan.
MUHAMMAD HADIYAN

PEMKAB sangat perhatian dengan UMKM. Bentuk perhatian dan dukungan dilakukan dengan wujud pembangunan Pasar UMKM atau Gedung Ruang Pamer Produk UMKM di wilayah Kelurahan Kedungwuni Barat (sebelah selatan Pabrik Behaestex). Setidaknya anggaran APBD sebesar Rp 6,8 miliar digelontorkan untuk proyek pembangunan pasar UMKM ini.

Bupati Pekalongan Asip Kholbihi menyatakan, pembangunan Gedung Ruang Pamer Produk UMKM bersumber dari APBD Kabupaten Pekalongan Tahun Anggaran 2018, dengan luas 1.826 meter persegi, nilai pekerjaan sebesar Rp 6.853.903.000 dan waktu pelaksanaan selama 210 hari kalender (sejak 17 Mei hingga 14 Desember 2018).

Menurut Asip, gedung ruang pamer produk UMKM tersebut rencananya untuk menampung dan memberdayakan perwakilan UMKM yang ada di Kabupaten Pekalongan. Jumlah UMKM di Kota Santri cukup banyak, yakni mencapai hampir 53.000 unit usaha.

“Kita ini memiliki sekitar 53 ribu UMKM. Kita harus dukung untuk peningkatan ekonomi masyarakat dan membuka lapangan kerja,” tambahnya.

Jadi, lanjut dia, hal inilah yang ia sebut sebagai keberpihakan Pemerintah kepada UMKM. “Nanti kita akan bantu mensosialiasikan kepada para pembeli agar mau datang dan membeli produk UMKM ke sini,” kata Bupati.

Selain pasar UMKM, Pemkab Pekalongan juga merehabilitasi empat pasar tradisional di Kota Santri pada tahun 2018 ini. Keempat pasar tersebut di antaranya, Pasar Induk Kedungwuni, Pasar Tradisional Doro, Pasar Rakyat Pekajangan, dan Pasar Rakyat Bligo. Pembangunan pasar itu gencar dilakukan dalam rangka meningkatkan ekonomi masyarakat.

Bupati Asip Kholbihi, secara resmi melakukan ground breaking (peletakan batu pertama) pembangunan Pasar Rakyat Bligo Kecamatan Buaran dan Pasar Rakyat Pekajangan Kecamatan Kedungwuni, Jumat (20/7) pagi.

“Setelah pekan kemarin kita meletakkan batu pertama di Pasar Induk Kedungwuni, hari ini (kemarin, red), kita laksanakan hal serupa untuk pembangunan pasar Bligo Buaran dan Pasar Pekajangan Kedungwuni,” jelas Bupati Asip Kholbihi, kemarin.

Dijelaskan, sumber dana pembangunan Pasar Rakyat Bligo dan Pekajangan berasal dari Dana Alokasi Khusus (DAK). Dengan nilai kontrak sebesar Rp 1.220.000.000 untuk Pasar Rakyat Bligo, dan Pasar Rakyat Pekajangan sebesar Rp 1.294.954.000. Jangka waktu pelaksanaan pembangunan masing-masing selama 150 hari kalender.

Pasar Rakyat Bligo, luasnya 735 meter persegi dengan jumlah pedagangnya sebanyak 120 orang. Sedangkan untuk Pasar Rakyat Pekajangan luasnya 1.060 meter persegi dengan 216 pedagang.

“Launching atau peletakan batu pertama ini dimaksud untuk menandakan bahwa pembangunan pasar telah dimulai, sekaligus untuk membuka partisipasi kontrol dari masyarakat. Ini upaya kita bagaimana membuka ruang publik, agar masyarakat turut aktif terhadap pembangunan di daerahnya,” terang Asip.

Ia berharap, pembangunan pasar-pasar tradisional dapat meningkatkan ekonomi masyarakat dan pelaku UMKM yang ada di Kota Santri. “Semoga, setelah pasarnya baru. Para pedagang makin laris dagangannya. Para pembeli makin nyaman. Sehingga kesejahteraan masyarakat semakin meningkat,” tandasnya. (yan)

Penulis: Muhammad Hadiyan | Radar Pekalongan
Redaktur: Widodo Lukito

Facebook Comments