Radar Pendidikan

Duh, 500 Anak Berkebutuhan Khusus Belum Bersekolah

500 Anak Berkebutuhan Khusus Belum Bersekolah

APRESIASI – Wakil Bupati Batang, Suyono, saat mengapresiasi siswa SLB yang berbakat, salah satunya dengan memberikan kaca mata pada Aulia Safina yang meski tuna netra namun mampu menyanyi dengan merdu dan sempat membuat Suyono menitihkan air mata.
NOVIA ROCHMAWATI

BATANG – Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) tak jarang masih dipandang sebelah mata. Tak heran, lebih dari 500 ABK di Kabupaten Batang bahkan tercatat belum bersekolah.

Di Kabupaten Batang sendiri ditaksir ada sekitar 700 an ABK yang tersebar di berbagai wilayah. Namun dari jumlah itu, baru 156 di antaranya yang sudah berkesempatan mengenyam pendidikan khusus.

Padahal, di balik keterbatasannya, anak-anak berkebutuhan khusus ternyata menyimpan bakat-bakat terpendam sejauh mendapatkan sentuhan pendidikan yang baik dan benar. Salah satunya seperti yang ditunjukkan siswa disabilitas dalam kegiatan Pembinaan dan Halal bi Halal Guru dan Kepala Sekolah SLB se Karesidenan Pekalongan di SLB Negeri Batang, Rabu (18/7).

Bahkan, Wakil Bupati Batang, Suyono, pun dibuat terharu dan tak kuasa meneteskan air mata, saat salah satu siswa berbakat, Aulia Safina, menyanyikan lagu tentang kisah anak-anak Disabilitas.

Suyono sendiri memberikan apresiasi dua buah kaca mata kepada Safina dan temannya. Wabup juga mengapresiasi penampilan penari babalu asal SLB Negeri Batang yang juga merupakan tuna rungu dan wicara.

Melihat suksesnya SLB dalam menelurkan bakat-bakat siswanya, Suyono sendiri pun menjanjikan untuk membantu SLB. Terlebih, ia sendiri miris melihat masih kurang layaknya SLB Batang. Padahal seharusnya, sekolah untuk anak ABK ini harus lebih baik dan mampu mengakomodir kebutuhan mereka.

“Jadi memang SLB sendiri wewenangnya sudah milik pemprov. Namun kalau memang ada kekurangan dan kami pemkab Batang bisa membantu, insya allah akan kami bantu. Karena yang sekolah di sana kan juga anak-anak Batang,” kata Wabup.

“Dan seharusnya sekolah mereka harus sempurna karena untuk mengakomodir kebutuhan mereka. Kami juga apresiasi para guru yang sudah telaten mendidik mereka hingga mempunyai bakat dan kemampuan yang luar biasa ini. Kami harap dengan ini makin banyak orang tua yang menyekolahkan anak ABKnya di sini,” lanjut Suyono.

Sementara Kepala Bidang PKLK Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, Padmaningrum, mengatakan, Anak disabilitas memang memiliki kebutuhan khusus. Tetapi di balik keterbatasanya, mereka menyimpan bakat dan telenta masing – masing.

“Oleh karena itu, guru SLB harus bagaimana caranya dalam melatih kemandirian terhadap anak – anak disabelitas sangat di perlukan. Saya yakin, anak disabilitas yang sekolah di SLB merupakan warga Kabupaten Batang, jadi saya ingin ada sinergitas antar OPD dalam melaksanakan gerakan – gerakan kemandirian,” pinta Padmaningrum.

Kepala SLB Negeri Batang, Sujarwo juga sangat mengapresiasi pemkab Batang yang sudah peduli pada kondisi SLB. Pihaknya berharap agar dapat diberikan satu lokal gedung yang berada di SMA LB.

Harapannya, kata dia, gedung tersebut dapat menjadi pusat latihan kerja siswa. Terlebih, untuk kelas sendiri SLB seharusnya dapat menampung sekitar 700 ABK sesuai dengan data yang dimiliki PKK dan Dharma Wanita. Namun saat ini SLB hanya dapat menampung 156 anak dari SD hingga SMA. (nov)

Penulis: Novia Rochmawati | Radar Pekalongan
Redaktur: Dalal Muslimin

Facebook Comments