Radar Kendal

Biar Tahu Rasa, Penyebar Berita Hoax Diamankan Polisi

Bukti Positngan Hoax

BUKTI – Kasatreskrim Polres Kendal, AKP Nanung Nugroho I menunjukan bukti postingan berita hoax yang diunggah pelaku melalui akun facebook.
AKHMAD TAUFIK

Terkait Tawuran antar Suporter

Hati-hati menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya di media sosial. Sebab jika terbukti hoax, pelaku bisa berurusan dengan aparat penegak hukum. Seperti dialami NK, gara-gara unggahannya soal tawuran suporter saat laga Persik Kendal kontra Persis Solo, dia harus diamankan dan menjalani pemeriksaan di Polres Kendal.

Dalam postingan tersebut, NK menyebut adanya korban meninggal dunia saat bentrok suporter yang meluas sampai Mangkang itu. Padahal, yang sebenarnya hanya ada korban luka ringan. Itupun setelah diperiksakan ke rumah sakit para korban langsung pulang. Tanpa menunggu lama, Polres Kendal pun mengamankan pelaku.

“Itu berita tidak benar alias hoax. Kami langsung gerak cepat memburu pelaku penyebar berita hoax tersebut dan sudah kami amankan sementara identitas pelaku berinisial NK. Kenapa kami langsung bertindak cepat karena ini bisa memicu masalah lagi,” kata Kasatreskrim Polres Kendal, AKP Nanung Nugroho I ST MH, Kamis (12/7).

Pihak kepolisian sendiri belum mengatakan bahwa motif pelaku menyebarkan berita hoax tersebut hanya sekedar iseng saja. Padahal, berdasarkan informasi, NK tidak menyaksikan pertandingan Persik Kendal dan Persis Solo yang digelar beberapa waktu lalu.

Untuk statusnya sendiri disebutkan Nanung masih terperiksa. Bahkan pelaku juga sudah meminta maaf atas tindakannya tersebut melalui akun facebook. Meski demikian, kepolisian memastikan proses hukum tetap berlanjut.

” Sementara ini statusnya masih terperiksa dan belum kami tahan karena yang bersangkutan kooperatif. Artinya, secara terbuka dia mengakui perbuatannya ,” ujarnya.

Kasatreskrim melanjutkan, apabila terduga pelaku terbukti melakukan tindakan tersebut, maka dapat diancam pasal 28 ayat 2 KUHP tentang UU ITE dengan ancaman 6 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar.

“Ini salah satu contoh kasus yang tidak pantas ditiru karena memprovokasi yang dapat berdampak fatal. Ini menjadi pelajaran untuk semuanya agar tidak sembarangan menyebarkan berita apalagi yang tidak jelas kebenarannya,” pungkasnya. (fik)

Facebook Comments