Radar Batang

Imbas Tol, Omset Pedagang Turun Drastis

BATANG – Beroperasinya tol Batang-Semarang secara fungsional pada arus mudik maupun arus balik pada lebaran tahun ini sangat terasa dampaknya bagi lalu lintas kendaraan di jalur pantura. Karena volume jumlah kendaraan menurun tajam, sejumlah pedagang yang biasa ngalap rejeki lebaran dengan berjualan di pinggir pantura pun ikut terkena imbasnya.

Pantauan Radar sejak gelombang arus mudik lalu, peningkatan arus lalu lintas di pantura tercatat tak signifikan. Ini berbeda dengan kondisi yang sama di tahun-tahun sebelumnya, volume kendaraan terpantau menurun drastic karena sebagian besar memilih menggunakan jalur tol.

Tak hanya itu, jumlah pemudik yang menggunakan roda dua pun menurun drastis. Tak heran, sejumlah pedagang yang membuka lapak di sisi utara jalur pantura pun sepi pembeli. Bahkan, ada pedagang yang akhirnya mengemasi barang dagangannya, meski arus mudik masih berlangsung.

“Jangankan mobil, motor saja yang mampir sedikit, mas. Padahal, lebaran tahun kemari masih lumayan ramai. Ini turun drastis,” tutur salah satu pedagang minuman di pantura Jl Jenderal Sudirman Kota Batang.

Kondisi tak jauh berbeda juga terjadi selama arus balik lebaran yang mulai ramai. Meski jumlah kendaraan yang melintas di pantura tampak lebih tinggi dari arus mudik, tetapi pedagang mengaku belum mendapatkan imbas positif.

“Wah, nggak arus mudik nggak arus balik, sama sepinya, mas. Entah yang di utara jalan apa yang selatan juga nasibnya sama. Lebaran tahun ini memang sepi,” kata seorang pemilik warung kopi di bilan gan pantura kandeman, Selasa (19/6).

Memang benar, warung yang berderet di selatan pantura depan sebuah pabrik garmen itu sangat lengang. Hanya ada satu dua mobil yang mampir. Menurut si pemilik warung, sejak Minggu kemarin, sejak pagi sampai petang, dirinya hanya melayani dua atau tiga pengendara yang ingin ngopi atau makan mie.

“Omsetnya turun drastis, mas. Lebaran tahun kemarin, minimal saya dapat Rp 500 ribu perhari, itupun sampai petang, malamnya milih istirahat. Tapi sekarang, omset Rp 100 ribu saja susahnya minta ampun,” terangnya.

Tahun lalu, dalam kondisi ramai, lanjut dia, warungnya bahkan bisa memperoleh omset Rp 1 juta sampai rp 1,5 juta perhari. Sementara kemarin, sejak pagi sampai maghrib, tak lebih dari 3 pengendara yang mampir.

“Ya sejak kendaraan masuk tol, pantura tambah sepi. Apalagi, selama beberapa hari kan truk tidak diperbolehkan lewat, jadi pembeli minim sekali,” ucap perempuan paruh baya itu. (sef)

Facebook Comments