Radar Batang

Awas, Rob Intai Pesisir Batang

2018, Pemprov Anggarkan Rp 9,3 M untuk Geotube

Pemasangan teknologi geotube di sebagian bibir Pantai Sigandu, tahun 2015 silam, ternyata efektif mengurangi dampak abrasi. Namun Pemkab Batang justru mulai disibukkan dengan fenomena rob yang mulai mengintai sedikitnya dua desa/kelurahan dalam dua tahun terakhir.

“Semenjak pemerintah daerah melakukan penanganan abrasi dengan membuat penahan gelombang menggunakan material geotekstil pada tahun 2015 lalu, hingga kini Batang dalam kondisi stabil dari bencana abrasi,” ungkap Kasi Konservasi Dinas Kelautan dan Perikanan Batang, Hermanto. saat ditemui dikantornya, Rabu (11/7).

Ia mengungkapkan, bencana abrasi pernah terjadi di Kabupaten Batang pada tahun 2011 hingga 2015. Yang mana dengan adanya bencana itu, membuat sejumlah fasilitas wisata hilang dan air laut mulai mendekati pemukiman.

“Dulu akibat bencana abrasi, daratan pantai bisa hilang 50-60 meter. Kemudian, akibat bencana itu juga sekitar 3.000 pohon cemara, gazebo, ruko, mako TNI AL, lampu taman, tempat parkir, musala dan kamar mandi bilas bagi wisatawan rusak dan hilang,” bebernya.

Namun demikian, kata Hermanto, bencana abrasi itu dimungkinkan masih bisa terjadi di Kabupaten Batang. Mengingat masih adanya peningkatan gelombang, peningkatan paras muka air laut dan bangunan yang menjorok ke laut.

“Selain itu, adanya GT di Sungai Sambong dan Pelabuhan Niaga di sebelah Barat pantai Sigandu, bisa memicu timbulnya bencana Abrasi. Oleh karenanya, sudah kita bahas dan akan kita tambah serta perluas jumlah material geotekstil,” terangnya.

Ia menyebutkan, penanganan yang sudah dilakukan pemerintah daerah untuk menangani bencana abrasi di Kabupaten Batang hanya dengan membuat material geotekstil itu saja. Yang mana, pada tahun 2018 ini, material tersebut akan kembali didatangkan dengan jumlah yang cukup banyak.

“Tahun 2018 ini, tepatnya di bulan September kita akan kembali memasang material geotekstil. Akan kita pasang sepanjang 1.700 meter, dari mulai pantai Sigandu hingga Depok. Dan kemungkinan, tahun depan akan ada penambahan material lagi, sehingga bisa sampai dengan pantai Ujungnegoro,” terangnya.

Ia mengatakan, dana yang dikeluarkan untuk beaya pemasangan material geotekstil itu mengalami peningkatan dari tahun 2015 silam. Tahun 2015 dana yang dikeluarkan sebesar Rp 3 miliar sedang pada tahun 2018, pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengeluarkan dana sebesar Rp9,3 miliar.

“Selain untuk meredam laju abrasi, manfaat lain dari pemasangan geotekstil ini ialah untuk meredam gelombang air laut, serta sebagai perangkap pasir yang terbawa gelombang air laut, sehingga bisa membentuk daratan baru,” ungkapnya.

Sementara itu, kata Hermanto, penanaman tumbuhan mangrove dan cemara laut di sepanjang pesisir pantai Kabupaten Batang kurang efektif, dan cenderung tidak bisa menyelamatkan daratan dari bencana abrasi.

“Kurang efektif, karena tingkat kerapatan dan populasinya kurang. Kalau mau ditanam pun akan susah, karena Batang bukan daerah populasi tanaman mangrove. Dan tanaman mangrove itu hanya tumbuh di pematang sungai dan tambak,” katanya.

Ditambahkannya, selain ancaman bencana abrasi, saat ini pihaknya tengah fokus untuk menangani rob. Bencana akibat air laut pasang itu baru muncul pada tahun 2018 ini di Kelurahan Karangasem dan Klidang Lor.

“Kita tengah disibukkan dengan adanya ancaman air rob. Yang sudah mencapai 1 kilo dari bibir pantai. Ancaman ini baru muncul tahun ini, dan tahun sebelumnya belum ada,” ucapnya.

Bencana rob itu, kata Hermanto, terjadi karena naiknya paras muka air laut. Untuk menanganinya, pihak Dsilutkannak Kabupaten Batang sudah mengkoordinasikannya kepada pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

Karena semenjak UU nomor 23 tahun 2014 diterbitkan, kewenangan pengelolaan pantai sudah tidak lagi dipegang pemerintah daerah setempat, melainkan sudah dipegang pemerintah Provinsi.

“Oleh karenanya, kita tidak bisa leluasa bertindak atau menindak lanjuti segala kejadian yang terjadi di sekitar pantai. Harus kita ajukan terlebih dulu ke pemerintah Provinsi,” pungkasnya. (fel)

Facebook Comments