Features

Kisah Pedagang BBM Eceran Tunanetra, Bedakan Lembar Uang dengan Rabaan

Kebutaan tak menghalangi ayah satu anak ini mencari nafkah. Nistam Juhansyah (66) mengais rejeki dengan menjual BBM eceran. Transaksi jual belinya mengandalkan kepercayaan. TIA LALITA NOVITRI

Kisah Pedagang BBM Eceran Tunanetra

TIA LALITA NOVITRI / RADAR BANJARMASIN

Motor yang saya kendarai mogok, Selasa (19/6) lalu. Perjalanan terhenti, tepat di depan Kantor PDAM Bandarmasih Km 3. Motor pun didorong sambil berjalan kaki.

500 meter kemudian baru menemukan penjual bensin. Tepatnya di depan Jalan Kenanga, Kelurahan Kebun Bunga, Km 3,5.

Penjualnya segera beranjak, begitu mendengar saya mendekat. Yang tidak beres ada pada caranya berjalan. Langkah kakinya bak meraba. Memastikan pijakannya tak salah. Tangannya memegang tiang gerbang jalan.

Belum lagi caranya mengambil botol bensin. Ia kembali meraba. Corong dan botol itu ia serahkan kepada saya. Begitu pula dengan pembeli lainnya.

Benar saja, Nistam mengalami tunanetra. Mata kanannya tak berfungsi sejak tahun 1955. Akibat tak sengaja tertetes obat merah. Cairan penyembuh luka luar. Sedangkan yang kiri terkena katarak. Tepatnya lima tahun belakangan, kedua penglihatan lelaki itu betul-betul tak berfungsi.

Yang unik adalah ketika bayar-membayar. Dua liter bensin yang saya beli seharga Rp16 ribu. Jumlah uang kembalian yang ia kasih tak meleset sedikitpun. Nistam mengembalikan lembaran uang berjumlah Rp34 ribu dari total Rp50 ribu.

Lima tahun menyandang tunanetra, jadi waktu yang cukup bagi Nistam membedakan lembaran uang. Mengandalkan indra peraba, uang dapat ia bedakan dari tekstur kertasnya.

Sayangnya, ada saja oknum yang memanfaatkan keadaan Nistam. Tak jarang para pembeli membohongi. Dengan menyerahkan uang Rp2.000 yang mereka sebut Rp50 ribu atau lebih. Membedakan uang perlu waktu sejenak. Yang jadi kendala adalah ketika pembeli tergesa-gesa.

“Kalau dia cepat-cepat, saya langsung memberikan kembalian sesuai berapa uang yang dia sebut. Tau-taunya pas sudah pergi, duitnya bukan Rp50 ribu, ternyata lembar Rp2.000 yang masih baru,” tuturnya.

Muram. Hanya gelap yang terlihat di masa tuanya. Sementara tanggung jawab mesti diemban. Menghidupi istri dan putra semata wayangnya. “Syukur masih ada jalan buat usaha. Bisa buat makan kami sekeluarga,” ucapnya.

Berjualan bensin eceran sudah lama digeluti warga Gang Cempaka Putih, Kebun Bunga, Banjarmasin Timur itu. Tepatnya sejak tahun 1970, alias 48 tahun.

Nistam menuturkan kala itu bensin masih dihargai Rp35 per liter. Jalan Achmad Yani pun tak selebar sekarang. Cukup dilalui dua mobil berselisihan saja. Kalaupun ada mobil besar, seperti bus atau truk pelabuhan, pengendara harus menepi terlebih dulu.

Di tepian jalan itu, ada sungai besar. Ramai dilalui kelotok ataupun sampan biasa. “Lebih banyak yang naik sampan daripada yang naik motor atau mobil,” ungkapnya.

Saat itu, kedai BBM-nya kerap disinggahi para sopir truk dan taksi. Dalam sehari, 200-300 liter bensin terjual. Ada pula kendaraan pribadi. Seperti mobil sedan Chevrolet, motor Yamaha RX125, Vespa, dan sebagainya. “Kala itu pedagang eceran cuma 4 saja. SPBU pun cuma ada di Kamboja dan Pal 1,” kenang Nistam.

Zaman makin maju, kendaraan kian bertambah. Begitu pula dengan saingan usaha. SPBU di mana-mana, pedagang eceran pun ada hampir di setiap sisi jalan.

Pembelian menurun drastis. Sekarang setidaknya hanya 30-40 liter laku terjual dalam sehari. Nistam hanya mengambil laba Rp1.000 tiap liter.

 

“30 ribuan sehari. Belum mencukupi, namun setidaknya masih ada pemasukan,” ujarnya.

Syukur tak henti-hentinya keluar dari laki-laki kelahiran Banjarmasin, 1952 itu. Ia tak pernah minta dikasihani. Namun semangatnya menggerakkan hati hampir setiap pembeli yang tulus.

Dalam sehari ada saja yang memberinya uang lebih. Dari yang Rp1.000 hingga Rp100 ribu. Ada pula yang tak tega memungut uang kembalian.

Sesekali kedai Nistam disinggahi Satpol PP yang ingin merapikan bahu jalan. Beruntung letaknya masih jauh dari tepian aspal, sehingga pengendara tak terganggu. Kondisi fisiknya pun membuat para petugas menimbang rasa. Hingga kedai itu masih diizinkan berdiri sampai sekarang.

Usai salat subuh, Nistam pergi berjualan. Dengan berjalan kaki 15 menit, ia membawa bensinnya menggunakan tas jinjing. Menuju gerbang jalan Kenanga. Kedai itu buka hingga menjelang Isya. Untuk membeli bensin partaian dari SPBU, Nistam dibantu sang putra. Jika anaknya sibuk, Nistam mengupah kerabatnya.

Tak jelas kapan ia akan berhenti. Selagi fisiknya sanggup, Nistam akan terus menggeluti usaha itu. “Jalani dulu sampai mana fisik tidak sanggup,” tuntasnya.

Kerabat seperjuangannya, Icut (58) adalah seorang penambal ban. Menjajakan jasa di tempat yang sama dengan Nistam. Menurut Icut, selain karena semangatnya, Nistam dikenal sebagai orang yang humoris. Ia menebak, masa muda Nistam penuh dengan petualangan. “Kalau sudah nyeletuk, kita sering kali ketawa kalau lagi ramai ngumpul di sini. Nistam juga banyak pengalaman. Pernah hidup di Jawa Barat, hingga ke puluhan desa pedalaman di Kalteng,” ungkapnya.(ma/dye)

Facebook Comments