Metro Pekalongan

Gara-gara Ini Akhirnya SMP-SMA Masehi Ditutup

SMP SMA Masehi Di Bubarkan

PROTES – Sejumlah poster dan karangan bunga berisi protes penolakan terhadap keputusan penutupan SMP dan SMA Masehi di tempel di pintu masuk sekolah.
M. AINUL ATHO

KOTA PEKALONGAN – SMP dan SMA Masehi Kota Pekalongan, resmi akan ditutup oleh pihak yayasan yang mengelola dua sekolah itu. Alasan utama penutupan yakni karena jumlah siswa di sekolah milik Yayasan Masehi tersebut terus menurun. Sehingga pihak yayasan memutuskan menutup dua sekolah tingkat lanjut itu dan akan berfokus pada pendidikan dasar mulai dari TK hingga SD.

Keputusan penutupan SMP dan SMA Masehi, membuat kaget para guru dan siswa. Mereka mengaku mendapat informasi tersebut secara tiba-tiba dan tidak mengetahui adanya rencana penutupan sekolah. “Keputusan itu disampaikan langsung dalam rapat pada hari Kamis lalu. Sebelumnya kami belum pernah menerima informasi tentang rencana itu,” tutur Kepala SMA Masehi, Samuel.

Terkait alasan penutupan, ia juga mengaku tak tahu banyak. Karena saat pertemuan pihak yayasan hanya menyampaikan keputusan tersebut disertai beberapa opsi bagi siswa-siswi untuk melanjutkan ke sekolah lain. “Jadi sudah diberikan opsi pilihan apakah mau pindah ke SMA Bernadus untuk SMA dan SMP Pius untuk SMP. Atau, mau tetap tinggal,” katanya.

Jika berpindah ke sekolah yang direkomendasikan yayasan, maka pihak yayasan akan menanggung semua biaya pendaftaran maupun biaya lain yang dibutuhkan. “Keputusannya ada pada orang tua murid. Semua dikembalikan ke orang tua murid apakah dipindah ke sekolah yang sesuai dengan rekomendasi yayasan atau tetap tinggal disini,” tambah Samuel.

Akibat informasi adanya penutupan SMP dan SMA Masehi, sejumlah siswa terpantau melakukan aksi protes di halaman sekolah pada Jumat (13/7), lengkap membaa spanduk dengan isi penolakan terhadap keputusan. Beberapa kertas berisikan protes dan tuntutan agar sekolah tidak ditutup, dibawa dan ditempelkan di beberapa titik. Juga ada satu karangan bunga yang mengucapkan bela sungkawa atas keputusan itu. Karangan bunga tersebut mengatasnamakan alumni SMP dan SMA Masehi.

Salah satu siswa, Alan Firanda, menyatakan penolakan atas keputusan itu. Sehingga, Alan bersama 15 rekannya yang lain menggelar aksi untuk menolak penutupan SMP dan SMA Masehi. “Baru tahu dua hari lalu menerima informasi bahwa sekolah akan ditutup karena muridnya sedikit. Sehingga kami menggelar aksi ini bersama teman-teman,” tutur Alan.

Dikatakan Alan, pihak yayasan juga sudah menyiapkan opsi bagi siswa untuk pindah. Siswa SMP diarahkan ke SMP Pius dan siswa SMA diarahkan masuk ke SMA Bernadus. “Kalau saya berharap tetep disini. Saya masih pengen sekolah tapi bingung juga karena sekolahnya akan ditutup. Saya bingung, giliran mau sekolah tapi susah begini. Padahal tiga hari lagi sekolah berangkat,” tambahnya.

Berdasarkan informasi, saat ini jumlah siswa SMP dan SMA ada sebanyak 40 anak. Untuk kelas VIII SMP terdapat 16 siswa, dan kelas IX SMP terdapat tujuh siswa. Sedangkan untuk SMA, berdasarkan informasi hanya ada tujuh siswa baru yang mendaftar.

Pengurus Yayasan Masehi, David Santosa saat dikonfirmasi mengakui bahwa jumlah siswa yang sedikit dan terus menurun merupakan alasan utama pihak yayasan memutuskan menutup SMP dan SMA. Selain itu, yayasan juga memiliki rencana untuk meningkatkan kualitas sekolah sehingga untuk sementara waktu akan berfokus pada pendidikan dasar.

Keputusan itu, lanjut David, juga tidak diambil secara tiba-tiba. Pihak yayasan mengambil keputusan itu setelah melalui rapat bersama orang tua siswa dan pihak sekolah. Yayasan juga telah berkomunikasi dengan SMP Pius dan SMA Bernadus sebagai alternatif sekolah bagi siswa. “Semua anak didik sudah selesai dan mendapat sekolah dengan baik. Mereka dapat melanjutkan jenjang lebih tinggi dan hanya biaya SPP yang ditanggung ortu. Biaya lain yang timbul semua ditutup oleh Yayasan,” katanya.

David menyatakan, pasca keputusan itu yayasan akan melakukan penataan ulang dengan harapan beberapa waktu ke depan sekolah akan aktif kembali dengan iklim dan mutu yang lebih meningkat. Untuk sementara, semua jenjang pendidikan SMP ke bawah akan disentralkan ke gedung sekolah di Jalan Kurinci sebagai bagian pengembangan kampus Masehi terpadu ke depannya.

Ketua Yayasan Masehi, Christanto menambahkan, latar belakang keputusan yayasan adalah untuk melakukan perbaikan dan peningkatan kualitas. Sehingga yang menjadi prioritas utama adalah pondasinya, yakni sekolah tingkat dasar. “Kondisi SMP dan SMA baik-baik saja. Kami sudah bertemu orang tua murid dan sudah ada solusinya. Mereka diberikan kebebasan untuk memilih pindah ke sekolah yang sudah direkomendasikan. Yang jelas untuk semua siswa baru yang mendaftar akan dipindah seluruhnya,” jelas Christanto.

Sedangkan kelas sisanya yakni kelas VIII dan IX untuk SMP serta kelas XI dan XII SMA, bergantung pada pilihan orang tua. Bagi yang memutuskan pindah, maka yayasan bertanggung jawab penuh terkait dengan biaya masuk ke sekolah baru. (nul)

Facebook Comments