Metro Pekalongan

Ternyata, Kota Pekalongan Masih Endemis Kaki Gajah

Ternyata Kota Pekalongan Masih Endemis Kaki Gajah

RAKOR – Dinkes menggelar rapat koordinasi dalam rangka menggelar POMP Filariasis pengulangan tahun kedua, Senin (16/7).
M. AINUL ATHO’

KOTA PEKALONGAN – Kota Pekalongan tercatat menjadi satu dari sembilan kabupaten kota di Jawa Tengah, yang masih endemis filariasis atau penyakit kaki gajah. Data itu didapatkan dari hasil survey Kementerian Kesehatan RI di sejumlah kelurahan di Kota Pekalongan. Hasilnya, dari 49 orang yang dites, tujuh orang dinyatakan positif mengandung. Angka tersebut menunjukkan bahwa Kota Pekalongan masih endemis filariasis.

Padahal, Kota Pekalongan termasuk salah satu daerah yang paling awal menggelar Pemberian Obat Massal Pencegahan (POMP) Filariasis yakni sejak tahun 2011. Selama lima tahun, Kota Pekalongan melaksanakan POMP Filariasis. Namun dari hasil tes, ternyata angka mikro filaria masih diatas angka 1 persen yang artinya Kota Pekalongan masih masuk kategori endemis filariasis dan perlu mengulangi kegiatan POMP Filariasis selama dua tahun.

Tahun lalu, POMP Filariasis sudah dilaksanakan namun belum memenuhi target sasaran sehingga tahun ini diharapkan POMP Filariasis dapat lebih efektif.

Kepala Dinas Kesehatan, Slamet Budiyanto, dalam pengarahannya menyatakan bahwa tingkat kepatuhan minum obat filariasis masyarakat masih rendah. “Tahun 2017 lalu, cakupan pemberian obat mencapai 90 persen namun tingkat kepatuhan minum obat baru mencapai 65 persen. Masih ada 35 persen masyarakat yang tidak minum,” ujarnya dalam kegiatan rakor POMP Filariasi tahun kedua, Senin (16/7).

Ia menekankan, harus ada monitoring secara ketat agar masyarakat mengkonsumsi obat yang dibagikan. Pembagian obat filariasis, lanjutnya, dilakukan melalui kader dari Puskesmas. Namun ia meminta petugas di Puskesmas agar melakukan monitoring agar obat benar-benar dikonsumsi.

“Sejak tahun 2011 -2015, cakupan distribusi obat memang tinggi, tapi tentang tingkatan kepatuhan benar-benar minum obat dari hasil evaluasi tahun 2011 hanya 63,01 persen dan tahun 2012 kepatuhannya turun 60,89. Banyak yang beralasan sudah minum obat ditahun pertama dan beralasan merasakan pusing mual. Kemudian tahun 2013 turun lagi 55,8 persen dengan alasan karena bosan minum obat padahal kita tahu target WHO harus lebih 65 persen dan kalau kurang harus diulang selama dua tahun,” bebernya.

Kemudian dari hasil evaluasi tahun 2014 akhir, angka mikrofilariarte masih 9,7 persen. Selain itu dari sisi nyamuk, hasil penelitian Undip menunjukkan dari 49 nyamuk yang ditangkap delapan diantaranya positif mengandung cacing mikro filaria. Selanjutnya tahun 2015 evaluasi lagi dan masih ada positif 1 persen Jenggot dan Kertoharjo positif.

“Kita harus bisa hilangkan faktor resiko di manusianya. Yang betul terindikasi harus minum obat karena kita semua beresiko. Jadi kita harus semuanya minum. Kemudian dari sisi nyamuknya, harus kita lenyapkan. Saya punya pemikiran pada daerah terinidikasi serius, sebelum dilakukan minum obat selurunya difogging dulu,” tutur Slamet Budiyanto.

Ia meminta ada koordinasi dari camat dan lurah untuk fogging guna menghilangkan nyamuk. Setelah nyamuk hilang, maka dilakukan minum obat bersama-sama. Selanjutnya, untuk memastikan nyamuk hilang lagi seminggu berikutnya dilakukan fogging kembali.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinkes, Tuti Widayanti, mengatakan saat ini sebagian obat sudah diedarkan oleh kader ke beberapa kelurahan. Selanjutnya, Dinkes akan memastikan bahwa obat yang sudah didistribusikan tersebut benar-benar dikonsumsi. “Target selanjutnya adalah di sekolah. Akan digelar minum obat bersama di kelas yang diinisiasi oleh guru masing-masing,” tuturnya.

Untuk tahun ini, target sasarannya adalah 292.150 jiwa. Dinkes menggerakkan sebanyak 1.500 kader diluar petugas dari Puskesmas. “Kendala terbesar adalah kesadaran masyarakat masih rendah. Ini yang perlu kita dorong. Jika takut resiko pusing atau mual, maka obat bisa diminum sebelum tidur setelah makan,” tambahnya.

Mengenai resiko jika angka micro filariarate masih tinggi, Tuti menyatakan bahwa potensi masyarakat terkena penyakit filariasis juga akan semakin tinggi. Bagi yang sudah terjangkit, maka akan semakin parah yakni cacat dengan besar di bagian tubuh tertentu. Sementara bagi yang belum juga sangat berpotensi terjangkit lewat penularan gigitan nyamuk. “Sehingga minum obat ini sangat penting untuk pencegahan dan pengobatan gejala awal filariasis,” pesannya.(nul)

Penulis: M Ainul Atho | Radar Pekalongan
Redaktur: Abdurrahman

Facebook Comments