Radar Kendal

Warga Berebut Gunungan Hasil Bumi

Warga Berebut Gunungan Hasil Bumi

BEREBUT – Ratusan warga berebut gunungan hasil bumi tradisi syawalan merti desa dan kirab budaya Nyi Pandansari atau Nyai Dapu.
NUR KHOLID MS / RADAR PEKALONGAN

*Tradisi Syawalan Merti Desa Boja

BOJA – Ratusan warga mengikuti tradisi syawalan merti desa dan kirab budaya Nyi Pandansari atau Nyai Dapu yang digelar Pemerintahan Desa Boja, Kecamatan Bojo, Kamis (21/6) sore.

Dalam kirab tradisi budaya, gunungan hasil bumi diarak keliling kota Boja. Kirab budaya Nyi Pandansari ini sebagai bentuk penghormatan Nyi Pandansari yang merupakan tokoh penyebar agama Islam di wilayah Boja Kendal. Sementara warga yang sudah menunggu di depan komplek makam Sedapu langsung berebut gunungan hasil bumi. Mereka saling dorong demi mendapatkan hasil bumi yang dihadarap mendapatkan berkah.

Panatauan Radar, gunungan hasil bumi dikirab keliling kota Boja. Iring-iringan kirab budaya gunungan hasil bumi dikawal pasukan pengawal Nyi Pandansari atau Nyi Dapu. Makna dari kirab gunungan hasil bumi sebagai bentuk semangat warga untuk saling bergotong royong. Kirab sendiri terdiri dari iring-iringan Nyai Pandansari yang menunggang kuda dan diikuti barisan pengawal berpakaian hitam dan putih serta prajurit perempuan.

Nyai Pandasari yang juga adik kandung Ki Ageng Pandanaran ini masih melekat di relung hati masyarakat Boja. Kirab menempuh jarak lima kilometer ini membawa serta gunungan hasil bumi yang menggambarkan rasa syukur masyarakat boja yang sudah diberi rejeki oleh sang kuasa. Ratusan warga sendiri menunggu kedatangan gunungan hasil bumi di depan komplek makam. Namun belum sampai di depan komplek makam, warga sudah mulai berebut gunungan hasil bumi meski sudah dihalau panitia. Warga baik muda maupun tua saling dorong dan rela berdesakan untuk bisa mendapatkan hasil bumi yang diarak dalam tradisi syawalan dan merti Desa Boja. Mereka hanya ingin mendapatkan berkah dari gunungan hasil bumi yang menggambarkan kemakmuran dan kesejahteraan. Panitia sendiri kewalahan untuk mencegah warga untuk tidak berebut gunungan hasil bumi yang terdiri sayuran serta buah-buahan.

Salah satu warga yang ikut kirab, Sutini, mengaku senang meski harus berdesakan dan saling berebut gunungan hasil bumi walau sedikit. “Hasil bumi ini akan saya jadikan sayur dan disantap bersama keluarga. Harapan kami, kesejahteraan bisa melimpah dan mendapat berkah banyak,” kata Sutini warga yang ikut kirab.

Sementara Kades Boja, Slamet Riyadi, mengatakan, kirab ini sebagai bentuk tradisi tahunan masyarakat boja untuk menghormati leluhur penyebar agama Islam di wilayah ini. “Selain itu juga sedekah bumi dengan mengarak gunungan hasil bumi,” kata dia.

Sejumlah tokoh agama dan masyrakat Boja sendiri usai mengikuti kirab menggelar tahlil di makam Nyi Dapu. Tradisi syawalan di Boja ini merupakan agenda tahunan dan menjadi wisata religi di Kabupaten Kendal. (nur)

Penulis: Nur Kholid Ms | Radar Pekalongan
Redaktur: Widodo Lukito

Facebook Comments