Radar Kajen

Gimana Ini, Hanya Gara-gara Usainya 15 Tahun, Ditolak Sekolah

Mengadu ke Dindik

NGADU – Orang tua siswa, Basri (53) dan Etik (45), mengadukan nasib anaknya ke Dindibud Kabupaten Pekalongan karena ditolak masuk SMP dengan alasan usia.
TRIYONO

Ortu Ngadu ke Dindikbud

Orang tua siswa, Etik (45) dan Basri (53), warga Perum GWA, Wonokerto, mengadu ke pejabat di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, kemarin, lantaran anaknya ditolah masuk SMP karena usia sudah lebih 15 tahun.

Hal itu diakui Etik. Kepada sejumlah awak media, ia mengaku mengadu ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan secara langsung diharapkan ada solusi untuk nasib anaknya tersebut. Sebab, anaknya sangat bersemangat untuk melanjutkan sekolah seperti teman-temannya yang lain. Namun jawaban dari dinas membuatnya cukup berkecil hati. Pejabat di dinas yang ditemuinya menyatakan jika batasan usia itu memang aturan terbaru dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

“Saya disuruh ke Tsanawiyah atau ke persamaan. Dinas mengatakan anak lebih dari 15 tahun tidak bisa masuk ke SMP negeri. Tadi diminta ke swasta dulu, jika tidak bisa ke persamaan,” ungkapnya.

Menurut Etik, anaknya sudah didaftarkan di salah satu SMP negeri di Kecamatan Wonokerto, namun ditolak dengan alasan batasan umur tersebut. Sedangkan kasus seperti itu tidak hanya dialami dirinya. Namun, ada 10 anak lainnya juga mengalami nasib serupa saat mendaftar di salah satu SMP negeri di Kecamatan Wonokerto tersebut.
“Di SMP itu ada 10 anak, namun yang datang ke sini hanya saya,” katanya.

Anaknya tersebut memang saat kelas 1 dan 2 rewel, sehingga belum bisa membaca dan menulis dan tidak naik kelas. Sehingga saat lulus SD, anaknya ini sudah berusia 15 tahun.

“Saya sedih sekali. Padahal anak saya bersemangat ingin sekolah bersama teman-temannya,” lanjut Etik.

Kasus serupa juga dialami putra kelima dari Basri (53), warga Desa Sidomukti, Kecamatan Karanganyar. Anaknya berinisial AR sudah ditolak tiga SMP dengan alasan usianya sudah 15 tahun. Oleh karena itu, Basri kemarin mencoba mengadu ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan untuk mencari solusi bagi nasib anaknya tersebut.

“Tiga sekolah sudah nolak dengan alasan usianya 15 tahun. Untuk NEM anak saya 21, ndak rendah juga,” ungkapnya.

Dikatakan, AR merupakan anak terakhir. Keempat kakaknya, kata dia, selalu mendapatkan rangking di kelasnya. Namun, untuk anak bontotnya tersebut kondisinya berbeda dengan kakak-kakaknya tersebut, sehingga sempat tidak naik kelas dua kali saat di SD.

“Nelongso Mas. Ibunya saja di rumah hanya bisa nangis melihat anaknya ditolak di SMP. Padahal anak saya sangat bersemangat untuk melanjutkan ke SMP. Masak masih kecil tak suruh kerja saja atau itik-itik (butuh menjahit). Kasihan lah kan semangat sekali ingin sekolah,” katanya.

Sementara Bupati Pekalongan Asip Kholbihi mengakui banyak keluhan dalam penerimaan siswa baru, salah satunya batasan usia 15 tahun tersebut. Bupati menyatakan akan melakukan koordinasi dengan kepala dinas untuk mensikapi persoalan itu. Apalagi, Kabupaten Pekalongan sudah menyepakati untuk zero drop out (DO).

“Kita ini sepakat untuk zero DO, sehingga harus ada program-program yang muaranya untuk memberikan jalan keluar untuk anak-anak yang usianya 15 tahun tapi belum sempat ke SMP. Ini kan regulasinya tidak diperbolehkan, namun nanti kita akan menyiasati dengan kepala dinas. Prinsip orang tua bersabar dulu karena kami akan mengambil kebijakan yang setepat-tepatnya. Kita wajib belajar sembilan tahun ini jangan sampai tertunda, karena sebentar lagi ketika evaluasinya bagus akan kita tingkatkan lagi wajib belajar 12 tahun.” (Yon)

Facebook Comments