Metro Pekalongan

Tak Layak, Tiga Pendaftar Ber-SKTM Didiskualifikasi

SKTM Diskualifikasi

HASIL VERIFIKASI – Kepala SMKN 2 Pekalongan Isniharsih Feriany menunjukkan lembaran berisi data hasil verifikasi dan survei calon siswa ber-SKTM, kemarin (10/7).
WAHYU HIDAYAT

PPDB di SMKN 2 Pekalongan

Sebanyak tiga calon siswa yang melampirkan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM), untuk mendaftar di SMK Negeri 2 Pekalongan, didiskualifikasi atau dicoret dari daftar siswa yang diterima pada PPDB online tahun pelajaran 2018/2019.

Dari hasil survei dan verifikasi di lapangan oleh tim SMKN 2 Pekalongan, ketiga calon peserta didik tersebut, dinilai tidak layak jika dimasukkan kategori sebagai siswa miskin.

Demikian disampaikan Kepala SMKN 2 Pekalongan, Isniharsih Feriany SPd MSi, kepada Radar Pekalongan, Selasa (10/7) siang. “Ada tiga yang didiskualifikasi karena hasil survei yang bersangkutan bukan dari keluarga tidak mampu,” ungkapnya.

Siswa Miskin Hampir Dua Pertiga

Isniharsih menyampaikan, pendaftar ber-SKTM yang diterima di SMKN 2 jumlahnya cukup banyak. Mencapai hampir dua pertiga dari total daya tampung. Tercatat ada 267 pendaftar yang melampirkan SKTM dan KIP untuk mendaftar, dari total daya tampung 408 siswa.

Bahkan berdasar pantauan data statistik sementara PPDB Online SMKN 2 Pekalongan, sampai hari Selasa (10/7) pukul 14.00 WIB, ada salah satu program keahlian atau kompetensi yang jumlah siswa miskinnya mencapai hampir seratus persen. Yakni pada bidang kompetensi Otomatisasi dan Tata Kelola Perkantoran, dari total 68 calon siswa yang diterima, sebanyak 67 diantaranya adalah siswa miskin.

Prosentase siswa miskin yang cukup tinggi juga ada pada bidang kompetensi Akuntasi dan Keuangan Lembaga. Dari total 136 siswa, 106 diantaranya merupakan siswa miskin.

Lakukan Survei dan Verifikasi Lapangan

Isniharsih menyatakan, pihaknya sudah melakukan berbagai langkah dan upaya untuk mengantisipasi penyalahgunaan SKTM. Ini bahkan dilakukan sejak awal pendaftaran.

Dengan mengerahkan seluruh potensi yang ada di sekolah, pihaknya melakukan berbagai langkah. Misalnya pada Jumat lalu, pihaknya telah memilah-milah para pendaftar ber-SKTM. Dari situ kemudian dilakukan pendataan dan mengecek data pada kartu keluarga (KK).

Kemudian diputuskan untuk mengundang seluruh orang tua calon siswa yang ber-SKTM untuk hadir di sekolah pada hari Minggu kemarin. Undangan disampaikan secara resmi dan tertulis maupun melalui sarana lain. “Kita sampaikan undangan langsung ke alamat rumah yang bersangkutan, sekalian melihat kondisi rumah mereka dan melakukan verifikasi,” katanya.

Kurang lebih 70 persen orang tua calon siswa ber-SKTM yang datang ke sekolah, untuk menerima pemaparan segala hal berkaitan SKTM. Selain itu untuk menandatangani surat pernyataan bermaterai, bahwa apa yang disampaikan dalam SKTM itu benar adanya.

“Tak sedikit pula yang akhirnya mencabut berkas SKTMnya. Dengan kesadaran mereka sendiri. Mereka mengundurkan diri karena merasa sebenarnya bukan dari keluarga miskin,” katanya.

Sedangkan dari survei yang dilakukan, didapatkan hasil bahwa ternyata sebagian besar pendaftar ber-SKTM itu memang dari keluarga ekonomi tidak mampu. Pihaknya pun sudah menyusun daftar calon siswa yang mendaftar yang memang layak masuk kategori siswa miskin. Datanya lengkap, berisi nama, alamat, foto kondisi rumah, disertai keterangan tentang kondisi keluarganya.

“Memang mereka layak punya SKTM. Misalnya, ada yang rumahnya cukup bagus, tetapi ternyata bapaknya beberapa waktu lalu meninggal dunia, sedangkan ibunya hanya jualan gorengan. Ada pula yang rumahnya cukup besar tapi itu rumah warisan dan ditinggali beberapa KK. Selain itu banyak yang memang kondisi rumahnya cukup memprihatinkan, dan menurut keterangan dari tetangganya memang orang tidak mampu,” ungkapnya.

Isniharsih menambahkan, apa yang tertera dalam jurnal dan statistik PPDB hingga kemarin sampai Selasa tengah malam masih ada kemungkinan untuk berubah. Setelah itu, sistem akan ditutup dan siswa yang resmi diterima akan diumumkan pada Rabu (11/7).

Namun menurutnya, meskipun sudah diumumkan, tidak menutup kemungkinan siswa yang telah diterima akan dikeluarkan bilamana di kemudian hari ada data yang tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya. “Apabila setelah pengumuman ada aduan dari masyarakat dan sebagainya, kemudian dari verifikasi lanjutan memang demikian, ya kita tidak segan untuk mencoretnya. Yang jelas sampai saat ini survei dan jurnal PPDB masih jalan terus,” imbuhnya kemarin. (way)

Facebook Comments