Otomotif

Mudah Mengantuk Saat Naik Mobil? Begini Penjelasan Sains

Mungkin banyak dari kita yang gampang mengantuk saat sedang berkendara dengan mobil. Sebenarnya, apa alasannya?

Dalam studi yang terbit di jurnal Ergonomics, Jumat (6/7/2018), terungkap bahwa hal itu disebabkan oleh getaran halus saat mobil sedang melaju.

Ahli menyebut, hanya butuh waktu tak lebih dari 15 menit untuk membuat rasa kantuk itu datang.

“Tak perlu waktu lama untuk merasa mengantuk saat ada di mobil. Kami menemukan, getaran lembut dari kursi mobil dapat meninabobokan otak dan tubuh Anda,” kata salah satu peneliti Stephen Robinson, dilansir Science Alert, Minggu (8/7/2018).

“Studi kami menunjukkan, getaran yang stabil dalam frekuensi rendah dapat membangkitkan rasa kantuk, bahkan bagi mereka yang sehat dan tidak lelah,” imbuhnya.

Untuk membuktikannya, Robinson dan koleganya meminta 15 orang untuk menunggangi simulator mengemudi.

Simulator tersebut ditempatkan di sebuah panggung dan dirancang mirip dengan situasi di jalan dua arah yang monoton, tanpa ada gangguan seperti dalam dunia nyata.

Para peserta diminta mengemudi sebanyak dua kali di simulator dengan kondisi berbeda. Pertama, peserta mengemudi tanpa ada getaran dan kedua disertai getaran lembut dengan frekuensi antara empat sampai tujuh Hz.

Ahli kemudian menghitung variabel detak jantung (HRV) peserta, selagi melakukan sesi yang memakan waktu sampai 60 menit.

HRV merupakan indikator kantuk yang ditunjukkan tubuh dengan mengubah sistem saraf pusat karena rasa lelah.

Monitor HRV menunjukkan, rasa kantuk sudah mulai muncul saat menit ke-15 sejak getaran halus muncul, dan puncaknya ada di menit ke-30. Setelah itu semua peserta terus merasa mengantuk sampai tes selesai.

Para ahli menduga, hal ini terjadi karena otak tersinkronisasi dengan getaran dan memasuki tahapl tidur awal.

Sayangnya, studi ini masih memiliki keterbatasan karena hanya melibatkan 15 peserta dan frekuansi getarannya masih sangat terbatas.

“Kami juga ingin meneliti apakah getaran mobil yang membuat kantuk juga dipengaruhi sejumlah faktor, misalnya usia dan masalah kesehatan seperti apnea tidur,” imbuh rekan peneliti Mohammad Fard dari sekolah teknik di RMIT dilansir dari Medical Daily, Senin (9/7/2018).

Meski getaran lembut membuat mengantuk dan sangat mungkin menimbulkan kecelakaan, namun tidak selamanya getaran saat berkendara buruk.

Robinson berkata, getaran pada frekuensi tertentu justru membuat seseorang lebih waspada dan tetap terjaga.

“Penelitian kami menunjukkan getaran pada beberapa frekuensi justru memiliki efek berlawanan dan membantu membuat orang tetap terjaga,” kata Robinson.

Robinson menilai, dengan mengubah desain kursi mobil mungkin bisa jadi solusi untuk mencegah kecelakaan akibat rasa lelah atau mengantuk.

“Jadi kami akan menguji rentang frekuensi yang lebih luas untuk membantu menciptakan desain kursi mobil yang berpotensi memberi “getaran baik” itu,” ungkapnya.

Tim ini juga berharap ada studi lebih lanjut dengan peserta dan rentang frekuensi yang lebih banyak untuk menguatkan temuannya. (mg2)

Sumber: kompas.com

Facebook Comments