Nasional

Divonis Hukuman Mati, Aman Minta Eksekusi Segera

Divonis Hukuman Mati, Aman Minta Eksekusi Segera*Dua Nama Berpotensi Jadi Pimpinan JAD

JAKARTA – Sekitar satu jam sebelum azan zuhur berkumandang Jumat siang (22/6), Ruang Sidang Utama Prof. H. Oemar Seno Adji di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel) sesak. Saat itu pula, Akhmad Jaini membacakan vonis dihadapan terdakwa kasus terorisme Aman Abdurrahman. Sesuai tuntutan jaksa penuntut umum, Aman dipidana dengan hukuman mati. 

Akhmad sebagai hakim ketua dalam sidang itu sempat tersendat saat membacakan vonis. “Menjatuhkan pidana kepada terdakwa Oman Rochman alias Aman Abdurrahman alias Abu Sulaiman bin Ade Sudarma,” kata dia lantas diam. Kalimat tersebut kemudian dia ulang. “Kami ulangi, menjatuhkan pidana kepada terdakwa Oman Rochman alias Aman Abdurrahman alias Abu Sulaiman bin Ade Sudarma dengan pidana mati,” ujarnya. 

Seperti instruksi yang disampaikan oleh majelis hakim sebelum membacakan vonis tersebut, tidak satu pun bersuara ketika mendengar Aman dihukum mati. Namun, sempat ada ketegangan saat Aman berdiri dari kursi pesakitan dan berbalik badan untuk kemudian bersujud. Sebab, belasan petugas keamanan bersenjata laras panjang langsung bereaksi. Membuat barikade. Mengerumuni Aman. Alhasil awak media kesulitan mengambil gambar. 

Beruntung Akhmad langsung menengahi. Dia meminta petugas keamanan mundur. “Petugas pengamanan silakan menepi,” pinta Akhmad. Begitu ketegangan mereda, pembacaan vonis pun dilanjutkan sampai tuntas. Atas putusan tersebut, Aman melalui penasihat hukumnya memutuskan untuk pikir-pikir lebih dulu sebelum mengambil langkah lanjutan. Namun demikian, kecil kemungkinan Aman menolak putusan dan mengajukan banding.

Keterangan tersebut disampaikan Asrudin Hatjani yang tidak lain adalah penasihat hukum Aman. Menurut dia, Aman tidak pernah mengakui adanya pengadilan di Indonesia. Karena itu, dia menolak mengajukan banding meski divonis mati oleh majelis hakim. “Karena dia tidak mengakui adanya negara, karena dia mengakui adanya khilafah maka dia berlepas diri terhadap (putusan) ini, maka dia menolak (banding),” terang dia.

Aman memang belum menyatakan respons secara langsung atas putusan untuk dirinya. Namun, dalam sidang kemarin dia sempat mengangkat dan menggoyang-goyangkan tangan ke arah penasihat hukum ketika ditanya oleh hakim. Menurut Asuridn, itu merupakan isyarat dari Aman untuk menolak mengajukan banding. “Dia yang menentukan apakah banding atau tidak. Tapi, dari isyaratnya saya lihat dia tidak akan nyatakan banding,” jelasnya.

Sikap berlepas diri atas hukuman mati, kata Asrudin, sama artinya dengan tidak menerima maupun tidak menolak. Namun, dia menegaskan itu bukan sikap tidak pasti dari kliennya. Melainkan sudah menjadi pilihan Aman. “Mau diapa saja silakan,” imbuhnya. Waktu tujuh hari yang diberikan majelis hakim setelah dirinya meminta untuk pikir-pikir dulu bakal dimanfaatkan untuk berkonsultasi. “Secepatnya saya akan bertemu dengan beliau,” kata dia. 

Setelah itu, sambung Asrudin, dia akan menyampaikan keputusan resmi yang diambil oleh kliennya. Mengajukan banding atau tidak, semua bergantung keputusan Aman. Yang sudah pasti sejauh ini, Aman sempat menitipkan pesan untuk segera dieksekusi apabila divonis mati oleh majeles hakim. “Kalau sudah vonis tolong saya diurus secepatnya, dieksekusinya apakah mau pindah atau gimana,” tutur dia menirukan ucapan Aman.

Dalam sidang kemarin, seluruh nota pembelaan yang dibacakan oleh Aman ditolak oleh majelis hakim. “Tidak ditemukan satu pun yang meringankan,” kata majelis hakim. Melalui pertimbangannya, majelis hakim menilai Aman terbukti memerintahkan pengikutnya mebentuk wadah yang bisa menyatukan sejumlah pihak dengan visi dan misi berjihad di Indonesia. Meski berada dibalik jeruji besi, Aman tetap berhubungan dengan para teroris di lapangan.

Akibat perbuatan yang dia lakukan, Aman dinyatakan melanggar pasal 14 juncto pasal 6 Perppu Nomo 1 tahun 2002 yang telah ditetapkan menjadi UU Nomor 15 tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Selain itu, Aman juga dinyatakan telah melanggar pasal 14 juncto pasal 7 dalam perppu yang sudah diubah menjadi UU itu. Muaranya, vonis mati yang dibacakan hakim kemarin.

Sidang vonis Aman turut mendapat antensi dari aparat kepolisian. Mulai Kamis malam (21/6) Polres Metro Jaksel sudah mengerahkan petugas untuk berjaga di sekitar PN Jaksel. Menurut Kapolres Metro Jaksel Kombes Indra Jafar, instansinya sengaja mengambil langkah tersebut guna memastikan sidang berlangsung kondusif. “Proses persidangan mulai dari dari awal sampai hari terakhir ini semuanya berjalan dengan lancar,” imbunya.

Khusus sidang kemarin, tidak kurang 432 personel gabungan Polri dan TNI dikerahkan. Seluruhnya dibagi menjadi empat ring pengamanan. Mulai ring satu di dalam ruang sidang, ring dua di dalam area PN Jaksel, ring tiga di halaman PN Jaksel, dan ring empat di Jalan Ampera Raya di luar PN Jaksel. Akses awak media ke dalam ruang sidang pun dibatasi. Landasannya ketentuan yang dikeluarkan oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).

Menurut Indra, ketentuan tersebut sudah jelas. Karena itu pula, awak media hanya diberi waktu berada di ruang sidang berikut alat perekam suara dan video di awal dan di akhir sidang. Pemeriksaan secara terperinci juga dilakukan di pintu masuk PN Jaksel. “Mohon maaf kepada teman-teman wartawan. Ada hal-hal yang sangat mendasar yang mungkin rekan-rekan tidak mengerti yang harus kami antisipasi,” terang dia.

Indra mengakui, pengamanan sidang kemarin dilakukan secara maksimal. Dia bahkan turut menurunkan satu regu tim penembak jitu untuk mengawasi gerak-gerik setiap orang di sekitar PN Jaksel. “Kami melakukan pengamanan secara maksimal. Memang betul-betul steril. Yang masuk siapa harus kami kenali,” tegasnya. Bahkan, sampai sidang selesai dan Aman kembali digiring ke Mako Brimob, PN Jaksel masih dijaga ketat.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto menuturkan, tidak ingin terlalu banyak menanggapi vonis mati yang dijatuhkan kepada Aman. Lantaran semua itu sudah diserahkan kepada proses hukum yang berjalan di meja pengadilan. “Tidak perlu ditanggapi itu proses hukum kok ditangapi,” ujar Wiranto di kantor Kemenko Polhukam kemarin.

Tapi, dia memastikan bahwa pemerintah tidak pernah mengendurkan operasi penanggulangan terorisme. Aparat terus memasang kewaspadaan cukup tinggi untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya tindakan teror. “Tidak ada hari ini kita lemah, besok kita perkuat, tidak ada. Sepanjang waktu (diperkuat, Red),” imbuh mantan Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indoneisia (ABRI) itu.

Salah satu bentuk keseriusan pemerintah menanggulangi dan menangani aksi terorisme adalah dengan penangkapan-penangkapan orang-orang yang terindikasi terlibat jaringan terorisme. Seperti rangkaian penangkapan setelah terjadi aksi bom di Surabaya. Penangkapan tersebut selain untuk membuat aman masyarakat juga untuk menjamin proses atau agenda pemerintahan yang akan berjalan tidak terganggu.

“Karena itu, kalaupun sebelum pemilu atau bahkan sebelum Hari Raya Idul Fitri, sebelum lebaran sudah ada penangkapan-penangkapan terhadap tokoh-tokoh teroris, agen-agen teroris, itu merupakan bagian dari usaha aparat kepolisian atau keamanan untuk menenangkan masyarakat,” beber pejabat yang juga dipercaya sebagai ketua umum Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) tersebut.

Terkait vonis mati terhadap Aman, pengamat terorisme Al Chaidar menyampaikan bahwa putusan yang dibacakan oleh majelis hakim kemarin akan banyak berpengaruh terhadap Jamaah Anshrout Daulah atau lebih dikenal dengan sebutan JAD. “Karena untuk mencari pengganti Aman Abdurrahman itu agak susah ya,” terang dia ketika dihubungi Jawa Pos kemarin siang.

Selama ini, Aman memang menjadi jujukan anggota JAD di tanah air. Sebagai pimpinan, dia punya pengaruh kuat. Menurut Al Chaidar, sampai saat ini belum ada sosok yang mampu menggantikan Aman. Namun, ada dua nama yang dia sebut berpotensi menggantikan aman. Yakni orang yang disebut menjadi dalang dalam aksi teror di Surabaya, Khalid Abu Bakar. Satu nama lainnya adalah Zainal Anshori. Keduanya pernah belajar di Mindanao, Filipina.

Serupa dengan Aman, kata Al Chaidar, Zainal Anshori punya pandangan negatif terhadap aparat kepolisian. Dia merupakan salah seorang pentolan di JAD yang punya kemampuan untuk merekrut orang, kemudian mendoktrin, dan menyuruh orang bunuh diri. Sementara itu, Khalid Abu Bakar yang masih buron mampu membaca dan menyalurkan kebencian pengikutnya. “Misalnya ada partai sekuler, ya akan diserang partai sekuler itu,” ucap dia.

Untuk sementara, Al Chaidar mengungkapkan bahwa kekuatan JAD bakal berkurang. Bahkan tidak menutup kemungkinan menjadi berantakan apabila pengganti Aman dinilai tidak tepat. Tapi, pemerintah dan aparat tetap harus waspada. Sebab, sel, kelompok, maupun jaringan teroris itu masih ada. “Ada kemungkinan aksi-aksi berikutnya dalam  bentuk serangan-serangan,” imbuhnya.

Berdasar data dan informasi yang dimiliki oleh Al Chaidar, Aman menjadi jujukan anggota JAD lantaran kerap berada dibalik aksi teror yang dilakukan oleh kelompok tersebut beberapa tahun belakangan. Mulai teror bom di Jalan M. H. Thamrin, Kampung Melayu, sampai serangan terhadap Gereja Oikumen di Samarinda. “Itu memang kuat pengaruh dia dalam melakukan doktrin kepada orang-orang untuk melakukan serangan,” jelasnya.

Karena itu, masih kata Al Chaidar, sulit mencari pengganti Aman. Menurut dia, sejauh ini belum ada pergerakan signifikan merespons vonis mati yang dibacakan oleh majelis hakim PN Jaksel kemarin. Tapi, bukan tidak mungkin Khalid Abu Bakar dan Zainal Anshori sudah mendengar kabar tersebut. “Setahu saya, mereka pasti menerima (putusan) itu dengan hal yang biasa saja. Bahkan, ada yang bersyukur mereka karena (Aman) syahid,” imbuhnya. (jun/syn/wib)

Facebook Comments