Radar Batang

Lengah Sedikit Saja Kursi Incumbent Bisa Dilibas Wajah Baru

Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Batang, Hj Junaenah

Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Batang, Hj Junaenah

SEBANYAK 14 parpol di Kabupaten Batang sudah resmi mengajukkan pendaftaran bakal calon legislatifnya kke KPU setempat, belum lama ini. Total ada 348 nama bacaleg di mana 45 di antaranya adalah mereka yang saat ini masih duduk sebagai anggota DPRD Batang 2014-2019 alias berstatus incumbent.

Untuk daftar rincian jumlah bacaleg yang sudah didaftarkan seluruh partai, PDIP dan Golkar menjadi parpol dengan jumlah bacaleg terdaftar paling banyak, yakni masing-masing 45 orang atau angka maksimal. Sementara untuk parpol lain, PKB 36 bacaleg, Gerindra 38, Nasdem 34, Partai Berkarya 9, PKS 40, Perindo 16, PPP 35, PSI 3, PAN 25, Hanura 20, Demokrat 41, dan PBB 6 bacaleg.

Salah satu isu menarik di sekitar pertarungan menyongsong Pemilu Legislatif (Pileg) 2019 tersebut adalah kemungkinan nasib patahana. Dalam konteks pertarungan bebas, para incumbent dinilai memiliki nilai unggul menyangkut sumber daya politik, paling tidak soal popularitas, jejaring, dan bukti kinerja selama ini.

Namun, dengan mekanisme suara terbanyak yang sudah diberlakukan sejakk Pemilu 2009, tiga hal itu diyakini tidaklah menjadi garansi bagi patahana untuk duduk kembali di kursi DPRD Batang. “Bisa jadi kepemilikan dana aspirasi selama ini menjadikan incumbent aman, tetapi bukan jaminan. Hemat saya, kuncinya kembali pada figure calegnya,” kata Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Batang, Hj Junaenah, Minggu (22/7), yang kembali terdaftar sebagai bacaleg 2019 di partainya.

Sebagai orang Jawa, pengusaha beras hingga properti itu meyakini jika soal memanen tak mungkin dilepaskaitkan dengan proses menanamnya. Orang itu piye nandure, kata dia. Meski memiliki dana aspirasi, tetapi jika komitmen keberpihakannya terhadap konstituen di dapilnya rendah, bukan mustahil mereka akan tergerus.

“Masyarakat tidak bodoh, mereka tentu butuh trust, kepercayaan. Meski incumbent, kalau kerjanya tak becus kan belum tentu jadi. Sebalikknya, walaupun wajah baru, kalau sosoknya sudah dikenal, nandure apik, ya insya Allah dipilih rakyat,” terang Junaenah.

Namun demikian, dia optimis mampu mengulang suksesnya di Pileg 2014 silam. Saat itu Junaenah mampu meraup suara hingga 4 ribu lebih. Namun, berada di Dapil 1 yang disebut sebagai dapil neraka, membuat dia tak mau merasa aman.

“Insya Allah, saya siyap bertarung dengan wajah-wajah baru di Pileg 2019 nanti. Kita saling berlomba dalam kebaikan, takk perlu pakai cara-cara culas dan curang, agar hasilnya bias diterima semua dengan lapang dada,” ucapnya.

Bacaleg Dapil 3, Yuswanto, pun menyampaikan pandangan senada. Ketua DPD PAN Batang itu menilai status incumbent tak boleh membuat para caleg meremehkan wajah-wajah baru.

“Secara matematis, incumbent mungkin diuntungkan. Tetapi di level praksis, kalkulasi itu bias berbalik. Kalau incumbent leyeh-leyeh, dia bias dilibas wajah baru yang potensial,” tandas anggota Komisi C DPRD Batang itu.

Pileg 2014 Yuswanto sukses menghimpun 3.880 suara. Meski optimis kembali mampu bersaing di Pemilu 2019, dia menilai tidak mudah mengukur peluang probabilitas calon-calon dari wajah baru.

“Tidak ada jaminan, kalau meremehkan calon lain ya bias tergusur. Faktanya ya di 2014 lalu, banyak kokk incumbent yang tumbang. Intinya, meski punya keunggulan, tetapi menjadi patahana tak menjamin kita bias jadi lagi. Kuncinya tetap berjuang, fight merebut hari masyarakat pemilih,” ujarnya. (sef)

Penulis: Akhmad Saefudin | Radar Pekalongan
Redaktur: Doni Widyo

Facebook Comments