Radar Kajen

Ingat Ini, Jangan Percaya Penggandaan Uang

Kompol Joko Watoro

Kompol Joko Watoro

Kapolres Pekalongan AKBP Wawan Kurniawan melalui Waka Polres Pekalongan Kompol Joko Watoro mengimbau kepada seluruh lapisan masyarakat agar tidak tertipu dan percaya kepada orang yang mengaku bisa menggandakan uang. Apalagi lagi aksi tersebut mengatasnamakan agama.

Imbauan itu dikeluarkan setelah ada tiga korban di Kota Santri yang melapor terkait kasus penggandaan uang yang dilakukan warga Ungaran Kabupaten Semarang Tunjung Hariyadi (33). “Memang saat ini banyak pihak yang melakukan upaya-upaya untuk mencari keuntungan sendiri dengan berbagai modus dan motif baik dengan adanya orang yang mengaku bisa melipat gandakan uang itu kita harap untuk tidak dipercaya apalagi tidak tahu siapa dia,” kata Watoro.

Ia menambahkan, sebaikya masyarakat menabungkan uangnya di bank jika ingin uangnya bertambah. “Lebih baik menabung di bank, kan biasanya ada bunganya berati bertambah uangnya, tapi itu tidak bisa sekaligus atau instan dalam jumlah besar,” ujarnya.

Selain itu, Watoro menghimbau, jika ada orang yang mengaku-ngaku dapat melipat gandakan uang dan dalam waktu yang singkat adalah bohong. “Jadi kalo ada orang yang bisa melipat gandakan uang, dolar atau bisa mendatangkan emas dan dalam waktu yang singkat itu bohong,” ucapnya.

Menurutnya, kasus penggandaan uang yang terjadi di Kota Santri akhir-akhir ini mirip seperti kasus Dimas Kanjeng Taat Pribadi asal Jawa Timur, yang mengatasnamakan agama. Padahal pelaku tidak memiliki riwayat pendidikan santri sama sekali. “Dari kasus ini saya imbau masyarakat, apa pun, siapa pun, latar belakang apa pun supaya jangan cepat tergiur, jangan cepat terprovokasi dengan janji-janji. Ini kan sudah sering kali terjadi, pemalsuan uang, penggandaan uang, faktanya tidak pernah ada,” tuturnya.

Untuk memberikan efek jera kepada pelakunya, kata dia, Polres Pekalongan akan mengenakan Pasal 378 KUHP. Ancaman hukumannya maksimal empat tahun penjara. “Mudah-mudahan adanya hal ini menjadi pembelajaran bersama, agar masyarakat tidak percaya dengan irasional, di luar akal sehat, di luar ketentuan umum, tidak sejalan dengan pandangan agama. Jangan ikutilah. Itu penyakit sosial, orang mau cepat kaya ya usaha,” pungkasnya. (yan)

Penulis: Muhammad Hadiyan | Radar Pekalongan
Redaktur: Widodo Lukito

Facebook Comments