Puisi

PUISI : Elegi Perahu Tua

KURNIA HIDAYATI

KURNIA HIDAYATI

1/
Yang jauh di belakang punggung; waktu dan hari-hari
Ingatan lesap, di tahun-tahun yang berganti
Umpama membilang ajal yang tiba tanpa pertanda
Aku mengeja was-was yang rumit jalinan jala
Menjaring kata-kata beralunan iba
“Betapa malang nasib sang petualang!
Terkatung di tempatnya pulang.
Tiada lagi kidung perahu berangkat menebar pukat
Hanya perahu tua, menanti kehancurannya …”
Begitulah orang-orang berkata, semenjak aku undur dari arung samudera
barangkali udzur adalah sebuah keniscayaan
yang memilukan di antara digdayanya kenangan

2/
Kini, hanya dermaga menjelma telingabagi perahu tua
Yang lapuk dan terluka
Para kelasi telah pergi
Mendekati perahu lain yang sarat dengan mimpi; perahu perkasa yang lihai
membelah samudera

Tinggal menunggu kapan aliran lekas mencerna bagian-bagian badan
Tapi izinkan untuk mengenang
Bagaimana tangguhnya menaklukkan badai
Sebelum jasadku benar-benar hilang

Batang, 31 Agustus 2017

Oleh: KURNIA HIDAYATI
Kurnia Hidayati lahir di Batang, Jawa Tengah, 1 Juni 1992. Tulisannya pernah dimuat di berbagai media massa seluruh Indonesia baik lokal maupun nasional serta tergabung di beberapa antologi. Buku puisi tunggalnya berjudul Senandika Pemantik Api terbit tahun 2015. Saat ini bekerja di SMA N 1 Batang.

Redaksi Radar Pekalongan membuka kolom pojok puisi yang ditayangkan setiap Hari Sabtu. Karena itu, redaksi menerima kiriman naskah puisi dari pembaca di Kabupaten Batang. Pengiriman disertai biodata singkat penulis ke alamat email: saman.saefudin@gmail.com.

Facebook Comments